
"Aku senang tidak menghabiskan uang untuk hal tidak berguna." Demetrio menarik dasi dari kerah lehernya.
Karena sudah tidak ada siapa pun kecuali asisten pribadinya, Demetrio tidak merasa harus memasang senyum atau seraut wajah palsu.
Pria itu berdiri di depan cermin memandangi wajahnya yang nampak bosan sehabis melangsungkan acara pernikahannya sendiri.
Kecuali beberapa tamu menarik juga kejadian kecil tadi, sejujurnya semua membosankan.
"Tuan Muda, Anda ingin mengenakan apa ke kamar pengantin Anda?"
Dalam tradisi keluarga Lawrence, biasanya pasangan yang baru menikah disediakan secara khusus kamar pengantin yang bukan kamar pribadi salah satu mempelai.
Tempat itu pastinya dihias agar terlihat seperti kamar pengantin pada umumnya, tempat romantis untuk menikmati hangat dekapan tubuh satu sama lain.
"Aku tidak sedang memikirkan itu, sayang sekali." Demetrio cuma duduk menegak alkohol di dekatnya. "Lagipula tidak menarik. Kalau hanya persoalan mendatangi wanita untuk kumasuki, denganmu juga bisa. Lantas apa bedanya istriku denganmu, hm?"
Asisten wanita itu menghela napas, sudah terbiasa pada sifat tuannya. "Kalau begitu saya akan memberitahu Nyonya. Beliau mungkin menanyakan Anda."
"Nyonya siapa?"
Walau sudah tahu maksudnya adalah Mama, Demetrio masih saja bermain-main. Tapi itu juga tidak berlanjut. Demetrio mengibaskan tangan sebagai isyarat asistennya bisa pergi, karena sekarang waktunya menyendiri dan istirahat.
Demetrio menghabiskan waktu berendam tanpa memikirkan apa-apa lagi, terpejam menikmati iraman musik dari speaker yang terpasang di kamar mandinya.
Tapi ketika semua itu sudah terasa sangat nikmat untuk dirasakan, mendadak pintu kamar mandi diketuk.
"Aku sudah bilang ingin istirahat."
Pintu justru terbuka hingga Demetrio langsung melirik tajam. Pikirnya itu sang asisten, namun mendadak Demetrio terdiam menyaksikan Larisa muncul bersama nampan makanan.
Tatapan Demetrio jatuh ke tubuh perempuan itu. Dress tipis putih keabuan yang dia pakai tampak mengilat licin, kontras dengan kulitnya yang putih nampak dari sela-sela kumono berwarna senada.
__ADS_1
Biarpun sebenarnya Demetrio kesal diganggu, pria itu tersenyum.
"Aku tidak menduga kamu kurang sabar dengan malam pertama, Nyonya Muda-ku."
Larisa berjalan mendekat. Meletakkan nampan di tepi kolam tempat Demetrio berendam sebelum dia ikut duduk di sisi yang lain.
Nampaknya dia sedang sengaja memamerkan sebuah belahan dan mulus kulit pahanya.
"Itu tidak benar," sangkal Larisa ketika justru nampak jelas dia sedang merayu. "Aku cuma mengkhawatirkan suamiku yang kelelahan. Jadi aku membawakan sup hangat."
"Baik sekali."
"Aku tidak pernah berbuat buruk, sayangnya."
Demetrio tertawa. Sebenarnya itu tidak terlalu lucu dan tidak menarik. Demetrio masih merasa mau istirahat dan tidak sedang berminat melihat sekalipun Larisa pamer belahan ini itu.
Tapi yah, nampaknya ada sesuatu yang membuat dia datang. Mari dengarkan itu sebentar.
Larisa tersenyum. "Tidak, terima kasih. Aku sudah bersiap tidur."
"Tidur, huh?" Demetrio menopang kepalanya ke samping. Tak canggung menatap Larisa sebagaimana perempuan itu tak merasa canggung menatap Demetrio sedang mandi.
Tentu saja, Demetrio tidak berbusana dalam rendaman air ini.
"Kalau begitu, sebelum kita 'tidur' bagaimana kalau kamu menceritakan sesuatu dulu? Aku cukup penasaran dengan apa yang kamu pikirkan."
Larisa tampak menyeringai. Mendadak gadis itu bergeser ke tepi, persis di sebelah Demetrio, mengulurkan tangan ke lehernya secara lembut.
Dia membelai kulit tengkuk Demetrio dan perlahan-lahan naik ke pipinya.
"Aku ...." Larisa menunduk, mendekatkan wajahnya hingga nyaris bibir mereka bersentuhan.
__ADS_1
Kilat matanya menjadi fokus Demetrio. Menyadari bahkan itu bukanlah binar mata yang biasa.
Dan benar. Di antara embusan napas mereka yang bertukar, Larisa melanjutkan bisikannya.
"Aku baru menyadari bahwa," Larisa tersenyum, "ternyata kamu juga membosankan."
Demetrio sedikit tersentak.
"Aku punya beberapa rencana untuk membatalkan malam pertama, tapi ternyata kamu sendiri tidak tertarik. Itu cukup membantuku."
Perempuan itu tiba-tiba beranjak, menatap dingin pada Demetrio.
"Karena kita sama-sama bosan, bagaimana kalau bermain, Demetrio? Di antara kita, orang yang pertama mengakui kekalahan harus jadi budak pemenangnya. Seumur hidup."
Sekilas, Demetrio memang tercengang. Tak menduga kalau Larisa akan mengatakan itu.
Tapi ... selanjutnya dia menyeringai lebar.
Heh. Jadi sekarang dia mau mengajak Demetrio berpura-pura bermain taruhan bodoh?
Saking bodohnya ini malah terdengar menarik.
"Aku tidak tertarik pada perbudakan." Demetrio beranjak. Menarik handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya sebelum berjalan mendekati Larisa. "Bagaimana kalau begini?"
Demetrio membungkuk ke telinganya.
"Yang kalah harus melakukan satu hal yang diminta pemenang, bahkan jika itu menyerahkan seluruh kekayaannya atau," telunjuk Demetrio mengetuk jantung Larisa, "organ berharganya."
Baru saja Demetrio memikirkan apa permintaannya.
*
__ADS_1