Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
21. Sesuai Rencana


__ADS_3

Demetrio sudah berusaha keras mencari petunjuk tapi Larisa benar-benar cerdas menyembunyikan segalanya. Hari ini pasti ada sesuatu dan Demetrio yakin ia harus berpura-pura mengikuti skenarionya.


Unta tunggangan Demetrio berjalan seperti tanpa arah, namun secara pasti mengikuti Sakra perlahan.


Demetrio melihat dari kejauhan pemuda itu hanya mengambil beberapa gambar lewat kamera seolah-olah ada sesuatu yang menarik dari padang pasir.


Baru saja Demetrio ingin turun dari untanya, sebuah anak panah melesat dari kejauhan. Demetrio terkejut, tapi secara insting ia menangkap anak panah yang mengarah padanya sekaligus menghindari tubuhnya terkena sasaran.


"Ugh." Demetrio mengerang. Ujung panah berhasil menancap di lengannya, membentur tulang Demetrio secara langsung.


Bersamaan dengan teriakan histeris penjaganya, Demetrio menoleh ke arah anak panah itu datang. Melihat jelas seorang pemuda di atas kuda, tengah memegang busur tradisional.


"Tuan Muda!"


"Aku baik-baik saja," ucap Demetrio susah payah, karena sebenarnya tidak baik-baik saja. "Sesuai rencana, Ayunda."


Suara helikopter tiba-tiba terdengar disusul suara senapan kaliber besar ditembakkan. Tapi daripada peduli tentang itu, Demetrio justru menoleh ke arah istrinya berada, tertawa menemukan itu tersenyum.


"Aku tahu itu," gumam Demetrio senang. "Aku tahu kamu jadi sangat menarik sekarang."


Sementara di sisi Larisa, senyum Demetrio benar-benar sesuai dugaannya. Lengan dia bersimbah darah dan wajahnya pucat oleh rasa sakit, tapi Demetrio malah tergelak senang.

__ADS_1


Seolah-olah dia menemukan sebuah permainan yang telah dia tunggu seumur hidupnya.


Di sisi Larisa, Leadro cengo. Dia sempat terkejut melihat darah di lengan Demetrio namun Leadro bingung sebab kakaknya malah tertawa.


"Demetrio—"


"Leadro." Larisa menarik lengan adik iparnya agar berbalik.


Baru saja Leadro tersentak akibat tarikan itu, hal selanjutnya justru mencabut nyawa Leadro sekaligus menghapus tawa Demetrio.


Larisa menarik wajah Leadro dan menciumnya begitu saja.


*


"JAUH LEBIH BAIK MENUDUHKU SEBAGAI PEMBUNUH DARIPADA INI!"


Larisa menatap kuku lentiknya sambil berpikir jika pulang nanti, ia harus mengganti warna kuku menjadi lebih hitam.


"Aku tidak bisa diam saja." Leadro menggeleng dramatis, berhenti mondar-mandir dan menarik napasnya panjang. "Baiklah, akan kuberitahu semuanya pada Demetrio. Akan kubuka semuanya karena aku tidak pernah setuju jadi selingkuhanmu! Disamping itu, aku benci rasa bibirmu!"


"Jadi kamu mengingat rasa bibir istriku?"

__ADS_1


Leadro melotot horor. Dengan kaku pria muda itu berbalik, menemukan Demetrio berdiri di pintu dengan tatapan yang sangat-sangat-sangat beku.


Mulut Leadro langsung diam seribu bahasa. Sedangkan di belakangnya, di sofa santai, Larisa malah tertawa.


Bukankah Larisa sudah bilang ia mau membuat Demetrio salah paham? Dan Larisa sangat tahu bahwa Demetrio itu paling benci sesuatu yang sudah dia senangi malah dinikmati oleh orang lain.


Yah, sebut saja dia pria kikir. Dia benci berbagi. Dan jelas dia benci diduakan karena itu sama saja berkata dia sama seperti yang lainnya.


"Aku bisa menjelaskan," ucap Leadro gugup. "Larisa hanya—"


"Aku tidak mengizinkanmu menyebut nama istriku lagi." Demetrio mendekat, menyentuh bahu Leadro saat membungkuk. "Enyah dari sini. Aku akan pulang berdua dengan istriku saja."


"Kakak—"


"Sayangnya, Demetrio," Larisa beranjak, menarik lengan Leadro, "aku berjanji pulang bersama Leadro jadi jika ingin tinggal lebih lama, lakukan sendiri."


Leadro melotot semakin horor. Tapi ketika melihat bagaimana Larisa tersenyum pada Demetrio, Leadro tahu ia tak bisa mundur lagi.


Aku harus memastikan Kakak yang membunuh penyihir ini, gumam Leadro dalam benaknya. Dengan begitu dia akan percaya bahwa semuanya salah paham.


*

__ADS_1


__ADS_2