Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
13. Ipar


__ADS_3

Demetrio langsung berpisah dari Larisa begitu selesai sarapan bersama.


Keluarga Lawrence itu keluarga sibuk, jadi sebenarnya makan bersama pagi-pagi begini saja sudah dianggap buang-buang waktu. Mereka cuma akan melakukannya sekali, karena pernikahan Demetrio kemarin, lalu sisanya terserah masing-masing.


Tadi Larisa berkata bahwa dia akan pulang sebentar ke kediamannya untuk mengambil sejumlah pekerjaan, jadi sekarang Demetrio pun punya waktu ke ruang kerjanya.


Ada banyak hal perlu dipikirkan, tapi Demetrio sedikit sulit mengabaikan permintaan Larisa tadi.


"Mesir? Aku tidak mengingat sesuatu yang menarik di Mesir." Demetrio terus berputar-putar di kursinya memikirkan hal itu. "Tapi itu juga sedikit mencurigakan, kenapa dia memilih Mesir bersamaan dengan Leadro ingin ke Mesir."


"Sejauh informasi, tidak pernah ada kontak antara Nyonya Muda dan Tuan Muda Leadro, Tuan Muda," timpal Ayunda yang memang sudah memastikan semua informasi soal Larisa.


"Kalau begitu 'hubungan' antara mereka berdua tidak bisa didapatkan lewat informasi saja." Demetrio mengangkat bahu. "Hah, aku penasaran, Larisa."


Sungguh Demetrio penasaran. Apalagi setelah Larisa secara terang-terangan memusuhinya tepat setelah Demetrio menikahi dia.


Ya, Demetrio akan tetap menikahinya bahkan kalau dia sudah membenci Demetrio sebelum itu, tapi ini jadi semakin menarik karena Larisa memilih tepat setelah pernikahan.


"Baiklah." Demetrio tiba-tiba beranjak. "Persiapkan semua yang kukatakan ini."


Walaupun tidak tahu pasti, Demetrio bisa membuat perkiraan untuk memastikan kemenangannya dari Larisa.


*

__ADS_1


"Aku sempat bertanya-tanya," gumam Leadro saat matanya bertemu pandangan dengan Larisa.


Kontak lensa berwarna merah darah yang dia pakai terlihat cocok dengan senyum liciknya sekarang, sukses membuat Leadro merinding.


"Aku meragukan apakah kamu orang bodoh yang dibutakan oleh cinta pada kakakku atau justru orang gila seperti kakakku." Leadro menghela napas.


Ternyata orang gila, pikir pria muda itu miris.


Tidak mungkin orang normal mau menikahi Demetrio setelah dipermainkan, dipermalukan, direndahkan habis-habisan. Bahkan di hari pernikahan, Demetrio masih menganggap Larisa mainannya.


"Sayangnya manusia itu makhluk berakal, Leadro, jadi tentu saja aku tidak mencintai Demetrio."


"Jadi begitu." Leandro menatap ke sekitarannya diam-diam.


Untuk apa dia menciptakan suasana ini, Leadro masih tidak tahu tapi ia punya firasat ini tidak baik.


"Lalu? Apa alasan kakak iparku datang malam-malam ke kamar adik iparnya?"


Larisa tersenyum manis. "Aku berencana membunuh Demetrio."


Hah?


Wajah Leadro yang sempat bisa dikendalikan agar tenang seketika itu takjub mendengarnya.

__ADS_1


Apa yang istri baru kakaknya ini katakan? Dia mau membunuh siapa?


Aku tahu kadang-kadang ada orang mau membunuh Demetrio karena dia gila dan menjengkelkan, tapi istrinya? Istrinya yang baru sehari?


"Aku tidak suka basa-basi jadi akan kukatakan dengan jelas. Aku mau membunuh Demetrio di bulan madu kami nanti."


Leadro merasa tak tahu harus merespons apa. Tapi sepertinya ia harus merespons.


"Kenapa kamu repot-repot memberitahu aku, adiknya?"


Dia bisa melakukan itu tanpa harus memberitahu jadi kenapa dia perlu memberitahu Leadro? Bunuh saja kalau mau. Untuk apa minta izin?


"Hm? Tentu saja perlu karena aku juga mau membunuh orang lain setelah itu."


Leadro mulai berkeringat dingin.


Tunggu, jangan bilang kalau Larisa lebih gila daripada Demetrio? Sungguh?


Tatapan Leadro bergetar bukan karena Larisa berkata dia mau membunuh, tapi karena ia entah kenapa langsung tahu siapa 'orang lainnya' yang mau dia bunuh.


Leadro bukan orang bodoh. Bahkan tanpa bertanya pun ia sudah bisa memikirkan seratus alasan kenapa Larisa mau membunuh semua orang.


"Hah." Leadro mendadak tertawa sekalipun keringatnya semakin banjir. "Aku yang pertama kalau aku tidak mengikuti ucapanmu, kurasa itu maksud lilin di tanganmu, Kakak Ipar?"

__ADS_1


*


__ADS_2