Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
20. Bebaskan Aku!


__ADS_3

Leadro tak berhenti meringis dalam mobil yang membawanya.


Aku tidak mau ke sana, gumam pria muda itu memikirkan sekarang ia harus ke lokasi Demetrio dan Larisa berbulan madu.


Entah apa yang sedang terjadi di sana, tapi Leadro takut jika ia harus melihat mayat. Entah mayat Larisa atau mayat Demetrio.


Tapi kalau dipikir-pikir, benarkah Larisa bisa membunuh Demetrio? Leadro sudah bertemu banyak jenis manusia sepanjang hidupnya dan ia bersumpah jika Demetrio itu salah satu yang paling berbahaya.


Larisa bahkan terpecundangi dua tahun lalu. Dalam waktu dua tahun, memangnya dia bisa melukai Demetrio?


Tapi tetap menakutkan, jujur saja. Leadro bergidik memikirkan Larisa datang dengan lilin di tangannya seolah dia penyihir dari dunia lain.


Mobil yang ditumpangi Leadro berhenti, pertanda mereka telah sampai di tempat penginapan. Pria itu keluar, disapa oleh sebuah kediaman kecil yang nampaknya murah.


"Leadro."


Suara Larisa langsung menyapanya.


Leadro diam-diam bingung melihat sang kakak ipar malah bersama pria lain, bukannya Demetrio.


"Di mana kakakku?"


"Sedang bermain dengan anak-anak."


"Anak-anak?"

__ADS_1


Larisa menunjuk ke arah Demetrio tertawa bersama anak-anak asing yanh nampaknya penduduk setempat.


"Aku baru tahu Demetrio penyuka anak-anak," ucap Larisa, melipat tangan.


Leadro memerhatikan kakaknya di sana. "Setahuku dia benci anak kecil," gumamnya.


"Yah, anggap saja dia suka." Larisa tersenyum, menepuk bahu Leadro. "Sudah siap?"


Sial. Baik dia dan Demetrio sama-sama menakutkan.


Pada sore hari, sesuai rencana, mereka pergi menunggang unta. Sebagai anak yang sering mengikuti hobi aneh dari kaum elitis, Larisa terbiasa menunggang kuda hingga tak sulit menaiki unta sendirian.


Secara alami, itu menjadi seperti liburan biasa bersama keluarga.


"Jadi kalian hanya berdiam diri di sini sejak datang?" Leadro bertanya tak percaya saat Demetrio berkata mereka tak pernah ke mana-mana. "Bahkan melihat piramida?"


Leadro diam-diam melirik Larisa dengan sorot mata 'kamu mau membunuhnya tapi tetap menghabiskan malam dengan dia?'.


Tentu saja, dia salah paham. Demetrio tidak pernah menyentuh Larisa. Bukan hanya karena Larisa tidak mau melainkan karena Demetrio sendiri tidak pernah meminta.


Dia hanya terkesan menyinggung namun tidak pernah bertindak. Jelas saja dia menganggapnya permainan.


"Nyonya." Pada waktu yang telah ditentukan, Sakra pun memulainya. "Bolehkah saya berkeliling di sekitar sini? Kebetulan saya juga penasaran dengan peternakan."


Sekarang ini mereka memang berada di peternakan kecil unta untuk mencoba susu unta segar. Larisa mengangguk, berpaling tak peduli. "Jangan pergi terlalu jauh."

__ADS_1


"Terima kasih, Nyonya."


Mata Demetrio pasti sedang menatap Sakra.


Orang ini, Larisa yakin beberapa hari terakhir sibik memikirkan apa rencana Larisa. Jelas terlihat karena setiap malam dia datang untuk mengajak Larisa bicara hal tidak berguna.


Kepergian Sakra itu untuk membuat Demetrio semakin curiga. Mau tak mau, dia pasti akan memerhatikan Sakra karena besar kemungkinan yang akan mengotori tangan adalah dia, bukan Larisa secara langsung.


"Leadro." Sekarang giliran Larisa bertindak. "Kamu ingin mencoba daging unta?" tanyanya lembut.


"Eh?" Leadro yang tidak tahu apa-apa jelas kaget. Tapi anak itu juga cepat mengerti. "Ya, aku penasaran."


"Benarkah?" Larisa tersenyum manis. "Kalau begitu ayo turun dan sembelih satu unta. Kurasa ada ternak khusus sembelihan di sana."


"Ya."


Larisa mengajak Leadro seakan-akan sedang berusaha dekat dengan adik iparnya. Tapi ia juga tahu kalau sorot mata Demetrio menganggap itu palsu.


"Jaga istriku sebentar, Leadro." Demetrio tidak turun dari untanya. "Aku masih ingin jalan-jalan dengan unta."


"Y-ya, tentu."


Leadro yang berada di antara pasangan menakutkan itu cuma menjerit dalam hati.


Tolong bebaskan aku!

__ADS_1


*


__ADS_2