
Mungkin kalian sudah tahu ini tapi Larisa sedang mau mengatakannya.
Aku benci Demetrio. Aku benci padanya sampai-sampai aku sering membayangkan diriku membakar dia hidup-hidup. Aku berpikir bagaimana jika aku mendengar jeritan itu siang dan malam sampai dia habis terbakar.
Aku benci Demetrio. Aku membencinya sampai-sampai aku ingin aku yang menghamili dia lalu perutnya membesar dan aku mempermalukan dia sebagai lelaki pertama di dunia yang hamil.
Aku benci Demetrio. Aku membencinya sampai-sampai aku berharap belalai di kakinya itu naik ke hidungnya dan dia berjalan kesana-kemari dengan belalai seperti gajah dan dia tidak lagi setampan dia yang sekarang.
Ya, aku benci Demetrio dan aku bisa menuliskan sejuta alasan kenapa aku benci dia.
"Larisa," tegur Ibu Mertuanya karena Larisa hanya diam, alih-alih merespons. "Katakan sesuatu."
Sesuatu apa? Apa yang Ibu Mertua dan Demetrio harapkan untuk Larisa katakan? Bahwa ia senang akan mendapat teman yang kehadirannya itu akan membuat Larisa terhina? Atau berterima kasih karena hukuman Demetrio setidaknya bukan mengadu pada Paman?
"Aku menolak pernikahan kedua dari Demetrio!" Jika Larisa berteriak begitu, maka ia akam terlihat sangat amat menyedihkan.
Namun jika Larisa berkata, "Jadi begitu, senang bertemu denganmu, Isabel, kuharap kita hamil di waktu yang bersamaan karena Demetrio sangatlah perkasa." Maka sudah pasti Larisa gila.
Ketika Larisa sedang menggila dalam dirinya, Demetrio yang tahu itu mendekat. Pria itu merangkul bahu Larisa dan tersenyum manis padanya.
"Istriku, katakan sesuatu. Jangan bilang kamu kecewa? Apa keputusanku kurang menyenangkan?"
Dia tahu aku tidak berteriak di depan ibunya, pikir Larisa jengkel.
"A—" Mulut Larisa terbuka, hendak berbicara tapi terkatup lagi. Lalu terbuka lagi, "Ak—" lalu tertutup lagi, saking tidak inginnya ia bicara.
Tahu bahwa dirinya tidak mungkin bisa memaksakam diri, Larisa putuskan untuk lari.
"Sampai jumpa, Sayang," ucapnya mengecup pipi Demetrio dan berlalu pergi.
Ayo pura-pura tidak melihat karena kalau ia melihat maka Larisa akan terjebak sangat lama.
__ADS_1
Sementara itu, Demetrio yang melihat Larisa kabur hanya tertawa kecil. Sangat lucu melihat wajahnya tadi. Dia seperti tidak percaya bahwa Demetrio bisa melakukan hal ini sekalipun Demetrio sudah melakukan banyak hal gila padanya.
"Haruskah Mama memanggil istrimu?"
"Biarkan saja," jawab Demetrio cuek. "Jangan menyinggung apa pun soal yang kubicarakan, Ma. Demi kehormatanku."
"Mama tahu."
Demetrio berpaling pada Isabel. "Halo, Cantik. Senang bertemu denganmu."
Wanita itu tersenyum sangat manis. "Senang bertemu Anda, Tuan Muda."
"Demetrio. Panggil aku Demetrio."
"Baik, saya—"
"Dan bicaralah sebebasnya."
Demetrio mendekatinya. Menyentuh wajah cantik Isabel yang memang sangat cantik dan menggemaskan.
"Kamu kekasihku hari ini sampai pernikahan kita berlangsung. Bersikaplah seperti kekasihku, mengerti?"
Karena dengan begitu Larisa akan semakin menggila. Dia harus tahu bahwa dialah yang harus berlutut bukan Demetrio.
*
Di lantai atas, tentu saja kamar Larisa berada, wanita itu sedang menggenggam tangan Sakra kuat-kuat. Itu adalah terapi sekaligus pelampiasan sebab kalau Larisa mengamuk dan menghancurkan isi kamarnya, maka ia mengaku kalah dari Demetrio.
"Aku seharusnya membayar Bilal untuk senjata kaliber besar juga," ucap Larisa pada Sakra tapi sebenarnya membayangkan Demetrio. "Aku seharusnya memegang pistol sungguhan kemarin saat aku berada di ranjangnya dan melubangi kepalanya, dadanya, termasuk telurnya, karena aku hanya ingin dia mati. Benar begitu?"
Sakra sedang fokus menahan sakit di tangannya. Tulang Sakra ngilu luar biasa tapi ia tahan karena Larisa harus melampiaskan itu.
__ADS_1
"Nyonya, saya membawa es krim blueberry." Mia menyodorkan mangkuk es krik sebagai bentuk kesetiaannya menghibur.
Tapi Larisa tersenyum kaku. "Terima kasih, Mia, tapi sejujurnya aku sekarang ingin api dan bukan es krim."
"Baik." Mia buru-buru menyingkirkan es krim yang ia pikir bisa menenangkan Larisa seperti anak kecil.
"Kamu cemburu pada Demetrio?" tanya Sakra di antara ringisan sakitnya.
"Kamu ingin tanganmu patah?"
"Jika tidak maka seharusnya kamu tidak marah."
"Dia menghinaku!" teriak Kalista, tapi dengan nada tertahan. "Istri kedua seminggu setelah menikah denganku itu seperti pengumuman pada semua orang bahwa barang yang dia pungut, yaitu aku, ternyata rusak saat mau digunakan jadi mau tidak mau harus diganti sebab dia butuh sekarang juga!"
"Kamu tidak berpikir bahwa dia bisa saja menjadi sekutu?"
Pegangan kuat Larisa pada tangan Sakra seketika lepas. Sakra langsung menarik kedua tangannya dan meringis sangat sakit. Bahkan dia meniup kedua tangannya yang memerah saking sakitnya.
"Aku hilang akal sejenak karena marah," gumam Larisa, sambil tangannya menunjuk es krim pemberian Mia tadi.
Saat es krim masuk ke mulutnya, bara api di wajah Larisa seolah langsung padam.
"Setidaknya kita harus memastikan dia sekutu atau musuh."
Sakra membuka mulut, minta disuapi es krim juga. Larisa berbaik hati memberikannya karena dia terlihat ingin menangis kesakitan.
"Siapa yang memastikan?" tanya Sakra setelah itu.
"Tentu saja," Larisa tersenyum, "Leadro."
*
__ADS_1