Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
22. Mulai Serius


__ADS_3

Demetrio berhenti menatap adiknya yang pucat dan berpaling pada istrinya. Pelan, pria itu berucap, "Aku perlu bicara berdua dengan istriku tersayang."


Semua orang terutama Leadro bergegas pergi. Larisa berdiri di sana menatap Demetrio seolah tidak ada sesuatu yang habis dia lakukan sebagai seorang istri.


Demetrio mendekatinya, dengan kondisi tangan yang mati rasa.


"Tidak kusangka istriku wanita yang berperilaku rendah," bisik Demetrio. "Kamu mencium adikku saat aku secara misterius diserang oleh penduduk sekitar."


"Kamu bicara seakan tidak pernah berperilaku rendah," balas Larisa cuek. "Kamu melupakan hari pernikahan kita? Membawa mantan mainanmu berteriak mempermalukanku?"


"Apa aku menciumnya?" Demetrio mengangkat alis. "Faktanya aku tidak suka berperilaku rendah, jadi aku memutuskan hubungan denganmu sebelum memulai hubungan baru. Bahkan kalau tanpa alasan meninggalkanmu, aku setidaknya tidak berselingkuh."


"Oh, benarkah?" Larisa tertawa menepuk-nepuk dada Demetrio. "Syukurlah kita dua orang berbeda."


Dengan kata lain, Larisa bisa bermain kotor sekalipun Demetrio menekankan permainan bersih. Wanita itu berlalu, ingin meninggalkan Demetrio saja daripada bicara dengannya.


Tapi sebelum Larisa pergi, Demetrio berbalik mengatakan, "Taruhanmu, ayo mainkan dengan serius."


Larisa seketika menoleh. Akhirnya dia menanggapi semua dengan wajah dingin itu. "Aku sudah serius sejak awal."


"Aku tidak menyukai permainan sederhana, Istriku." Demetrio berjalan mendekati Larisa. Mengulurkan tangannya yang tidak terluka untuk menarik wajah Larisa mendongak. "Hancurkan aku atau aku yang menghancurkan kamu. Itu permainan kita."


"Itu rencanaku, Suamiku." Larisa berjinjit, mengecup pipi Demetrio sebelum meninggalkannya dengan tawa puas.


Sementara itu, Demetrio menatap kepergian Larisa dengan ekspresi beku.

__ADS_1


Ketika dia serius ingin membunuh Demetrio, itu benar-benar menyenangkan. Sangat menyenangkan. Bahkan Demetrio justru ingin tertawa merasakan sakit di tangannya yang terluka parah akibat panah.


Tapi saat dia menyentuh Leadro, Demetrio ingin meremukkan Larisa.


"Aku benci lalat hinggap di makananku." Demetrio bergumam. Dan biasanya jika ada lalat di makanan, apakah lalat yang harus pergi atau makanan itu yang harus dibuang?


*


...Aku membencimu jadi aku tidak mau melihat wajahmu lagi. ...


...Sekali lagi AKU MEMBENCIMU....


Larisa hanya tertawa membaca kertas titipan Leadro sebelum dia kabur karena takut pada kakaknya. Padahal seharusnya dia tetap di sini karena Demetrio juga tidak mungkin berbuat macam-macam.


"Mia, pergi dan pesan tiket pesawat untuk kita bertiga. Tidak perlu beritahu—"


Ucapan Larisa tak selesai ketika sebuah anak panah melesat memasuki jendela. Sakra bergegas menarik Larisa dalam pelukannya, tapi Larisa menatap anak panah yang nemancap pada tembok kamar itu.


"Tenanglah. Itu melesat bukan ke arahku." Larisa menenangkan pengawalnya sekaligus melepaskan diri.


Pada anak panah tersebut ada semacam gulungan kertas. Larisa mengambilnya, membaca tulisan Arab di sana.


"Kamu tidak memperingati tentang senjata kaliber dan helikopter," ucap Larisa membacanya. "Lima orangku mati jadi temui aku atau seratus orang datang membunuh kalian semua."


Well, nampaknya masalah yang sesungguhnya datang. Larisa memang memperkirakan Demetrio punya persiapan tapi ia tak menduga itu adalah helikopter dengan senjata kaliber besar. Tentu saja melawan sekumpulan pembunuh bayaran berkuda dan panah tradisional adalah hal mudah.

__ADS_1


"Ini Bilal." Larisa menyerahkan suratnya pada Sakra untuk dibakar. "Ayo temui dia."


"Tapi, Larisa, bagaimana dengan Demetrio?" tanya Sakra cemas.


Larisa terdiam sejenak memikirkan bagaimana cara ia bertemu pembunuh bayaran yang ia sewa membunuh Demetrio tanpa sepengetahuan Demetrio yang jelas-jelas sedang waspada. Kalau dia tahu Larisa pergi menemui orang itu, Demetrio pasti akan membunuh semua orang di sana.


Bagaimanapun dia tidak mungkin memaafkan seseorang yang melukainya.


"Beritahu Demetrio, kita akan pindah ke pusat kota untuk sekarang," perintah Larisa setelah memikirkannya. "Dan ...."


Sakra menatap Larisa yang nampak agak sulit berbicara.


"Harus ada satu dari kita yang pergi dan itu lebih baik jika Bilal mengenalnya, yaitu kamu atau aku." Sakra mengangguk-angguk. "Jelas aku, tidak mungkin kamu."


Larisa menarik napas panjang dan menghelanya. "Ini tugas berbahaya jadi sekalipun kurasa harus kamu lakukan, akan kutanya; kamu bisa pergi sekalipun mereka mungkin membunuhmu?"


Sakra mengangkat bahu. "Kamu mengatakannya. Aku harus pergi."


Sejujurnya Larisa agak merasa bersalah karena ia seperti menyuruh Sakra mati menggantikannya agar Larisa bisa selamat. Namun kalau ia menunjukkan sikap itu, Larisa seperti tidak menghargai perjuangan Sakra.


Maka Larisa hanya mengangguk. "Lakukan."


Semoga Bilal bisa cukup bersabar.


*

__ADS_1


__ADS_2