Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
35. Saling Mencintai?


__ADS_3

Larisa menatap mata pria yang sedang berceramah di depannya.


Itu wajar. Bilal hidup di lingkungan yang bisa dibilang memang memaksanya seperti ini. Dia seorang pembunuh dan penyedia informasi ilegal, tapi mungkin dia juga seorang pria yang dekat dengan keluarganya dan menyayangi mereka.


Dengan kata lain, pria di depannya ini adalah manusia 'tidak gila'. Berbeda dari Larisa, berbeda dari Demetrio.


"Sebelum aku menikah," Larisa memutuskan bercerita, "Demetrio pernah membuangku."


"Membuangmu? Maksudnya?"


"Kami hampir menikah saat itu, hanya tinggal menghadapinya bahkan, tapi Demetrio berkata aku membosankan dan dia membuangku. Gara-gara itu, aku diperlakukan buruk oleh keluargaku yang bahkan tidak pantas disebut keluarga."


Larisa sedikit emosional menceritakannya. Padahal ia pikir tidak terlalu peduli lagi, tapi ternyata dadanya panas oleh rasa marah dan sedih.


Saat tangan Larisa gemetar oleh emosi yang berkecamuk, Bilal langsung menggenggamnya, menatap lebih lekat mata Larisa.


"Lalu? Apa selanjutnya? Kenapa kalian menikah?" Bila bertanya untuk tahu lebih jauh tentang Larisa.


"Tanpa alasan lagi, dia menyuruh pelayannya datang bertanya padaku apa aku ingin menikah. Lalu aku menerimanya dengan tujuan memastikan dia hancur sebagaimana dia melakukannya padaku."


Posisi Bilal yang memojokkan Larisa ke tembok itu sebenarnya cukup memancing perhatian juga, tapi Bilal tak terlalu peduli dan hanya menatap Larisa.

__ADS_1


"Kamu seharusnya tidak menikah," ucap Bilal seperti berbisik. "Kamu seharusnya menyewa pembunuh profesional dan memastikan jantungnya tercabut daripada menikah."


"Aku pendendam." Larisa meremas tangan Bilal yang menggenggamnya. "Aku tidak mau kalau itu hanya sekedar membuat dia berhenti bernapas."


"Lalu apa? Menurutmu dia akan cemburu karena kamu selingkuh?"


Pertanyaan itu seperti sebuah api yang dilemparkan pada minyak tanah. Mata Larisa yang sempat tertelan kemuraman kini berkobar, tersenyum dalam maskernya.


"Dia menggila," gumam Larisa. "Demetrio mengira aku memohon padanya lalu aku pergi bersamamu dengan pakaian yang tidak pernah kupakai bahkan bersamanya. Menyiksa harga diri pria bukankah lebih menyakitkan daripada membunuhnya?"


Bilal mendadak tertawa. "Aku lupa kamu menakutkan."


*


Tidak peduli semenakutkan apa dia.


Tapi saat Leadro pulang dari kantor, yang ia temukan justru lebih menakutkan dari biasanya!


"Kakak terlihat menakutkan," bisik Rihana saat Leadro kabur ke dapur karena takut. "Padahal aku melihat tadi pagi Kakak tersenyum-senyum. Dan tebak apa? Aku melihat kemarin malam Larisa masuk ke kamarnya dengan pakaian super duper seksi! Kurasa dia dan Larisa berbaikan tapi tiba-tiba seperti ini."


Leadro menggaruk kepalanya resah. "Di mana Larisa kalau begitu?"

__ADS_1


"Entah. Mungkin dia tidak ada karena mobilnya tidak terparkir di garasi."


Apa lagi yang wanita gila itu lakukan?! Apa dia benar-benar tidak mengerti bahwa Demetrio itu bisa saja membunuh seseorang kalau sudah marah besar?!


Oke, tidak. Aku lupa lengan Demetrio terluka gara-gara Larisa jadi mereka memang sejenis tapi tetap saja!


"Kak Leadro, aku hanya bertanya karena penasaran." Rihana bersandar pada meja dan menatap Leadro lurus. "Menurutmu Kakak dan Larisa saling mencintai?"


"Menurutmu mereka memperlakukan diri satu sama lain seperti orang yang mencintai?"


"Lalu kenapa mereka saling memikirkan satu sama lain?"


"Hah?"


Rihana mengangkat bahunya santai. "Dari semua orang, dari semua pilihan, Kakak paling pertama menyebutkan Larisa. Dan Larisa, dia punya waktu dua tahun untuk menemukan pria yang setidaknya sederajat dengan Kakak tapi dia tidak melakukannya."


Itu terdengar masuk akal di satu sisi dan itu membuatnya malah menjijikan.


Demetrio tidak mencintai Larisa, Leadro cukup yakin. Setidaknya dulu, mungkin. Tapi bagaimana dengan Larisa?


*

__ADS_1


__ADS_2