
"Aku tidak mau!" teriak Leadro. "Pokoknya aku tidak mau lagi terlibat dengan Larisa! Aku tidak mau kakakku mengira aku selingkuh dengan istrinya! Iyuh, itu menjijikan, beritahu Larisa! Sangat menjijikan memikirkan aku selingkuh dengan istri kakakku sendiri, terutama kakakku yang sentimental itu! Jika dia mau membunuh Demetrio, lakukan sendiri dan aku tidak peduli! Jika dia mau mati maka lakukan sendiri karena aku juga tidak peduli! Mengerti?! Beritahu dia! AKU TIDAK MAU LAGI! AKU BENCI PADANYA! Beritahu dia!"
Adalah apa yang Leadro racaukan satu jam lalu dan kini pemuda itu berdiri di hadapan kamar Isabel, untuk memastikan apakah dia bisa jadi sekutu atau justru musuh Larisa.
Leadro benar-benar benci pada Larisa! Bisa-bisanya dia mengancam Leadro, berkata akan memberitahu Demetrio bahwa Leadro yang merenggut keperawanannya.
Itu semua omong kosong! Leadro bahkan baru bicara dengan Larisa setelah mereka menikah!
Tapi Leadro tahu jika Demetrio mendengarnya, mau itu benar atau tidak, Demetrio akan marah pada Leadro. Terutama setelah dia melihat Larisa memasukkan lidahnya ke mulut Leadro.
Aku berdoa pada kesialanmu, Kakak Ipar Sialan!
Leadro menggerutu tapi tetap saja melakukannya demi selamat dari Demetrio. Pemuda itu mengulurkan tangan ke pintu kamar, hendak mengetuknya saat tiba-tiba terdengar suara.
"Ohh."
Leadro mendadak beku. Telinganya langsung terfokus pada suara di dalam sana hingga ia memastikan bahwa itu memamg suara 'de-sa-han' wanita.
__ADS_1
"Well," Leadro mundur, "kurasa itu maksudnya 'aku bukan sekutu'."
Banyak wanita menjadi gila karena Demetrio dan Demetrio tahu itu. Jadi sangat mudah melakukan hal seperti ini, bahkan dalam kediamannya sendiri.
Leadro setidaknya bersyukur ia bisa segera pergi dan memberitahu wanita itu bahwa dia memang diduakan.
Yah, siapa suruh mendua duluan.
*
Demetrio langsung menekan tombol off pada ponselnya yang terhubung pada vibrator di tubuh Isabel. Pria itu sejak tadi menatap layar iPad, memastikan Leadro pergi setelah dia mencuri dengar tentang aktivitas di dalam sini.
Dia bermain terlalu jauh, pikir Demetrio kesal. Apa susahnya memohon maaf padaku, hm? Minta saja padaku langsung, jangan menikah karena aku tidak mau terhina.
Kamu menjadi sangat keras kepala, Larisa.
"Demetrio." Isabel di atas ranjang berucap lemah setelah dipaksa untuk menggila oleh alat. "Aku lelah. Sudah hentikan."
__ADS_1
"Maaf, Cantik. Aku terlalu menikmati suaramu." Demetrio meninggalkan tabletnya karena sudah yakin tidak akan ada lagi pengawas dari Larisa.
Didekati calon istri keduanya itu, mengulurkan tangan untuk dia duduk.
Demetrio tidak menyentuhnya. Bukan karena alasan suci namun karena Demetrio memang tidak suka bermain sembunyi-sembunyi.
Sudah Demetrio bilang, kan? Ia tidak suka berselingkuh. Jauh lebih baik Demetrio memutuskan hubungan tanpa sebab lalu memulai yang baru daripada berselingkuh. Itu membuat Demetrio terkesan takut pada Larisa.
"Kerja bagus." Demetrio mengusap dagu Isabel dan tersenyum. "Terus lakukan tugasmu sampai pernikahan kita. Setelah itu, aku akan menyentuhmu sebanyak yang kamu mau."
Isabel mengangguk lemah. Tapi dia menggunakan sisa tenaganya merangkak, menggenggam tangan Demetrio.
"Kamu berkata aku boleh memujamu sesuka hatiku, kan?" bisik gadis itu. "Kalau begitu boleh aku memelukmu juga?"
Demetrio tersenyum penuh kuasa. Wanita yang jujur akan hasratnya adalah wanita favorit Demetrio, maka dengan senang hati pria itu membungkuk, membiarkan Isabel memeluknya.
Alat bermain Demetrio yang baru. Dia akan memastikan Larisa berlutut padanya kali ini.
__ADS_1
*