
Bilal mengangkat alis. "Aku sedikit percaya teh ini beracun."
"Kecuali kamu alergi susu kambing maka ya, itu beracun."
Bilal dibuat tertawa. Sungguh, sejak awal bertemu perempuan ini sudah menarik perhatiannya. Dia tidak kenal takut dan terlihat sangat percaya diri. Bilal bahkan ragu dia wanita sungguhan.
Apa karena dia merasa Bilal akan bersikap baik?
Tapi Bilal menahan rasa penasarannya dulu, menyesap teh susu yang ia tahu tidak beracun itu.
"Kematian lima orangku memang merepotkan. Dan itu bukan bohong mereka ingin kamu membayar setidaknya tiga ratus ekor unta atau tiga ratus miliar dalam mata uang negaramu."
Ya, Bilal sudah cukup tahu tentang siapa wanita ini. Ia mencari tahunya untuk melihat hubungan seperti apa yang dia miliki dengan si Suami Tercintanya itu.
"Aku tidak membayar nyawa pembunuh semahal itu," jawab Larisa apa adanya. "Sejujurnya, aku tidak berniat membayar mahal dan aku percaya kamu bisa memikirkan hal lain selain dari unta."
Bilal mendengkus. "Kalau begitu bagaimana dengan ini? Aku akan ikut denganmu, kembali ke negaramu sampai suamimu berhasil mati. Baru setelah itu aku minta bayaranku."
__ADS_1
Larisa mengerutkan kening. "Dengan kata lain kamu mau aku membiarkan kamu, yang memiliki motif dendam ikut denganku sebagai orangku?"
"Ya dan dendamku padamu tentang lima nyawa anak buahku bisa redam jika kamu membiarkanku ikut bermain."
"Seseorang pernah memberitahumu jika kamu bicara omong kosong?" balas Larisa spontan.
Membuat Bilal tertawa geli dan meletakkan cangkir tehnya yang telah kosong. "Kamu harus setuju. Kamu tidak keluar dari negara ini jika menolak. Kami orang barbar yang kasar, asal kamu tahu, Nyonya Muda."
Larisa mau tak mau mengerutkan bibirnya.
Nyawa manusia tentunya mahal. Namun nyawa pembunuh yang dengan kata lain pernah membunuh dan mungkin sering membunuh—setidaknya jauh lebih murah daripada nyawa manusia biasa.
Aku bisa memberikan kalau itu hanya tentang mobil super mahal tapi dia justru ingin ikut? Jelas ini seperti dia mengikutiku sambil menodongkan pistol.
"Aku tidak akan menyakitimu," ucap Bilal tiba-tiba. "Kamu yang menyuruhku datang ke sana sampai orangku terbunuh, tapi kamu membayar kami dan itu adalah pekerjaan. Suamimu yang membunuh mereka jadi musuhku adalah musuhmu juga. Bukan kamu."
"Aku tidak percaya." Larisa menghela napas. "Tapi baiklah. Kamu bisa ikut."
__ADS_1
"Cepat juga," kata dia seolah terkejut. "Kupikir aku harus mengancammu agar mau. Kenapa berubah pikiran?"
Yah, karena Larisa percaya diri? Atau setidaknya anggaplah begitu. Kalian tidak lupa bahwa Larisa punya pendukung, kan?Dan sekarang Larisa sudah memikirkan sebuah tugas yang sangar amat pantas untuk orang ini jadi dengan senang hati Larisa biarkan dia ikut.
"Kamu bisa pergi ke negaraku sendiri, kan? Suamiku sedang sensitif jadi aku tidak mau membawamu bersama kami sekalipun kamu duduk di kursi kelas ekonomi."
Bilal mengangkat bahu. "Cukup beritahu di mana kita harus bertemu."
"Kita tidak akan bertemu secepat itu," balas Larisa seraya mengambil kertas dan pulpen yang disediakan pihak hotel di kamarnya.
Larisa menuliskan alamat dan nama seseorang yang harus Bilal temui dulu.
"Pegang kertas ini dan sampaikan secara langsung padanya. Berikan kertasnya jika sudah selesai. Dengan begitu kita resmi bekerja sama."
Bilal tersenyum. "Baiklah."
*
__ADS_1