
Lembaran foto yang bertumpuk terlempar mengenai pipi Larisa sebelum jatuh begitu saja ke meja.
"Apa yang kamu perbuat?!" geram Ibu dengan nada tertahan, sangat amat marah dan murka tapi juga tak ingin sampai seseorang mendengar itu di kediaman ini. "Kamu baru kembali dari bulan madu lalu mendadak suamimu punya istri kedua. Luar biasa, Larisa. Seperti biasa kamu selalu mengacau."
Ya, seperti biasa dia mengatakan 'selalu' pada pujian dan hinaan. Jika Larisa berbuat hal bagus, maka seketika itu menjadi kalimat 'seperti biasa kamu selalu membanggakan' dan jika buruk, maka 'seperti biasa kamu tidak berguna'.
Ini adalah sesuatu yang diluar perkiraan Larisa jadi sedikitpun ia tak punya persiapan. Dan meskipun dirinya sangat mau menghancurkan keluarganya, Larisa tidak bisa jika Demetrio tidak dalam kendalinya.
"Aku juga tidak ingin semua ini terjadi, Bu," balas Larisa setelah lama diam.
Serta menenangkan kejengkelan karena ia malah dilempar lembaran foto perselingkuhan resmi Demetrio.
"Demetrio melakukannya tiba-tiba."
"Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba terjadi! Kamu pasti melakukan sesuatu hingga Demetrio marah!"
Itu benar. Tapi mustahil Larisa mengakui apa kesalahannya.
"Aku tidak tahu apa yang membuat dia marah," jawab Larisa cuek. "Lagipula aku—"
Plak!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di pipo Larisa, membungkam mulutnya yang ingin berbicara.
"Apa kamu bahkan tahu apa yang terjadi?!" bentak Ibu, tak ingin mendengar apa pun dari Larisa. "Jika sampai Demetrio menceraikan kamu sekarang, hanya sesaat setelah kalian kembali dari bulan madu, itu berarti kamu mengumumkan pada semua orang bahwa menikah denganmu adalah neraka! Semua orang akan berbicara tentang kita dan itu bisa menghancurkan segalanya!"
Larisa membuka mulutnya, demi Tuhan sangat ingin membalas.
"Aku sudah hancur, Ibu."
Itu yang Larisa mau katakan.
"Aku sudah hancur dua tahun lalu. Aku berpasrah diri pada perjodohan kalian dan bahkan tidak melakukan apa-apa untuk diriku karena aku harus selalu menjaga perasaan Demetrio. Aku bahkan berada dalam perasaan pasrah di mana aku tidak akan marah ataupun kecewa jika Demetrio tidak tertarik padaku. Dulu aku bahkan sering berpikir tidak masalah Demetrio berselingkuh diam-diam karena aku tahu kami tidak bisa saling mencintai."
"Tapi pria sialan itu mengacaukannya. Pria sialan yang sangat Ibu sembah itu membuangku tanpa alasan. Tanpa alasan sama sekali dan kemudian mengajakku menikah pun tanpa alasan lagi. Aku sudah hancur jadi kenapa aku harus memikirkan kehancuran kalian yang tidak berpikir tentang aku sedikitpun?"
"Itu jelas tugasmu!" tekan Ibu. "Pastikan Demetrio memaafkan kamu dan berhenti dengan rencana bodoh menikah lagi itu! Dengar, Larisa? Kali ini lakukan sesuatu!"
Setelah menekan perintahnya dan mungkin perintau Paman, Ibu beranjak pergi begitu saja, pulang menenteng tas Gucci keluaran terbarunya.
Sakra seketika masuk, mendatangi Larisa.
"Larisa."
__ADS_1
"Dia tidak akan bisa membeli tas asli seperti itu jika aku tidak berusaha keras," gumam Larisa. "Ya, aku tidak baik-baik saja jika kamu bertanya begitu."
"Lakukan sesuatu pada hal itu." Sakra mengulurkan tangan ke wajah Larisa untuk melihat bekas tamparannya. "Kamu sudah menjadi Nyonya Lawrence. Entah apa yang terjadi besok, setidaknya lakukan sesuatu pada keluarga sialanmu itu hari ini."
Larisa mendongak, lalu menggeleng. "Kamu suka rendang?"
"Apa?"
"Aku suka rendang. Rasanya enak dan sulit dilupakan." Larisa tersenyum, beranjak dari kursi, menepuk lengan Sakra. "Butuh waktu berjam-jam membuat rendang agar rasanya enak. Itu tidak bisa dibuat dalam sekejap mata."
Sakra menatap punggung wanita yang berlalu itu. Tentu Sakra paham maksud Larisa bukan rendang. Dia berkata bahwa mereka harus bersabar karena jauh lebih menyenangkan membalas mereka nanti.
"Aku lebih suka membeli rendang," balas Sakra, menghentikan langkah Larisa. "Aku benci memasak sendiri, jujur saja, Nyonya. Jadi aku 'membelinya'."
Larisa menoleh, tersenyum dengan telunjuk di depan bibirnya.
"Aku juga membelinya," bisik wanita itu. "Tapi rendang yang kupesan tetap harus dimasak oleh juru masaknya. Kamu mengerti, Sayangku?"
Sakra ikut tersenyum. "Apa boleh buat, kalau begitu."
*
__ADS_1
.