
"Aku mencintaimu."
Sakra mengalihkan pandangan dari Larisa yang tertawa terbahak-bahak di depan cermin, menyatakan cinta pada dirinya sendiri.
Sejak dia kembali dari kamar Demetrio, jelas sekali suasana hati Larisa menjadi sangat bagus. Dia bilang bahwa hari ini adalah hari kemenangannya, sekalipun itu hanya kemenangan kecil.
"Aku sudah tahu itu dari dulu, tapi kenapa aku baru memikirkannya sekarang?" gumam Larisa sembari mengacak-acak rambutnya lembut, sangat gembira. "Demi Tuhan, Larisa, seharusnya sejak dulu otakmu sepintar ini."
"Hei, jika kamu tidak mau berbagi denganku maka setidaknya suruh aku keluar dari kamarmu." Sakra menimpali kesal. "Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan dan itu menyebalkan!"
"Aku hanya sedang bahagia karena suamiku adalah pria perkasa."
"Itu menjijikan, Larisa. Luar biasa menjijikkan."
Larisa tetap tertawa tapi kali ini ia juga berpaling, mengisyaratkan Sakra untuk datang mendekatinya. Mengerti akan isyarat itu, Sakra berlutut.
Saat wajah Larisa mendekatinya, Sakra langsung membuka mulutnya seperti dia akan menerima air setelah kehausan.
"Itu benar," bisik Larisa alih-alih mencium Sakra. "Memang seperti itu."
"Apanya?" Sakra menarik wajah Larisa untuk dia melanjutkan itu, tapi Larisa hanya diam.
"Mata Demetrio berbeda darimu." Larisa mengusap-usap kecil sudut mata Sakra. "Dia tidak menatapku seolah-olah dia kehausan dan ingin aku melepaskan rasa hausnya."
"Maksudmu dia lebih baik?" Sakra mengerutkan kening kesal.
__ADS_1
"Tidak. Maksudku dia menatapku berbeda," ucap Larisa sebelum mengecup bibir Sakra. "Dia menatapku dengan keinginan aku memohon padanya."
Sakra mengangkat alis. Tangannya seketika lepas dari wajah Larisa dan Larisa pun melepaskan wajahnya. Namun Sakra tetap berada dalam posisi berlutut, menumpukan dagunya di paha Kalista.
"Apa yang terjadi? Aku benar-benar penasaran apa yang kamu lakukan. Bukannya kamu ingin menggagalkan pernikahan Demetrio?"
"Memang begitu."
"Lalu? Rencanamu?"
"Tidak ada." Larisa membelai rambut Sakra dan tertawa kecil. "Aku sekarang sedang bermain permainan tarik tambang. Aku membiarkan Demetrio menarikku sampai ke garis batas, lalu sekarang giliranku tiba-tiba menarik talinya dengan keras."
"Hm, lalu siapa talinya?"
"Kamu—"
"Ssshhhh." Larisa menggeleng, melarang Sakra bicara seakan-akan seseorang bisa mendengar. "Ini bukan rencana, tapi sebuah percobaan. Jika aku gagal, kurasa aku akan dipermalukan. Tapi jika aku berhasil, aku akan tahu kelemahan Demetrio."
Sakra tidak mungkin membantah jika memang itu adalah tujuannya.
*
Suasana hati Demetrio sangat baik hari ini. Pria itu bahkan tersenyum saat makan siang padahal yang terhidang di meja bukanlah makanan kesukaan Demetrio. Mama sampai heran melihat raut semringah di wajah putranya padahal dia sampai harus libur kerja karena sakit.
Demetrio benci libur kerja, itu catatan penting. Jadi mustahil dia senang.
__ADS_1
"Hal buruk apa yang kamu lakukan, Sayang?" tanya Mama begitu tak tahan melihat senyum Demetrio. "Kamu tahu kamu tersenyum seperti itu dua tahun lalu? Saat kamu membuang Larisa begitu saja. Kamu berpikir bercerai tiba-tiba?"
"Hm? Kenapa Mama berpikir aku ingin bercerai?" Demetrio terkekeh. "Tenang saja, aku tidak akan pernah bercerai. Aku sudah memutuskan dalam hidupku bercerai adalah hal yang tidak boleh terjadi."
"Baguslah," timpal Mama senang.
Demetrio adalah tipe anak yang unik. Walau dia sering melakukan sesuatu diluar dugaan dan kenormalan, tapi jika Demetrio sudah memutuskan sesuatu seumur hidup, dia benar-benar akan melakukannya seumur hidup.
Itu sesederhana Demetrio saat masih kecil pernah berkata tidak akan pernah memasukkan jahe ke mulutnya dan sampai sekarang Demetrio menolak segala makanan dan minuman dengan jahe, bahkan jika itu obat.
Maka berarti sudah dipastikan Demetrio tidak akan bercerai sekalipun dia dan Larisa tidak mau lagi saling melihat nanti.
"Tapi apa yang membuat kamu senang? Setidaknya beritahu Mama."
"Mama tahu aku menyukai seseorang yang seperti apa?"
Mama mengerjap. "Itu mengejutkan tapi Mama mendadak berpikir Mama tidak tahu orang seperti apa yang kamu sukai," ucap wanita itu, sangat terkejut dengan dirinya sendiri.
"Aku menyukai orang yang tidak bisa hidup tanpaku." Demetrio menopang dagunya dan tersenyum. "Seperti Mama yang pastinya akan sangat terluka jika aku pergi. Aku menyukai seseorang yang gila jika aku tidak ada di hidup mereka."
"Ah, kamu membicarakan Larisa? Setelah apa yang dia lakukan?"
"Aku pria pemaaf." Demetrio terkekeh. "Selama dia meminta maaf dengan benar, akan kumaafkan."
*
__ADS_1