Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
25. Dengan Sedikit Lidah


__ADS_3

Setelah Larisa memastikan Bilal pergi, wanita itu keluar dari kamar hotelnya menuju kamar hotel Demetrio. Pikir Larisa dia sedang beristirahat karena baru saja dokter datang memastikan kondisi tangannya.


Saat Larisa masuk, ternyata Demetrio sedang bermain catur sendirian.


"Bagaimana tanganmu, Sayang?" tanya Larisa lembut, lengkap dengan senyum manis yang cantik.


Demetrio yang melihatnya tertawa kecil. Itu lucu ketika mereka berdua pura-pura tidak tahu siapa pelakunya.


"Sangat sakit tapi tidak menyiksaku." Demetrio mengisyaratkan Larisa duduk di seberangnya, secara alami mengambil alih bidak catur putih. "Terima kasih sudah khawatir setelah memperlihatkan perselingkuhan yang menjijikan, Istriku."


"Itu hanya ciuman, dengan sedikit lidah."


Senyum Demetrio hilang. "Lalu bagaimana denganku? Kupikir kita tidak pernah berciuman dengan lidah, bahkan di hari pernikahan."


Larisa semakin tersenyum. "Kamu ingin lidah yang disentuh lidah adikmu tadi?"


"Lidahmu milikku, Sayang. Walau itu sedang kotor sekarang." Demetrio terang-terangan memperlihatkan kesan tak senang.


Itu bukan cemburu. Itu hanya tentang dia benci miliknya dimiliki oleh orang lain namun Larisa tetap terhibur. Menghina Demetrio adalah sesuatu yang tidak pernah membuat Larisa bosan.


"Bicara soal itu," Demetrio menutup pembicaraan soal lidah sembari menggerakan bidak caturnya, "kamu tahu begitu kembali hal yang ditanyakan adalah anak, bukan?"

__ADS_1


"Jika anak semudah itu dibuat, kurasa ada rak untuk bayi-bayi siap hidup di supermarket," balas Larisa tak peduli. "Lagipula keluarga Lawrence tidak hancur begitu saja cuma karena bayi tidak lahir hari ini. Masih ada Leadro dan adikmu yang lain."


"Bukankah itu berbeda?" Demetrio mengangkat alis. "Anak dariku dan darimu. Perpaduan yang seharusnya sempurna."


Larisa tertawa saat tangannya balas menggerakan buah catur putih. "Mengapa bisa sempurna, Suamiku? Aku wanita yang kamu buang dan kamu pungut lagi karena terpaksa."


Pria itu malah tergelak. "Kamu ingin mendengar apa? Aku berkata kamu sangat berharga dan aku telah berbuat bodoh membuangmu—atau kamu ingin aku jujur?"


Larisa tersenyum manis. "Kebohongan adalah favoritku belakangan ini."


Maka Demetrio seketika berkata, "Aku menyesal."


Pria itu mengucapkannya dengan wajah yang sungguh-sungguh menyesal tapi meletakkan rajanya satu kotak persis di hadapan raja buah catur putih, yang berarti dia bersikeras untuk menang.


Larisa kembali tertawa. Ia tak tahu apa Demetrio memandangnya terlalu remeh bahkan setelah semua atau dia memang sengaja memancing. Tapi apa pun, Larisa tanpa ragu mengangkat rajanya ke hadapan raja hitam.


"Skakmat," ucap Larisa, pada dirinya sendiri. Ada pion hitam di samping raja Demetrio, jadi seharusnya Larisa mundur.


Maju membuatnya kalah dalam game namun memamerkan bahwa ia melawan kemenangan Demetrio.


Ekspresi Demetrio agak berubah. Dia menatap papan catur yang memperlihatkan kemenangannya tapi juga kesengajaan Larisa kalah demi melawannya.

__ADS_1


Dua tahun waktu yang singkat tapi sepertinya cukup panjang untuk dia berubah total, pikir Demetrio. Kalau begitu dengan senang hati.


Demetrio mengambil raja buah putih dan membuangnya begitu saja.


"Kamu tahu akibat dari melawanku, kan?" ucap Demetrio pada istrinya itu. "Nasibmu tidak akan sama seperti catur ini. Catur berbeda dari manusia."


Larisa belajar cara tersenyum dalam kondisi apa pun dari Demetrio. Makanya sekarang Larisa tersenyum karena ia tahu itu menyebalkan.


"Aku penasaran akan sesuatu, Demetrio." Larisa bersedekap. "Kamu benci seseorang melawanmu tapi kenapa kamu ingin aku melawanmu?"


Demetrio justru tertawa mendengarnya. "Kamu membuatnya terdengar sangat spesial, Sayang. Aku menyesal mengecewakanmu."


"Apa?" Larisa sedikit mengerutkan kening.


"Aku tidak memungutmu, kamu tidak tahu itu?" Demetrio beranjak. "Aku hanya menyuruh Henderson pergi bertanya padamu apakah kamu mau menikah denganku lagi atau tidak. Jika kamu menolaknya, itu bahkan bukan kulit kacang bagiku. Tapi kamu menerimanya dan aku terhibur dengan itu. Kamu mengerti?"


Dengan kata lain ini semua hanya sebatas kebetulan, termasuk soal Demetrio memedulikan perubahan Larisa.


Pria itu tertawa semakin geli melihat kemarahan di wajah Larisa.


"Jangan terlalu kesal. Setidaknya sekarang aku peduli, kan? Aku sangat peduli padamu sekarang."

__ADS_1


*


__ADS_2