
"Demetrio!"
Viviane mengguncang kerah pakaian Demetrio sambil terus berteriak frustrasi.
"Berhenti pasrah pada perjodohan ini! Katakan pada semua orang kita saling mencintai! Kamu mencintai aku, kan? Benar, kan?! Demetrio!"
Larisa yang menyaksikan itu berusaha keras tidak menguap bosan.
Selera humor Demetrio dari dulu selalu buruk. Malah sekarang Larisa yang merasa malu pada tingkah Viviane.
Tak sengaja, mata Larisa bersinggungan dengan seseorang di antara tamu-tamu undangan penting. Orang itu, pendukung rahasia Larisa, sekarang sedang meminum wine seolah ikut menikmati drama murahannya.
Dia mengedipkan sebelah mata seorang memberi isyarat 'bukankah kamu harus segera menikah?'.
Alias singkirkan pengganggu ini.
Aku malas, gumam Larisa seolah menjawab orang itu. Kenapa aku yang harus mengusir dia padahal Demetrio yang mengundangnya?
Tapi, Demetrio terlihat tidak mau mengusir siapa-siapa hingga Larisa juga terdesak oleh tatapan tajam Ibu dan Paman.
Cih.
"Tidak tahu malu." Larisa terpaksa harus bicara bahkan ketika ia malas. "Kamu sangat menyedihkan, Nona."
Tangannya merampas pergelangan Viviane agar berhenti menyentuh Demetrio. Ketika itu, mata Larisa juga melirik Demetrio yang sedamai dirinya ketika sedang minim teh di taman.
__ADS_1
Selera dramamu tidak menarik sama sekali, kira-kira begitu yang Larisa titipkan pada tatapan matanya.
Yang kelihatannya di balas : drama murahan justru lucu ditertawakan karena itu murahan, bukan begitu?
Hah, dasar orang gila.
"Aku tidak tahu otak seperti apa yang kamu punya tapi kuharap itu masih cukup berfungsi."
Larisa menatap tajam gadis memalukan yang telah masuk dalam permainan Demetrio itu.
"Mengganggu upacara pernikahan orang lain, bukankah itu memalukan bagi keluargamu juga, Nona?"
"Lepas! Lepaskan!" Viviane berusaha memberontak dari cengkram keras Larisa. "Kamu yang seharusnya malu! Kamu yang merebut pria orang lain tanpa tahu malu! Demetrio itu milikku! Hanya milikku!"
Orang itu cuma mempergunakan kepemilikan pada orang lain dan bukan sebaliknya. Dia tidak menganggap ada satupun orang di dunia ini yang pantas memilikinya, melainkan dialah yang harus memiliki.
"Apa yang membuktikan?" Larisa melepaskan tangan Viviane karena malas terlalu lama menyentuhnya. "Bukti apa yang kamu punya kalau Demetrio milikmu?"
"Demetrio berjanji akan menikahi aku kalau saja kamu tidak mengancam dia!"
Larisa menoleh pada Demetrio. "Benarkah? Kamu berjanji pada orang ini?"
Mata Demetrio mengamati Larisa penuh rasa tertarik. Nampaknya dia masih mempertimbangkan haruskah buka suara atau pura-pura tidak mendengar dan melihat.
Tapi nampaknya dia juga masih sadar bahwa keributan ini mulai terasa sangat memalukan bagi keluarga Lawrence juga.
__ADS_1
"Tidak." Demetrio menjawab tanpa beban. "Aku tidak berjanji apa-apa."
Ekspresi Viviane seperti habis mendengar deklarasi perang dunia akan berlangsung dalam dua jam kedepan.
Sudah jelas kalau Demetrio memang berjanji. Tidak, dia sengaja mengumbar janji sebagai salah satu pemicu perempuan ini berbuat onar sekarang.
"Sejujurnya hubunganku dan Nona Viviane sudah berakhir beberapa bulan sebelumnya."
Tanpa sedikitpun keraguan dia memuntahkan omong kosongnya.
"Aku hanya merasa tidak nyaman mengatakannya karena Nona ini sedikit sulit ditangani. Yah, dokter jiwanya mengkhawatirkan dia."
Jadi dia bermaksud memfitnah Viviane sebagai gadis gila hanya karena dia mau sedikit berbuat masalah sebelum pernikahan?
Semakin kulihat semakin membuatku ingin membunuhnya. Larisa tertawa kecil.
"Well." Demetrio menepuk tangan sebagai isyarat asistennya datang. "Cukup sampai di sana gangguannya, Nona. Sekarang pergilah karena ini hari pernikahanku."
Larisa cuma melihat semua itu dengan sorot mata dinginnya. Melihat bagaimana Viviane datang karena Demetrio, diusir pergi pula karena Demetrio.
Aku tidak kasihan padanya. Larisa berpaling tidak peduli. Tapi melihat itu semakin membuatku ingin mencekik leher orang ini.
Dua tahun lalu, Larisa juga mengalami penghinaan nyaris sama.
*
__ADS_1