Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
26. Ayo Buat Anak


__ADS_3

Larisa tahu Demetrio tidak berbohong. Dia benar-benar cuma kebetulan menemukan Larisa lagi dan bukan sejak awal mau memungutnya. Dia sejak awal mau membuang Larisa dan tidak berniat memungutnya kembali.


Tapi Larisa juga tahu Demetrio sengaja membuatnya kesal jadi kalau Larisa sungguhan memperlihatkan itu, sama saja mengaku bahwa ia terlalu kekanakan.


Aku benar-benar mau membunuhnya. Bagaimana kalau kuberi saja racun pada makanannya agar dia tersedak dan mati?


Larisa mau tak mau membayangkan hal itu karena rasa kesal.


Dan seolah tahu Larisa kesal, Demetrio berbalik padanya setelah tadi dia mendadak sibuk merogoh laci.


"Kamu tahu, Istriku," ucap pria itu, "ayo buat anak."


Larisa mendadak cengo. "Apa?"


Pria itu mengulas senyum polos. "Kamu tidak berpikir bahwa aku sungguhan akan mengikuti permainan tanpa sentuhanmu itu, kan? Aku menikahimu jadi buka kakimu untukku. Mau. Tidak. Mau."


"Tapi kamu berkata ini permainan!" balas Larisa tak terima.


"Apa tidak sengaja aku menyebut 'tanpa hubungan badan'?" tanya Demetrio seolah-olah dia bingung apakah dia pernah membuat kesepakatan atau tidak.


Tentu saja tidak, karena memang tidak ada kesepakatan semacam itu. Hanya ada kejelasan bahwa mereka bertaruh siapa yang duluan takluk.

__ADS_1


"Memang tidak ada kesepakatan soal itu." Larisa beranjak. "Tapi terlepas dari kamu sedang terluka, bukannya hubungan seksual terutama memintanya duluan adalah salah satu tanda kekalahan?"


Demetrio malah tersenyum. "Manisnya istriku yang mencoba lari dari tanggung jawab. Tapi tenangkan dirimu, Sayang, karena kita berdua orang dewasa. Benar begitu?"


Jika kamu lari, kamu kalah dan takut aku menang. Itu jelas adalah apa yang dia sisipkan dalam kalimatnya.


Larisa menatap Demetrio dan hanya terus berpikir memberi dia racun agar mati dengan darah atau busa memenuhi mulutnya. Tapi sepertinya Demetrio bukan orang konyol yang akan mati dengan cara rendahan itu.


Dia mengajak istrinya tidur bersama saat tadi siang istrinya itu menyewa seseorang untuk membunuh dia.


Ya, dia orang gila.


"Kurasa benar." Larisa mendorong Demetrio duduk di ranjang dan naik ke pangkuannya. "Kita berdua sudah dewasa."


Larisa tersenyum. Aku lupa soal itu, pikirnya panik, tidak seperti senyum manisnya. Sialan, sialan, sialan! Jelas dia tahu aku bukan perawan!


"Jangan merusak kepercayaan diriku, Sayang," balas Larisa mesra. "Bagaimana jika aku tidak senikmat bayanganmu? Aku pasti akan menangis."


Demetrio tertawa. "Aku tahu akan sangat nikmat. Tercium dari tubuhmu."


"Keperawananku?"

__ADS_1


Demetrio mengecup sudut bibirnya, "Surgaku."


Sesaat kemudian itu hanya tentang ciuman yang dalam. Larisa membiarkan dirinya larut dalam sentuhan andal Demetrio di tubuhnya. Bahkan dengan satu tangan saja.


Larisa benci padanya, tapi itu tidak membuat Demetrio mendadak jadi buruk rupa dan tidak menggoda.


Satu tangan Demetrio sudah cukup melempar seluruh lapisan penghalang di tubuh Larisa. Perempuan itu memenuhi kamar dengan erangannya, membiarkan sejenak saja Demetrio berkuasa.


Disamping itu, Demetrio pun tidak menolak perasaan yang menggebu-gebu dalam hatinya. Sudah ia bilang, Demetrio sekarang sangat peduli lada Larisa.


Itu membuat Demetrio bersemangat mencium tubuhnya.


Turun dan semakin turun sebelum tiba-tiba Demetrio berhenti, tersenyum menatap milik Larisa.


"Ada apa?" tanya Larisa saat Demetrio hanya tersenyum. "Itu sangat nikmat jadi lanjutkan."


Tentu saja Larisa tahu senyum Demetrio adalah tanda kesal. Matanya terlihat marah karena memastikan Larisa bukan 'perawan' seperti yang dia inginkan.


"Atau kita hentikan?" Larisa bangkit dari posisinya. "Aku tidak keberatan memuaskan diriku sendiri di kamar lain."


Demetrio membungkam Larisa dan melanjutkannya seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


*


__ADS_2