
Demetrio terduduk di atas dipannya, baru saja terbangun dari tidur tanpa alasan.
Pria tampan yang seharusnya tengah menjalani masa manis dari bulan madu itu beranjak dari tempat tidur sembari menarik jubah besar. Ruangan dipasangi pemanas agar tidak terlalu dingin, tapi Demetrio sebenarnya tidak terganggu dengan udara dingin ini.
"Berapa kalipun kupikir ini agak sulit dicerna." Demetrio menatap kegelapan dari gurun pasir yang tersaji langsung dari jendela kamar. "Apa yang Larisa lakukan?"
Setelah tadi sedikit berbicara tentang sejarah Mesir kuno, Larisa dan Demetrio berpisah tanpa melakukan apa-apa.
Ini terlalu membuang-buang waktu. Larisa seharusnya tidak diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Jadi ... dia pasti melakukannya diam-diam.
Kalau begitu, apa?
"Masih belum jelas kenapa dia memilih Mesir." Demetrio mendongak pada hamparan bintang di langit. "Leadro juga sudah pergi. Anak itu baru akan kembali lima hari—"
Tidak, tunggu sebentar.
Kebetulan tujuan mereka sama itu pasti hanya rencana Larisa. Tapi, semua jadi terlihat seperti kebetulan sungguhan karena Leadro berpisah dari mereka di bandara.
Anak itu bilang akan kembali bersama Demetrio jadi dia akan datang dalam waktu lima hari.
Kalau berasumsi bahwa Larisa 'membutuhkan' kehadiran Leadro sebagai salah satu faktor kesuksesan rencananya, berarti dalam waktu lima hari kedepan, akan ada sesuatu yang sangat menarik terjadi.
Demetrio tiba-tiba tertawa. "Larisa menjadi semakin menarik sekarang. Aku sedikit menyukainya."
Bersabar lima hari itu agak menyebalkan, tapi Demetrio akan berusaha bersabar demi istrinya.
__ADS_1
"Kalau begitu," Demetrio menutup jendela kamarnya, "ayo pergi menengok istriku. Mungkin dia kedinginan."
*
Menemukan pusat informasi ternyata tidak sesulit yang Larisa kira. Ia cuma harus mencapai desa terdekat, menemukan gang-gang kecil dari pemukiman warga di mana sekelompok pria sedang duduk mabuk-mabukan.
Sakra memukuli mereka satu per satu hingga Larisa tak perlu kesulitan mengancam mereka.
"Tentara bayaran yang bisa membunuh." Larisa berbicara dengan bahasa Arab agar mereka mengerti.
Keterampilan bahasa adalah hal penting, jadi Larisa menguasai beberapa bahasa dari berbagai negara yang ia rasa penting.
"Aku ingin membayar mereka untuk membunuh seseorang."
Kekerasan memang salah satu jalan termudah menguasai seseorang. Mereka langsung memberikan informasi yang Larisa butuhkan, dan Larisa bergerak meninggalkan mereka agar secepatnya bisa kembali.
"Kamu tidak membunuh mereka?" Sakra bertanya sambil terus menolehkan kepalanya ke belakang. "Kalau Demetrio tidak mati dan mencari tahu, mereka bisa berbicara setelah diberi uang."
"Tidak masalah." Larisa tersenyum kecil. "Kalau mereka bertemu Demetrio, mereka juga akan dibunuh."
Karena bagi Demetrio pula, mereka adalah petunjuk sekaligus gangguan.
Larisa terus berjalan hingga kakinya mencapai sebuah kedai makan kecil sederhana. Sejumlah orang berkumpul di kedai itu menikmati makanan yang dijual pedagang.
Mereka bergabung dan duduk sebagai pelanggan. Memesan seporsi makanan khas setempat yang ditawarkan.
__ADS_1
Tapi saat piring pesanan dibawakan, Larisa langsung bergumam, "Aku ingin membeli informasi dan jasa."
Wanita yang membawakan makanan untuknya langsung memicing. Mengamati Larisa bersama Sakra yang tengah sibuk menyesap minuman hangat karena dinginnya malam.
"Tunggu sebentar," bisik pelayan wanita itu, pergi ke dalam kedaiannya.
Larisa menikmati makanan selama dia pergi. Tersenyum merasakan masakan tradisional Mesir ternyata tidak buruk dilidah.
"Aku harap kita tidak perlu bertengkar." Sakra memijat lehernya setelah menghabiskan isi piring dalam dua menit. "Badan mereka besar-besar. Tanganku sakit memukul berandalan tadi."
"Tergantung bagaimana mereka melihatku nanti," balas Larisa.
"Kalau begitu, Larisa, berusaha keraslah terlihat sangat jahat."
"Memang aku pernah terlihat baik?"
Sakra menopang dagu dan tersenyum. "Di mataku kamu adalah bidadari."
Baiklah, makanan Mesir ternyata punya efek samping seperti narkoba. Setidaknya pada Sakra.
Larisa tidak bisa meladeni kegilaan itu karena seorang anak tiba-tiba datang menarik jubahnya. Anak itu menujuk ke arah tempat gelap, dan Larisa sudah mengerti orang yang ia cari berada di sana.
Segera Larisa beranjak, disusul Sakra.
"Persiapkan dirimu."
__ADS_1
Entah apa di sana, tapi bisa saja mereka melukai Larisa alih-alih bertransaksi dengannya.
*