Balas Dendam Pada Suami Gila

Balas Dendam Pada Suami Gila
19. Tidak Lucu


__ADS_3

"Larisa." Sakra menyebut nama Larisa dengan sedikit panik ketika mereka berjalan di gurun.


Tidak perlu bertanya ada apa, Larisa juga sudah melihat dari kejauhan sana, sinyal dari Mia menyala. Dengan kata lain, Demetrio terbangun.


"Ayo bergegas." Larisa mempercepat langkahnya dan mengabaikan dingin yang menusuk. Ia tentu berharap dalam hati jika Demetrio tidak sampai di kamarnya sebelum Larisa datang, tapi Larisa juga sudah menyiapkan alasan dan pencegahan.


Sementara di sisi lain, Demetrio berjalan melewati lorong. Langkah tenang, tidak terburu-buru mencapai kamar Larisa.


Sejak bangun, aku punya firasat dia tidak ada di kamarnya.


Demetrio cukup yakin bahwa Larisa sedang pergi. Menjelaskannya akan sangat merepotkan, tapi jika Larisa merencanakan sesuatu, di tempat asing ini, mau tidak mau dia harus melakukannya sendiri.


Yah, kecuali kalau Demetrio salah duga.


Langkah demi langkahnya terdengar samar di sepanjang lorong. Berbelok semakin mendekati kamar Larisa, sebelum berhenti tepat di depan pintunya.


Demetrio tersenyum memikirkan apa yang mungkin sedang Larisa lakukan. Tangannya terangkat, berencana mengetuk pintu ketika tiba-tiba pintu itu ditarik terbuka dari dalam.


Bersamaan dengan Demetrio terkejut, wajah istrinya juga terkejut.


"Demetrio?" Larisa yang pucat mengerutkan kening. "Apa yang kamu lakukan di depan kamarku?"


Aku salah? Demetrio meragukan kesalahannya sendiri.


Tapi sejurus kemudian pria itu tersenyum. "Memangnya aneh suami mendatangi istrinya saat bulan madu? Tidur beda kamar justru lebih aneh."


"Begitu." Larisa berucap cuek, melewati Demetrio begitu saja.

__ADS_1


"Kamu ingin ke mana?"


"Apa lagi? Membuat minuman hangat."


"Tinggal suruh pelayanmu, kan?"


"Keduanya sudah tidur. Mereka juga punya hak beristirahat."


Demetrio menatap isi kamar Larisa sementara wanita itu semakin menjauh. Isinya rapi dan tidak ada tanda-tanda Larisa baru saja keluar.


Walau sulit percaya, nampaknya Demetrio memang salah duga. Atau Larisa baru akan keluar besok?


"Kalau begitu," Demetrio berbalik, menyusul langkah Larisa, "buatkan untukku juga."


Di sisi lain, Larisa sejujurnya masih berusaha mengatur napas. Dinginnya padang pasir ternyata sangat membantu di saat seperti ini.


Terlambat sebentar saja pasti Demetrio tahu ia keluar.


"Hanya ada susu hangat." Larisa mengulurkan segelas susu pada Demetrio. "Seingatku kamu benci susu."


Demetrio duduk di kursi meja makan. Menyesap susu hangat itu dengan anggun. "Sebagai seorang suami, memakan dan meminun apa pun dari tangan istrinya adalah adab."


Memang tidak ada yang bisa mengalahkan sifat menyebalkan Demetrio.


Larisa cuma diam, ikut meminun susu hangat itu di seberang Demetrio. Sejenak, hanya ada hening du antara mereka. Tapi terpecah oleh ucapan Demetrio.


"Perempuan atau laki-laki?"

__ADS_1


"Apa?"


"Anak pertama kita." Demetrio tersenyum penuh arti. "Aku ingin tahu kamu berharap itu perempuan atau laki-laki."


Bukankah membicarakan hal semacam itu aneh ketika mereka bahkan tidur terpisah? Tentu saja, membuat anak bisa dilakukan kapan saja dan itu tidak seperti Demetrio tercegah melakukannya.


"Entahlah." Larisa menjawab ambigu. "Daripada menentukan jenis kelamin anak, bukankah jauh lebih menarik membahas kesiapan kita berdua menjadi orang tua?"


"Aku siap."


"Aku tidak."


Demetrio mengangkat alis. "Tidak siap? Wanita sepertimu?"


"Memang wanita sepertiku itu terlihat siap?"


Suaminya itu tertawa lepas. "Ini sudah terlalu malam untuk bicara berbelit-belit, Sayangku. Katakan saja langsung."


Lebih tepatnya Larisa tidak siap jika ayah dari anaknya adalah pria semacam ini. Dan lebih lagi, bagaimana bisa Larisa melahirkan anak saat ayahnya sudah mati membusuk di neraka?


Kasihan nanti anak itu. Jadi Larisa akan memilikinya setelah nanti ia menemukan pria yang tidak akan membusuk di neraka.


"Mama dan Papa akan mendesak kamu hamil, kamu tahu itu, kan?" Demetrio menatapnya seolah tahu Larisa tidak ingin. "Tujuan dari pernikahan kita adalah menambah keturunan Lawrence secepatnya. Tidak akan lucu aku harus membuangmu lagi karena ternyata tidak berguna, kan?"


Larisa hanya tertawa. "Benar juga. Tidak lucu."


Lelucon yang sama itu tidak akan lucu lagi. Karena itulah sekarang yang harus dibuang adalah Demetrio. Agar semuanya kembali 'lucu'.

__ADS_1


*


__ADS_2