
Bilal menatap sosok wanita di depannya yang terus terang berbeda jauh dari harapan awal.
Sejak datang ke negara ini, Bilal merasa sangat kesulitan beradaptasi. Segala keperluannya telah disediakan oleh kenalan Larisa yang Bilal temui itu, tapi Bilal menemukan orang-orang di negara ini sulit diajak berkomunikasi.
Banyak dari mereka yang tidak bisa menggunakan bahasa internasional sedangkan Bilal sedikitpun tidak bisa berbahasa Indonesia. Bilal pikir Larisa akan menemuinya jika Bilal sudah cukup beradaptasi.
"Aku punya banyak pertanyaan," ucap Bilal dengan logat Mesir. "Tapi yang pertama, kenapa kamu berpakaian seperti ini?"
Bilal kesulitan fokus karena Larisa terlihat 'agak terlalu' cantik hari ini. Dia memakai dress yang mencetak anggota tubuhnya lalu dipasangkan dengan outer yang tidak terlalu berguna menutup bagian depan dan leluk dari depan.
"Kamu tahu bahwa aku adalah pria dan pria sangat menyukai wanita cantik berbadan bagus, kan?" tanya Bilal lagi, memastikan.
Ia tak mau sampai kalap mengajak istri orang selingkuh. Tapi penampilan dia membuat Bilal terbayang perselingkuhan. Jadi mungkin sebaiknya dia ganti baju?
"Itu tidak masalah. Aku memasang sengaja," jawab Larisa, membuat Bilal tercengang.
"Kamu ingin merayuku?"
"Tidak, maksudku ...." Larisa terdiam dan tertawa sendiri. "Maaf, maksudku aku sengaja berpakaian begini karena ini penting. Aku tidak merayumu."
__ADS_1
"Baiklah." Bilal berusaha keras terus menatap wajah Larisa saja. "Tapi setidaknya lepas maskermu? Aku butuh pengalihan."
"Maskerku juga penting."
Baiklah. Dia menyuruh Bilal berada di sampingnya ketika dia malah menyembunyikan wajah tapi tidak menyembunyikan hal lain yang seharusnya disembunyikan?
Perempuan yang mau membunuh suaminya tentu saja tidak normal.
"Kalau begitu, apa perlumu hari ini, Nyonya?" Bilal berusaha bersikap profesional.
"Kencan denganku."
Tapi kemudian tersedak. "Kenapa?!" serunya tak mengerti dengan keanehan Larisa.
"Hei, dengar gadis kecil. Jika aku bertanya padamu kenapa Demetrio Lawrence harus mati, kamu pasti akan menjawab 'karena itu perlu'. Aku tahu aku benar."
"Tentu saja." Larisa akhirnya melepaskan masker yang dia gunakan, memamerkan wajah cantiknya yang dipulas make up tebal.
"Dengar, aku butuh teman kencan diam-diam tapi aku harus menyembunyikan wajahku," jelas Larisa. "Di sisi lain, aku harus mencolok agar orang-orang melihatku bersamamu jadi beginilah aku. Bisa kamu berhenti bertanya dan lakukan saja tugasmu, berhubung kamu datang ke sini membantuku?"
__ADS_1
Bilal menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Apa perempuan di negara ini tidak tahu bahwa laki-laki punya nafsu?" gumam pria itu heran, tapi mengikuti Larisa sesuai keinginannya.
Mereka naik mobil untuk beberapa waktu yang lama, lalu kemudian Larisa mengajaknya turun untuk berjalan di trotoar. Bilal hanya diam mengikutinya namun lama-lama risih karena pandangan orang.
"Hei, aku tidak benci wanita cantik tapi aku benci bersama wanita yang dipandangi seolah-olah dia telanjang. Itu menggangguku, Nyonya. Ayolah."
"Orang-orang suamiku mengawasi kita," bisik Larisa, justru memeluk lengan Bilal. "Aku tidak masalah jadi objek nafsu jadi tenanglah, dasar kolot."
Bilal mendengkus. Meski akhirnya ia diam karena percuma mendebat Larisa. Bilal berusaha terlihat nyaman dan biasa saja pada setiap perhatian yang diberikan.
Itu bukan kebohongan. Bahkan wanita yang menoleh pun semua memandang Larisa yang terlihat terlalu salah tempat.
Bilal tak tahu kenapa tapi mendadak ia kesal bukan main. Sebelum dirinya sadar, Bilal sudah menarik Larisa, memojokkannya ke tembok dan menghalau siapa pun melihatnya.
Terutama bagian depan.
Aku tahu kenapa dia menyembunyikan wajahnya, pikir Bilal. Karena wajahnya tertutup orang mau tak mau memandang tubuhnya. Itu yang dia incar.
"Apa maksud semua ini?" desak Bilal jengah. "Jika ingin membunuh suamimu, letakkan racun pada susunya dan tunggu dia tersedak mati. Berjalan-jalan di tengah kota dengan pakaian seperti ini cuma membuat dirimu jadi bahan tontonan."
__ADS_1
Ini memalukan bagi Bilal dan sejujurnya ia tak suka dengan wanita semacam itu.
*