
Sakra menyambut kedatangan Larisa dengan sorot mata sulit didefinisikan.
"Beritahu aku siapa yang berani memukuli wanita terhormat dan sangat amat agung sepertimu, Nyonya? Karena mungkin saja aku bisa meledakkan kepalanya bersama usus dan lambungnya, juga jantung dan paru-parunya."
Larisa mengacak rambut kesal dan melewati Sakra begitu saja.
Jelas Sakra tahu ini hasil perbuatan Demetrio. Pemukulan yang dia bicarakan adalah tanda di seluruh sudut tubuh Larisa, termasuk di bibirnya, yang habis di tangan Demetrio. Walau semuanya bekas percintaan, memang lebih nyaman menyebutnya bekas pukulan.
Larisa tidak mau mengingat itu.
"Dia sangat kesal saat tahu bukan dia yang pertama," ucap Larisa saat merendam dirinya dalam bak mandi. "Itu tidak sakit tapi akhhhh luar biasa menyebalkan. Aku benci memikirkan jeritanku sendiri."
"Terus terang aku mendengarnya," jawab Sakra seraya duduk di bibir bak mandi. "Kamu menikmatinya."
"Jika aku menyuruhmu meniduri ibuku kamu akan menangis saat melakukannya?"
Sakra mengangkat bahu. "Kurasa aku menikmati. Wanita tetap wanita, walau ada yang cantik dan ada yang tidak."
"Itulah yang terjadi." Larisa berdecak. "Kemunafikan jika berkata aku sangat tidak menikmati sentuhan Demetrio yang tampan dan bisa memuaskan wanita, hanya karena aku benci padanya."
Pada kenyataannya Larisa menikmati itu sekalipun ia benci pada Demetrio karena hubungan badan adalah hubungan badan dan bukan hubungan antar cinta.
__ADS_1
"Dia benar-benar melakukannya seperti maniak," gerutu Larisa. "Aku bahkan merasa aku sudah hamil sekarang."
Sakra mengerutkan bibir, cemberut. Entah kenapa itu menyebalkan memikirkan Larisa terus terbayang akan rasa Demetrio.
"Hei, bagaimana jika aku mengeluarkannya?" tanya Sakra iseng.
Yang dihadiahi lemparan tempat sabun. "Berhenti bercanda, cepat bawa makanan. Aku lapar dan di mana Mia, demi Tuhan?!"
Aku tidak bercanda, pikir Sakra tapi ia putuskan tidak mengeluarkannya di mulut. Hubungannya dan Larisa sejak awal memang begini.
Tuan dan pelayan, kekasih gelap dan pengawal. Tidak lebih, bisa kurang. Jadi bukan hak Sakra untuk cemburu pada Larisa.
Tapi .... Sudah kuduga tetap menyebalkan.
Perempuan itu mendongak kesal. "Aku lapar jadi cepat—"
Belum sempat itu selesai, Sakra menunduk, menutup mulut Larisa dengan mulutnya. Sakra bahkan memegang tengkuk Larisa, menahannya tak melepaskan diri dan memperdalam ciuman itu sebelum melepaskan diri.
"Kamu ingin roti isi daging yang asin, kan? Aku mengerti. Sampai jumpa."
Sakra melarikan diri sebelum Larisa bisa protes.
__ADS_1
Tentu saja Larisa yang ditinggal begitu saja menggerutu sebal. Ada apa dengan anak itu tiba-tiba? Larisa benar-benar sedang muak berciuman karena Demetrio menciumnya mungkin seratus kali atau lebih.
"Bibirku luka, dasar breng-sek." Larisa menyambar cermin kecil untuk melihat. Walau Sakra tidak menggigit bibirnya, bekas gigitan Demetrio tetap saja nyeri.
"Demetrio tidak akan diam," gumam Larisa saat mendadak terpikirkan. "Kurasa dia akan mengadu pada Paman."
Tidak. Sekarang Larisa istrinya jadi Demetrio mungkin sudah tidak mengandalkan Paman. Tapi jelas dia tidak akan diam pasrah.
Dia benar-benar kesal sampai rasanya frustasi. Walau terlihat sangat dewasa dan memang sudah dewasa, Demetrio itu seperti anak kecil yang sangat amat sebal jika dia bukan nomor satu.
Itu adalah apa yang Larisa pikirkan selama perjalanan pulang. Apa hukuman yang akan diberikan Demetrio padanya karena berbohong tentang keperawanan.
Terlebih selama perjalanan pulang, Demetrio terlihat sangat tenang dan senang. Dia bahkan bersenandung sampai-sampai Larisa curiga bahwa dia kerasukan.
Namun semua terjawab begitu mereka tiba di kediaman utama.
"Mungkin ini mengejutkan, Larisa," kata Ibu Mertuanya, "tapi perkenalkan. Ini Isabel, calon istri kedua Demetrio."
Ketika Larisa menoleh dengan wajah tak percaya pada Demetrio, pria itu tersenyum sangat manis. Seolah dia berkata, "Aku bukan yang pertama jadi jangan berharap jadi satu-satunya, Sayangku."
Larisa menyesal tidak mengikuti kata hatinya memberi dia racun sampai dia tersedak dan mati.
__ADS_1
*