Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
15. Fir'aun


__ADS_3

Berkeliling dunia untuk urusan pekerjaan dan pembelajaran bisnis sebenarnya cukup lazim di kalangan mereka, namun Larisa harus jujur bahwa ini kali pertama kakinya menginjak tanah Afrika Utara, yaitu Mesir, negeri yang melekat kuat dengan piramida dan padang pasirnya.


Lokasi yang dipilih untuk bulan madu mereka berhadapan langsung dengan gurun pasir yang luas dan terlihat sulit ditebak ujungnya, membuat Kalista merasa senang berdiri di antara hamparan pasir tersebut.


"Udara cukup panas," gumam Sakra sembari memegangi payung untuk Larisa. "Dan kosong. Tidak ada pepohonan sama sekali."


"Ya," jawab Larisa sambil tersenyum. "Akan sulit bersembunyi jika 'sesuatu' terjadi."


Kata 'sesuatu' membuat Sakra melirik, tetapi tidak membalas apa-apa karena berbahaya. Seseorang bisa mendengarnya dengan jelas. Dan jika Demetrio mendengarnya, orang itu bisa saja menebak seluruh rencana Larisa tanpa sisa.


"Kamu tahu tentang Ramses II, Fir'aun yang paling terkenal di dunia?" tanya Larisa seperti sedang basa-basi.


Baru saja Sakra ingin menjawab, terdengar sebuah suara di belakang mereka. "Monster yang disebut-sebut sebagai salah satu Raja Terkejam dalam sejarah. Siapa yang tidak mengenalnya?" Itu suara Demetrio, datang memakai kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidung mancungnya.


Larisa dan Sakra sama-sama menyipit karena tidak merasakan kehadiran Demetrio.


Penuh ketenangan, Larisa memberi isyarat agar Sakra pergi, mengambil alih payungnya sendiri. "Dia juga sama-sama dikenal sebagai Raja yang hebat," imbuhnya. "Membangun banyak hal, memperluas wilayah dengan militer, dan menjadi Fir'aun terkuat dalam sejarah."


Demetrio jelas tahu bahwa mereka berdua tidak sedang 'membicarakan' Fir'aun, namun ia mengikutinya seolah tidak tahu. "Kamu menyukai atau tidak menyukainya, Larisa?"

__ADS_1


"Mungkin enam puluh persen aku tidak menyukai, sisanya cukup menyukai."


"Apa yang kamu tidak sukai?"


"Dia adalah pemimpin yang tidak memikirkan rakyatnya," jawab Larisa dengan tegas.


Demetrio tertawa. "Mengejutkan. Ternyata Larisa bisa berpikir secara idealis. Apa kamu sungguhan percaya ada pemimpin yang memikirkan rakyatnya?"


"Tidak," jawab Larisa sambil mendongak. "Karena itulah aku tidak suka. Tidak ada salahnya menjadi idealis, dan jika aku adalah Ramses II, aku punya cukup kekuatan untuk mensejahterakan diri aku sendiri tanpa menghisap rakyatku."


"Jadi begitu. Cukup masuk akal."


"Dan lebih terus terang lagi, aku membenci orang yang menduduki kursi kepemimpinan lalu berpikir bahwa dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan."


"Tapi, Larisa," Demetrio melepaskan kacamatanya dan memasangkannya pada Larisa, "manusia adalah makhluk yang terlalu serakah untuk memberikan keadilan bagi orang lain."


"Kamu memahami bahwa sejak awal, sistem kepemimpinan dibuat untuk memperbudak, bukan mensejahterakan siapa pun kecuali pemimpinnya," jelas Demetrio.


Larisa mendengus mendengar Demetrio memancingnya. "Ada banyak catatan yang mengatakan Ramses II membunuh banyak rakyatnya sendiri, bahkan anak-anak dan wanita."

__ADS_1


"Kamu bersimpati?"


"Aku hanya berpikir bahwa Ramses II bisa menjadi Raja yang terbaik bahkan jika dia tidak membunuh rakyatnya. Kamu tidak berpikir bahwa semua pembunuhan itu sebenarnya hanya sia-sia?"


"Mungkin saja," jawab Demetrio.


Larisa melirik Demetrio dari balik kacamata hitam yang ia berikan. "Aku tidak seidealis itu. Aku membenarkan pembunuhan jika itu memiliki alasan yang bagus."


Dan Larisa selalu berpikir bahwa dunia akan sedikit lebih damai bagi semua orang di sekitarnya jika Demetrio Lawrence mati. Karena itulah, Larisa akan membunuhnya. Orang yang merugikan hidup orang lain lalu menikmatinya tidak pantas hidup di dunia yang sudah buruk rupa ini.


Malam itu setelah mereka tiba di lokasi bulan madu, mereka berdua tidur terpisah satu sama lain. Larisa tidur di kamarnya sendiri, dan Demetrio tidur di kamar sendiri pula. Ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam, udara dingin gurun pasir mulai menusuk.


Saat itulah ....


"Sepertinya Demetrio sudah terlelap di kamarnya, Nyonya," lapor Mia atas perintah Larisa.


Perkataan itu seketika jadi alasan bagi Larisa untuk menarik jubah dan memasangkannya pada tubuhnya, diikuti oleh Sakra. "Terus awasi dia," titah Larisa pelan, agar tidak ada yang mendengar selain mereka. "Demetrio pasti curiga kenapa aku memilih tempat ini jadi bisa saja dia datang tanpa alasan nanti. Pastikan untuk terus mengawasinya."


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


Larisa menutup seluruh kepalanya dengan tudung jubah. "Ayo pergi."


Waktunya mempersiapkan pembunuhan.


__ADS_2