
Sudah Larisa duga ada banyak orang menunggunya. Jika tadi ia cuma meminta informasi, pasti tidak akan sebanyak ini namun Larisa langsung mengatakan ia juga butuh jasa.
Kata 'jasa' untuk pusat informasi ilegal semacam ini tidak akan mengarah ke mana pun kecuali pembunuhan. Minimal melukai seseorang.
"Larisa," bisik Sakra cemas.
"Tenanglah." Larisa membungkam Sakra yang tampaknya sedang berpikir bagaimana mengalahkan mereka semua.
Dari postur tubuh, sudah terlihat mereka berdua kalah. Tampang mereka juga menakutkan dan memiliki hawa veteran pembunuh. Kalaupun bertarung, kemungkinan Larisa dan Sakra cuma akan habis jadi makanan anjing.
Langkah Larisa berhenti di depan sebuah meja kayu usang. Di atas meja itu sepasang kaki seseorang bertumpu, sementara pemiliknya duduk santai merentangkan tangan di sofa usang.
Diluar dugaan, dia terlihat muda.
"Kamu pemilik organisasi?" tanya Larisa dengan bahasa mereka.
"Anggap saja begitu."
"Aku butuh beberapa pembunuh veteran. Penunggang kuda dan ahli memanah, spesifiknya," jelas Larisa tanpa basa-basi.
Pria itu beranjak, keluar dari kegelapan hingga Larisa bisa melihat wajahnya lebih jelas. Garis wajahnya menunjukkan dia orang lokal. Tampan, berkulit putih dan agak pendek tapi kekar.
"Tunjukkan bayaran dulu, Nona Kecil. Aku punya masalah kepercayaan pada wanita terlebih yang lemah sepertimu."
Sakra melirik Larisa seolah bertanya haruskah dia memukulnya. Namun Larisa mengabaikan itu, mengeluarkan kantong berisi dinar.
__ADS_1
Pria itu melihat isi kantong dan melirik Larisa. Jumlah uang selalu membuat persepsi orang-orang berubah.
"Untuk apa kamu butuh pembunuh?"
"Kurasa transaksi kita hanya tentang memberi dan menerima."
Dia pikir Larisa akan memberi informasi pribadinya seperti orang bodoh?
Pria itu tertawa kecil. "Baiklah. Namaku Bilal. Tawaranmu kuterima, Orang Asing."
Dia tahu dari wajah Larisa bahwa ia bukan orang Mesir. Juga bukan orang sekitaran Mesir.
"Pria ini." Larisa langsung mengulurkan foto Demetrio tapi tak membiarkan dia memegangnya. "Cukup lihat dan rekam di kepalamu saja. Aku tidak mau ada bukti."
"Waspada sekali. Berbisnis berarti saling percaya, Nona."
"Ups, Nyonya." Pria itu mengangkat alis. "Istri yang ingin membunuh suaminya di negeri orang. Luar biasa sekali sampai aku mau menangis. Kenapa? Suamimu selingkuh atau punya anak simpanannya?"
"Lokasinya di sini." Larisa menyerahkan peta sekaligus mengabaikan ocehan pria itu. "Kami berencana menunggang unta di sekitar sini jadi panah dia dari kejauhan."
"Hanya memanah?"
"Ya, tidak perlu menggunakan senjata lain. Gagal atau tidak, aku ingin panah," tegas Larisa.
"Hmmm, sepertinya kamu bukan cuma ingin dia mati, yah. Padahal membunuh ya tinggal membunuh." Bilal mengangkat bahu dan menghela napas seolah berkata 'perempuan memang sulit dimengerti'.
__ADS_1
"Tapi kamu bilang 'gagal atau tidak', berarti jika gagal pun tidak masalah?"
"Ya."
Bilal mengamati perempuan di depannya penuh kalkulasi. Permintaan membunuh yang spesifik tapi jika gagal juga tidak masakah. Apa maksudnya?
Tentunya Larisa tahu dia bertanya-tanya. Tapi tidak ada kewajiban bagi Larisa memberitahunya lebih dari urusan permintaan.
"Lalu, soal informasi," Larisa menyerahkan sekantong dinar lagi, "aku ingin tahu segala sesuatu tentang pria itu jika dia datang kemari."
Bilal mengerjap. "Jika dia datang? Jadi kalau dia tidak datang?"
"Maka tidak."
Tatapan pria itu berubah. Dia kini melihat Larisa sebagai sesuatu yang menarik untuk dia ketahui.
"Itu saja." Larisa berbalik, mengisyaratkan Sakra untuk segera pergi. "Bagaimana kalian bergerak dan dari sudut mana memanah, itu kuserahkan padamu saja."
Bilal mengangkat dua kantong dinar di tangannya dan melambai penuh keceriaan. "Datang lagi kembali, Nyonya Baik Hati."
Setelah menjauh dari sana, Sakra diam-diam berbisik, "Dari tingkahnya, dia bisa menjualmu pada Demetrio jika diberi uang lebih banyak."
"Dia pedangan. Mau bagaimana lagi." Larisa tidak masalah.
Makanya ia tak mau menyerahkan foto Demetrio tadi. Urusan mencari tahu, bukankah itu pekerjaan dia dan itulah sebabnya Larisa membayar dia?
__ADS_1
*