Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
Kamu Tergoda Padaku?


__ADS_3

Demetrio menyukai Larisa yang sekarang. Larisa yang berani, pemberontak, dan menatap Demetrio seolah-olah Demetrio adalah musuh terbesar dalam hidupnya.


Itu adalah hal yang menyenangkan.


Tapi bukankah seharusnya dia tahu bahwa dia memiliki batas? Dia seharusnya tahu. Dia seharusnya mengerti bahwa Demetrio telah memberinya tempat bermain jadi seharusnya dia tetap bermain di tempat itu, bukan keluar dari batasannya.


"Tentu saja kamu melakukannya agar aku marah," ucap Demetrio yang hanya bisa didengar oleh dirinya. "Tapi bukankah ada batas membuatku marah, Larisa?"


Dia tidak peduli pada batasan, kah? Memang begitulah dia sekarang. Dia yang tidak membosankan.


"Kalau begitu aku perlu menunjukkan batasan yang memaksamu peduli."


Demetrio memejamkan mata ketika Ayudia mendekat mengikuti isyaratnya.


"Kirim orang pada istriku," titah Demetrio lemah, seolah-olah dia sedang lelah. "Aku tidak masalah dia terluka, asal bukan wajahnya."


Demetrio berniat menyimpan balasan soal lengannya nanti, dengan sedikit keringanan karena dia sudah mengaku kalah. Tapi ternyata tidak, jadi tidak masalah, kan?


Mereka bermain adil.


"Bunuh pria yang bersamanya."

__ADS_1


"Dimengerti, Tuan Muda."


*


Larisa tertawa terbahak-bahak saat sejumlah orang tiba-tiba menghentikan mobil mereka di jalanan sepi.


Ia tahu itu. Sudah ia duga akan begini.


Jadi benar begitu. Demetrio, dia tidak mencintai Larisa namun dia memiliki perasaan yang sama seperti cinta. Dia ingin Larisa memujanya, hanya menyembahnya dan setia padanya. Dia menjadi sangat lembut jika Larisa memelas namun menjadi sangat brutal jika Larisa memberontak.


"Mereka memegang pistol," kata Bilal dengan nada terdesak. "Panggil orang-orangmu, Nyonya. Menghadapi mereka seperti ini hanya akan merugikan kita."


"Kamu gila?!" Jelas saja Bilal menolak. "Dengar, Nyonya, aku tahu kamus seorang feminis tapi di lingkunganku, meninggalkan wanita di tempat berbahaya sama artinya seperti membuang harga diriku."


"Bilal, ini bukan soal harga diri. Mereka pasti membunuhmu dan tidak denganku. Jadi lebih baik sekarang—"


"Aku muak dengan perintahmu jadi tidak!" Bilal mendorong Larisa menunduk, sementara dia mengorek-ngorek sesuatu di bawah kursi berharap dia mendapatkan sesuatu. "Hah, aku benci wanita modern. Mereka selalu menyusahkan, berteriak tentang kekuatan mereka. Tidak bisakah kamu diam dan biarkan dunia menjadi damai?!"


Larisa cengo sesaat.


Tapi entah kenapa ia justru tertawa mendengar omelan Bilal.

__ADS_1


"Bilal, kamu tergoda padaku?"


"Ya jadi bisakah kamu diam?!" bentak Bilal yang kesal justru mendapat kunci F dari bawah kursi. Kenapa di mobil ini tidak ada pistol untuk pertahanan diri?!


Walau sesaat kemudian dia membeku, tersadar akan ucapannya sendiri.


"Ma-maksudku, aku tidak—aku hanya—"


"Aku tidak keberatan jika kamu tergoda padaku." Larisa tersenyum. "Tapi kamu harus ingat bahwa aku akan memanfaatkan perasaanmu padaku, sebanyak yang aku inginkan."


Hanya sesaat setelah itu, semburan asap tiba-tiba mengarah pada mereka. Larisa menarik pintu terbuka sambil tangannya mendorong Bilal tetap di sana, lalu menutup pintu secara paksa.


Larisa bisa mendengar Bilal mengumpat keras namun mobil itu bergerak menjauh, membawa angin yang memudarkan asap.


"Kerja bagus, Sakra." Larisa meregangkan badannya, siap untuk melawan. "Sekarang giliranku, kan?"


Dari kejauhan di mana Sakra mengawasi semuanya lewat drone, pria itu berdecak marah pada dirinya sendiri.


Sakra bisa melihat Larisa tercekik setelah dia melawan beberapa orang. Itu menyebalkan karena setelah semuanya, Larisa melakukan semua ini, hanya demi mendapatkan 'perhatian' Demetrio.


*

__ADS_1


__ADS_2