
Pagi itu, Larisa turun untuk bergabung dalam acara sarapan bersama keluarga barunya. Mia memperindah penampilannya agar terlihat cantik dan anggun dengan memakai pakaian mewah sederhana sehingga tampak elegan namun tidak sombong.
"Lihat, istriku sudah turun." kata Demetrio sambil berdiri, menarik kursi di sebelahnya untuk Larisa. "Duduk di sini, Sayang."
Larisa tersenyum tanpa bicara, duduk dan mengamati. Ayah, ibu, kakek, kedua saudara dan saudari Demetrio semuanya sudah duduk di sana. Saat dilihat dengan sekilas, nampak jelas perasaan mereka. Keluarga ini sepenuhnya tahu dan paham bahwa pernikahan Demetrio semata untuk keuntungan semata diluar kasih sayang.
"Larisa," kata Mama Mertuanya saat pertama kali membuka suara. "Kamu menghabiskan waktu di kamarmu sejak kemarin."
"Padahal seharusnya kamu ke kamar pengantin." lanjut Mama Mertua.
"Demetrio tidak mengajak saya." jawab Larisa dengan formal karena wanita ini tidak pernah menyuruhnya untuk bersikap santai.
"Mama, aku bukan orang mesum yang tidak bisa menahan diri padahal baru mengadakan pesta seharian penuh." ujar Demetrio sambil tertawa. "Tenanglah. Aku dan Larisa punya banyak gaya referensi. Benar kan, Sayang?"
Larisa hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada yang membahas masalah Viviane kemarin?" tanya adik perempuan Demetrio, Rihana. "Aku rasa itu jauh lebih penting dibahas daripada urusan malam pertama Kakak."
"Tidak juga," jawab Demetrio santai. "Bukankah sudah jelas Viviane hanya gila?"
Semua orang di sana, terutama saudara-saudara Demetrio, kompak berpikir bahwa kakak mereka sangat menyeramkan. Tidak ada yang meragukan bahwa semua itu perbuatan Demetrio sendiri.
Bahkan mereka sempat berpikir bahwa Demetrio sengaja melakukan itu untuk membatalkan lagi pernikahannya, namun semua pemikiran itu tidak disuarakan. Sebab Demetrio memang seperti itu dan tidak ada yang berharap dia berubah menjadi lebih waras.
"Lalu?" kata kakek Demetrio, Albert. "Kamu ingin berbulan madu ke mana?"
Demetrio melirik Larisa. "Entahlah. Kamu ingin ke mana, Larisa?"
"Mesir, kalau tidak keberatan," kata Larisa.
Demetrio agak terkejut mendengar pilihan bulan madu Larisa. Dari semua tempat yang bisa dipilih, seperti Hawaii, Eropa atau bahkan Korea, Larisa memilih Mesir?
__ADS_1
Dia tidak percaya bahwa Larisa memilih destinasi tersebut untuk menghabiskan malam panasnya di bawah langit Mesir.
"Pilihanmu agak mengejutkan." kata Mama Mertua dengan wajah bingung. "Kamu bebas memilih tempat, tapi kenapa Mesir? Kenapa bukan Paris?"
Larisa tersenyum manis seolah-olah tengah membayangkan hubungan cintanya dengan Demetrio bersemi di gurun pasir dan piramida.
"Saya hanya ingin melihat padang pasir. Tentu, jika tidak bisa, saya tidak keberatan."
"Tidak perlu khawatir, pergilah ke sana. Itu tidak masalah selama hubungan kalian berjalan baik." kata Mama Mertua.
"Kebetulan, iparmu, Leandro, punya urusan di sana beberapa waktu. Kamu bisa pergi bersama-sama. Kamu tidak keberatan, kan, Demetrio?" kata Mama Mertua lagi.
"Tentu, kenapa tidak?" kata Demetrio sambil merasa bahwa Larisa pasti merencanakan sesuatu dalam perjalanan mereka. Dia hanya ingin menikmati bagaimana keberhasilannya dalam memenangkan taruhan mereka ke depan.
Apa pun rencananya, mari kita lihat nanti.
__ADS_1
Sementara itu, Larisa, yang memang merencanakan sesuatu, hanya berpura-pura tersenyum lembut, seolah-olah menjadi menantu yang baik hati.
Kalau rencananya berhasil... Demetrio akan mati.