
"Hufh." Larisa mengembuskan napas hangat ke udara saat berdiri di tengah-tengah padang pasir dingin.
Luar biasa. Ini sudah bukan level dingin saat hujan turun di pagi hari. Ini sudah masuk level dinginnya musim salju. Larisa baru merasakan secara langsung kalau ternyata panas terik di siang hari pada gurun akan bertolak belakang dengan dingin saat malam harinya.
"Tidak ada siapa pun dalam radius lima ratus meter dari sini," ucap Sakra.
Sakra berjalan mendekati Larisa sambil berjuang melawan kencangnya angin ketika berjalan.
"Larisa, kurasa pengamatan malam ini sia-sia. Tempat ini kosong dan Demetrio tidak mungkin menduga sesuatu yang kamu lakukan."
Tidak. Itu salah. Demetrio itu jauh lebih cerdas dari apa yang Sakra harapkan. Lagipula kalau tidak, mustahil orang itu bahkan bisa memerintahkan kakeknya untuk diam saja saat pertunangan mereka dibatalkan dua tahun lalu.
Padahal perjodohan itu adalah rencana para orang tua.
Meremehkan Demetrio dengan pikiran 'dia tidak akan menduganya' adalah sebuah kesalahan besar. Akan lebih baik kalau berpikir Demetrio tahu segalanya.
"Pasirnya pun ringan." Larisa berjongkok memegang pasir di dekat kakinya, untuk lebih mengamati. "Sepertinya mustahil memakai senjata kaliber besar di sini. Pasir mungkin akan tersapu angin."
"Bagaimana kalau mengganti medan?"
Sakra memeluk dirinya sendiri kedinginan. Suhu di sekitaran mereka nyaris menyentuh angka nol derajat. Ini terlalu dingin sampai rasanya ingin membeku.
__ADS_1
"Kurasa daripada membunuh dia dengan senjata, akan lebih bagus membiarkan dia membeku di sini," gerutu Sakra pelan.
Namun Larisa mengabaikan gerutuannya. "Tidak. Aku tidak mau mengganti medan."
"Ayolah."
"Melakukan pembunuhan di tempat-tempat yang ramai seperti kota atau hutan cuma akan memberi banyak peluang bukti. Justru padang pasir ini pilihan tepat."
"Tapi senjata saja tidak bisa ditanamkan di bawah. Lalu siang hari, suhu di tempat ini sangat panas sampai rasanya aku terbakar."
"Karena itulah aku perlu memastikan keadaan, bodoh." Larisa berdiri, menatap sekitarannya yang remang-remang kecuali hanya dibantu cahaya bulan.
Tidak bisa juga ia menyembunyikan seseorang sebagai penembak jitu karena udara terlalu panas sementara tidak ada pepohonan.
"Konfrontasi langsung adalah pilihan terakhir," gumam Larisa pada dirinya sendiri.
Akan tetapi, Sakra dengar. "Kamu gila? Kamu mau memberi dia bukti kalau kamu yang membunuhnya? Kalau dia tidak mati, dia bisa menghancurkan kamu dengan buktinya itu."
"Aku tidak bicara tentang kita melawan langsung."
"Lalu?"
__ADS_1
Larisa tersenyum kecil. Sejenak Larisa berpaling ke arah penginapan kecilnya menempat. Tidak ada sinyal apa pun dari Mia, jadi seharusnya Demetrio tidak terbangun.
"Semua kota pasti memiliki dunia malam yang berbeda dari dunia di siang hari," ujar Kalista dengan seringai.
Larisa berjalan menjauh dari arah penginapan. "Ayo cari tikus yang hanya hidup di malam hari."
Pusat informasi rahasia yang mungkin bisa dibeli. Entah itu pusat informasi kecil ataukah tidak terpercaya, Larisa rasa setidaknya ada yang bisa didapatkan dari sana.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Mencari tikus untuk jadi kambing hitam."
"Hah?"
Jika Larisa memulai aksi percobaan pembunuhan itu, Demetrio pasti akan langsung tahu bahwa Larisa adalah pelakunya.
Selama tidak ada bukti, orang itu tidak akan bisa melakukan apa-apa kecuali tertawa kecil menikmati permainan Larisa.
Karena itu, sekarang mereka butuh kambing hitam. Seseorang yang harus menjadi pihak penyerang sekaligus pihak yang bertanggung jawab atas segala-galanya.
*
__ADS_1