
Menghentikan Demetrio dengan strategi yang pasti itu sebenarnya mustahil, sebab orang itu benar-benar sulit ditebak. Dia bisa tiba-tiba melakukan A dan tiba-tiba melakukan B.
Jika Demetrio mempertimbangkan sesuatu yang normal, mustahil dia membawa calon istri baru tepat setelah dia kembali dari bulan madu, namun seperti kata Larisa, dia tidak mempertimbangkan hal normal.
Bagi Demetrio, dunia ini miliknya dan berputar di sekitarnya. Karena itu Larisa harus menggunakan strategi yang tidak pasti.
"Kamu baik-baik saja?"
Seperti malam ini, Larisa datang ke kamar Demetrio, bertanya tentang lengannya yang terkena anak panah.
"Tidak sebaik itu," jawab Demetrio dengan mata fokus pada iPad di mejanya. "Ada apa, Sayang? Aku sedang sibuk malam ini jadi kembalilah lain kali."
Larisa masuk alih-alih pergi, menutup pintu kamar, bahkan menguncinya. Perbuatan itu membuat Demetrio bersedia menoleh, seketika mengerutkan kening pada pakaian Larisa.
Lingerie hitam yang dilengkapi kimono transparan dan sedikitpun tidak menutupi fakta bahwa didalam sana ada banyak sudut yang terbuka.
Kupikir dia marah padaku, pikir Demetrio. Aku tahu ibunya datang dan mungkin mencekiknya tadi, gara-gara Isabel.
Tapi alih-alih terlihat mau membunuh Demetrio, Larisa nampaknya mau merayu Demetrio malam ini.
Menarik, gumam Demetrio lagi. Akan kuberi ciuman lalu menolaknya. Dia pasti kesal.
__ADS_1
Melihat wajah kesal Larisa selalu membuat Demetrio terangsang.
"Kamu berjalan dari kamarmu ke sini dengan pakaian itu?" Demetrio berdecak seolah tak percaya. "Istriku menjadi sangat nakal."
"Kamu tidak suka?"
"Tidak terlalu." Demetrio tersenyum remeh dan kembali fokus pada mejanya. "Tubuh Isabel lebih menggiurkan jadi—"
"Sayang." Larisa membungkam Demetrio dengan panggilan mesra seraya menuntun dia mendongak. "Ada sesuatu yang mau aku katakan."
"Benarkah?" Demetrio melepaskan tangan dari iPad di meja, membiarkan Larisa duduk di pangkuannya.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Demetrio lembut.
Larisa mengalungkan tangannya di belakang leher Demetrio. Mendekat ke rahangnya dan menarik napas dari sana. Aroma tajam dari wewangian yang Demetrio pakai seketika memenuhi penciuman Larisa.
"Aku," Larisa berbisik lemah, "tidak mengerti denganmu."
Demetrio yang tidak menyangka rayuan Larisa ini mau tak mau menelan ludah.
"Mengenai apa? Aku menganggap diriku cukup sederhana dan mudah dimengerti," balasnya, coba untuk menetralkan suasana sensual yang Larisa ciptakan.
__ADS_1
"Tidak, itu sulit." Larisa dengan sengaja membelai rambut belakang Demetrio. "Sangat sulit mengerti tentangmu. Sangat sulit untuk tahu sebenarnya kamu menginginkan aku atau tidak."
"...." Demetrio menyeringai. Tangannya yang bebas bergerak kini naik turun membelai punggung Larisa. "Itu tergantung padamu," bisiknya, balas merayu Larisa. "Kamu menginginkan aku atau tidak, Larisa?"
"Aku ingin." Larisa melarikan tangannya ke leher Demetrio, membelai jugularis-nya yang seketika memaksa napas Demetrio tersekat. "Aku sangat ingin dan selalu menginginkan kamu."
Hanya sesaat setelah itu, Demetrio menarik tengkuk Larisa, mencium bibirnya penuh gairah.
"Kalau begitu tunjukkan," geram pria itu. "Beritahu aku sebanyak apa kamu ingin."
Larisa tersenyum sebelum mengganti seluruhnya dengan desahhan napas.
Niat Demetrio yang awalnya menolak tak bisa terwujud. Pria itu larut dalam buaian hasratnya, tak menyembunyikan nafsu yang bergelora dalam dirinya.
Larisa berhasil merayu Demetrio. Berguling di atas ranjang seolah dunia milik mereka berdua dan tak ada satupun yang boleh mengganggunya.
"Demetrio." Larisa berbisik putus asa dalam pelukannya. "Aku mencintaimu."
Demetrio tersenyum membelai pipinya. "Buktikan padaku, kalau begitu."
*
__ADS_1