Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
7. Hari Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan Larisa berada di depan matanya sekarang. Hanya tersisa beberapa jam saja menuju pernikahan. Sambil menunggu waktu yang ditentukan itu datang, Larisa berusaha sangat keras untuk tidak banyak tertawa.


Ia senang.


Dirinya sangat senang karena menikah hari ini.


Inikah yang dirasakan semua wanita saat mereka menghadapi pernikahan mereka? Perasaan di mana jantung berdebar keras dan segalanya terasa memburam oleh rasa antusias.


Ah, menunggu dua jam lagi sangatlah lama.


"Bukankah kamu agak terlalu memperlihatkan kebahagiaan di wajahmu itu?" bisik seseorang dari belakang kursi Larisa.


Lewat cermin di depannya Larisa bisa melihat betapa rapi dan tertata pria itu. Dia memasang ekspresi datar miliknya, menatap Larisa juga lewat pantulan cermin.


Karena ekspresinya itu, Larisa tersenyum.


"Pengantin memang harus tersenyum, kan?"


"Aku merasakan keinginanmu memutilasi seseorang dari senyum itu, No-na Mu-da."


Larisa memejam. Agak mendengkus karena tak bisa berkata dia salah. "Panggil aku Nyonya."


"Cih."


"Tidak ada salahnya tersenyum bahkan saat berpikir memutilasi orang. Bahkan di hari pernikahan." Larisa menopamg kepalanya dan tersenyum kembali. "Siapa yang tidak bahagia menjadi istri Tuan Muda Lawrence?"

__ADS_1


Mereka keluarga yang membuat Paman dan Ibu bahkan tidak berkutik, jadi jelas saja Larisa cuma bisa merasa senang.


Sangat amat senang.


*


"Demetrio Lawrence mengemis kembali cinta Larisa Oktavia sampai akhirnya bersikeras menikahinya lagi."


Orang yang mengucapkan kalimat itu tak lain adalah Demetrio ketika sejumlah penata rias memasangkan pakaian pengantin ke tubuh kekarnya.


"Setelah beberapa hari memutuskan hubungan dengan Viviane Sudirmojo, Demetrio segera melangsungkan pernikahan. Patut dicurigai bahwa hubungan Demetrio dan Larisa kembali bersemi beberapa bulan sebelum terkuaknya hubungan mereka."


Pelayan setia Demetrio seketika berucap, "Kira-kira itu yang tersebar di seluruh media, Tuan Muda."


Fitnah yang sangat tidak lucu tapi anehnya malah terdengar cukup menarik.


"Aku sudah melihat dia memang sedikit berubah." Demetrio hanya tampak menikmati ketika semua orang di luar sana beranggapan dirinya mengemis cinta. "Tapi tidak kusangka dia jadi berhenti membosankan."


"Saya berasumsi Anda memilih diam atas perbuatan Nona, Tuan Muda?"


"Hm? Tidak. Sudah terlanjur." Demetrio menatap pantulan dirinya di cermin.


Pakaian pengantin berwarna putih dengan aksen emas itu tampak sangat megah sekalipun ini baju yang dibeli secara instan.


Tampan memang segalanya. Pakaian murah ini kini terlihat seperti pakaian yang dijahit selama berminggu-minggu oleh penjahit profesional.

__ADS_1


"Sebarkan saja berita bahwa calon istriku sedang hamil. Hiasi dengan hal-hal sesukamu."


"Anda yakin, Tuan Muda? Tuan Besar akan menegur Anda jika—"


"Tidak masalah. Toh, dia juga akan segera hamil."


Justru karena itulah masalahnya. Kalau nanti Larisa benar-benar hamil cepat, orang akan mengira dia hamil duluan dan reputasi keluarga Lawrence akan terusik.


Tapi kalau Demetrio sudah membantah sebuah saran, berarti dia tidak mau diajak berdiskusi. Lakukan saja sesuai perintah.


"Saya akan menyebarkan berita tambahan bahwa Nona Muda menantikan pernikahan ini sejak dua tahun terakhir."


Demetrio tersenyum kecil. Ah, itu juga lucu. Karena Demetrio tahu dua tahun terakhir kucingnya itu hanya menyimpan kebencian dan bukannya penantian akan pernikahan.


Yah, terserah saja. Toh, dia sendiri memulainya.


"Demetrio." Pintu ruangan terbuka disusul kemunculan Mama bersama gaun megahnya.


Kipas di tangan wanita itu menunjukkan seberapa serius Mama bahkan ketika ini acara yang mendadak diadakan.


"Kamu sudah selesai? Ayo turun. Papamu sudah menunggu."


"Baik." Demetrio berbalik. Berjalan mendekati Mama dan menggandengnya. "Aku sudah tampan, Ma?"


"Memang pernah kamu tidak?"

__ADS_1


Tidak pernah, sih.


*


__ADS_2