
Sakra berusaha pergi diam-diam sementara Larisa mengalihkan perhatian Demetrio dengan terus bersamanya ke pusat kota. Pria muda itu pergi menuju padang pasir, tempat yang menurut Larisa adalah lokasi pertemuan yang Bilal inginkan.
Butuh waktu dua puluh menit bagi Sakra berjalan sampai akhirnya ia menemukan sosok Bilal duduk berteduh di pohon entah apa.
"Sudah kuduga bukan wanita itu," ucap Bilal dengan bahasa lokalnya.
Sakra tak menguasai bahasa seperti Larisa jadi pria itu berucap, "Can we just speak in English?"
Bilal beranjak. "I hate english but yeah whatever," balasnya sebagai tanda persetujuan. "Lalu, di mana istri pendendam itu? Aku harus memintanya membayarku dengan lima ratus unta. Seratus unta untuk satu nyawa."
"Untuk ukuran pembunuh bayaran, kalian menghargai nyawa kalian terlalu mahal." Sakra sebenarnya cuma disuruh untuk memberitahu Bilal bahwa dia bisa menemui Larisa di hotel malam ini. Tapi, Sakra sedikit kesal dengan anak panah yang tadi melayang ke kamar Larisa.
Jika mengenai Larisa, itu bisa saja membunuhnya atau minimal melukai dia secara permanen.
"Bisa kuanggap itu balasan dari wanita itu?" kata Bilal sambil mengeluarkan senjata tajam dari balik punggungnya.
"Tidak, itu dariku. Tapi yah, aku memang berpikir bahwa kalian tidak semahal itu. Terutama setelah gagal membunuh orang yang seharusnya kalian bunuh."
Bilal tertawa. "Hargai nyawamu, Nak, karena kami tidak mengenal peraturan jika sudah berurusan dengan harga diri."
__ADS_1
Sakra benci orang ini. Ia hanya bisa mengatakan itu untuk sekarang.
"Larisa mau menemuimu, tapi dia harus mengurus suaminya sekarang." Sakra akhirnya mengeluarkan kertas titipan Larisa untuk Bilal. "Dia akan menemuimu di sini."
Pria itu mengambil kertas dari tangan Sakra dan membacanya. Di sana tulisan Arab jadi Sakra tidak tahu apa namun Bilal langsung tertawa membacanya.
Bilal awalnya marah pada Larisa. Mau tak mau Bilal berpikir bahwa Larisa menjebaknya. Dia menekankan bahwa dia ingin pembunuhannya dilakukan dengan panah dan tak lebih, tapi kemudian mendadak muncul helikopter menembakkan peluru tanpa henti.
Itu seperti dia sengaja membunuh kelompok Bilal. Namun isi kertas ini sudah cukup membuat Bilal merasa sedikit tenang.
[Dari lubuk hatiku terdalam, aku minta maaf atas kematian orang-orangmu. Jika aku tahu suamiku mempersiapkan sesuatu yang gila, akan kuminta kalian menjadi lebih gila. Kupikir dia hanya akan melawan dengan tangan kosong.
Dia tidak perlu minta maaf karena dia bisa saja langsung pergi. Jika dia minta maaf, maka berarti dia masih ingin melanjutkan hubungan baik mereka.
"Aku mengerti." Bilal memasukkan kembali senjatanya. "Beritahu Nyonya aku akan datang. Tapi ingat aku mungkin tidak sendirian."
Sakra yang tidak mengerti kenapa Bilal tertawa hanya berbalik pergi, merasa kesal tiba-tiba.
*
__ADS_1
"Kamu datang sendirian," ucap Larisa ketika melihat Bilal muncul di kamarnya. Padahal Larisa sudah bersiap kalau Bilal membawa setidak lima atau tujuh orang sebagai bentuk ancaman agar Larisa bertanggung jawab.
"Kamu juga sendirian," balas pria itu, melihat tidak ada satupun orang di sekitar Larisa.
"Jika ada orang lain maka kamu mungkin menganggap aku ingin balas mengancam." Larisa mengangkat bahu.
Bilal tersenyum kecil. "Suamimu, aku tidak berhasil membunuhnya tapi dia membunuh lima orangku. Berkat itu aku mendapat sedikit tamparan."
"Maaf soal itu." Larisa berucap tenang sembari tangannya menyeduh minuman untuk mereka berdua. "Lalu, pertanggung jawaban macam apa yang harus aku lakukan? Membayarmu dengan lima ratus unta, seperti kata Sakra?"
Pria itu tertawa. "Uangmu cukup untuk itu? Asal tahu saja, unta berkualitas berharga satu miliar. Itupun sudah cukup murah."
Larisa tahu itu dan sejujurnya itu sangat berlebihan. Setengah triliun untuk lima nyawa pembunuh. Omong kosong.
Ketika Bilal datang ke sini, Larisa tahu dia tidak ingin meminta uang setengah triliun. Bilal merespons 'kesepakatan' yang Larisa tuliskan di pesannya.
"Mari bernegosiasi," ucap Larisa seraya menyerahkan cangkir teh susu ke tangan Bilal. "Tentunya, membicarakan keuntungan untuk kita berdua."
*
__ADS_1