BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 10


__ADS_3

...***...


15 tahun saat ini.


Kusna dan Taraka baru saja sampai di bukit kegelapan. Keduanya tentunya menggunakan jurus meringankan tubuh supaya lebih cepat sampai. Apa lagi mereka tidak ingin kena amukan Hadi Gama jika mereka datang terlambat.


"Ayah."


"Akhirnya kau sampai juga kusna."


"Paman taraka yang mengatakan jika ayah memanggil saya. Jadi tidak ada lasan untuk saya menolak panggilan ayah."


"Bagus kalau kau selalu siap jika kau panggil."


"Memangnya apa yang akan ayah tugaskan pada saya?."


Tentunya pemuda itu sagat bingung dengan alasan kenapa ia dipanggil oleh ayah angkatnya itu.


"Kau lumayan lama menjelajahi dunia kependekaran, dan aku memiliki tugas yang sangat penting untukmu."


"Memangnya tugas apa ayah?."


"Kau bimbing adikmu cakrawala untuk segera berburu. Cari siapa saja yang dulu telah menyakiti aku dan paman-pamanmu ini. Sekaligus kau ajari dia jurus gagak pematik tali raga."


Kusna terlihat memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Hadi Gama, namun saat itu matanya tidak melihat keberadaan orang yang mereka sebutkan.


"Memangnya adi cakra berada di mana ayah?. Kenapa saya tidak melihat adi cakra?."


"Saat ini dia sedang diobati oleh ibumu. Jadi kau tunggulah beberapa saat lagi."


"Baiklah ayah. Kalau begitu saya akan menunggu."


Ia juga tidak bisa membantah apapun yang telah dikatakan ayah angkatnya itu, ia selalu patuh dengan apa saja yang dikatakan Hadi Gama padanya.

__ADS_1


...**...


Di dalam gubuk itu, Cakrawala sedang berusaha untuk mempelajari ilmu pengobatan. Karena ia sangat yakin itu sangat berguna baginya suatu hari nanti.


"Bagus anakku, kau memang hebat dalam meramu obat." Nini Asmara Tanjung sangat senang melihat anak laki-lakinya memiliki kepandaian yang sangat luar biasa.


"Benarkah seperti itu ibu?." Cakrawala juga terlihat senang. "Apakah memang seperti itu caranya?. Artinya aku akan menjadi ahli obat seperti ibu?."


"Tentu saja. Jadi belajarlah dengan tekun, supaya lebih hebat lagi dari pada ibu."


"Baiklah ibu, akan saya pelajari dengan serius, apa yang ibu katakan tadi." Cakrawala juga sangat menikmati apa yang telah ia kerjakan saat itu.


"Kalau begitu cobalah meracik obat untuk memulihkan tenaga dalam, ibu sangat yakin jika kau mampu melakukan itu."


"Baiklah ibu." Cakrawala mencoba untuk melakukan itu, ia ambil beberapa tanaman yang ada di hadapannya saat itu. "Tadi aku telah mendengarkan penjelasan tentang obat itu, jadi aku tidka boleh lupa." Dalam hatinya mencoba untuk tetap fokus, supaya tidak lupa dengan apa yang ia pelajari tadi.


...**...


"Kenapa tempat ini sangat sepi sekali?. Ke mana para penduduk desa?." Itulah yang menjadi tanda tanya dalam kepalanya.


Gandara Fusena sedang mencari keberadaan seseorang yang mungkin dapat ia tanyai kenapa tidak ada satupun orang pun yang terlihat?. Namun saat itu ia mendengarkan suara tangisan seorang anak kecil yang cukup mengejutkan baginya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Matanya saat otu melihat seorang anak kecil yang sedang menangis sambil bersembunyi di sebuah pohon yang cukup besar. "Apa yang telah terjadi padamu nak?. Kenapa kau bersembunyi di sana?." Ia mencoba untuk mendekati anak kecil itu.


"Tolong. Tolong saya." Anak kecil itu langsung memeluk kaki Gandara Fusena. Tentunya itu membuatnya sangat terkejut.


"Apa yang  terjadi padamu nak?. Kenapa kau berada di sini?." Ia gendong anak itu dengan hati-hati menggendongnya, supaya ia tidak menyakiti anak kecil itu. "Di mana ayah dan ibumu?. Apakah mereka bertengkar?."


"Ayah dan ibu saya diculik paman." Anak kecil itu masih saja menangis, dan ia tidak dapat menghentikan tangisannya itu. "Ayah dan dan ibu saya diculik paman. Tolong bebaskan mereka."


"Baiklah, kalau begitu tenanglah, ya?. Paman akan mencoba untuk mencari ayah dan ibu kamu, ya?. Jadi tenanglah bersama paman di sini." Gandara Fusena mencoba untuk menenangkan anak kecil itu supaya tidak menangis lagi. "Apa yang harus aku lakukan?. Agar aku bisa menemukan orang tuanya?." Dalam hatinya sedang memikirkan kemungkinan yang akan ia lakukan setelah ini. "Sebaiknya aku melakukan sholat istikharah, semoga saja Allah SWT memberikan aku petunjuk, mengenai apa yang telah terjadi di desa ini." Setelah berhasil menenangkan anak kecil itu, ia mencoba mencari rumah penduduk yang mungkin berada di dekat ia berada saat itu.


...***...

__ADS_1


Bukit Kegelapan. 


Nini Asmara Tanjung memperhatikan bagaimana ketekunan Cakrawala dalam meramu obat, sungguh ia sangat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh anaknya itu.


"Kalau begitu istirahatlah dahulu anakku. Kau telah mengeluarkan banyak tenaga dalam untuk meramu tanaman itu menjadi obat."


"Tapi ibu-."


"Jika kau terlalu memaksakan diri, nanti kau akan pingsan lagi. Apakah kau mau tidur lagi sepanjang hari di sini?. Hm?. Sementara itu kau mengetahui bagaimana sifat dari ayahmu, bukan?."


"Baiklah kalau begitu ibu."


"Begitulah seharusnya." 


Nini Asmara Tanjung saat itu membantu Cakrawala untuk membereskan apa yang telah mereka gunakan tadi, tentunya tidak akan membiarkan peralatan itu berantakan seperti itu saja, kan?.


"Minum lah obat yang kau racik tadi. Itu adalah ramuan untuk obat luka dalam yang telah kau terima setelah mempelajari jurus membuka batin mencuri jurus kegelapan milik lawan." Ia usap sayang kepala Cakrawala, setelah itu ia kecup puncak kepala anaknya dengan sayang. "Semoga kau cepat sembuh ya cakra?. Ibu tidak sanggup melihat keadaanmu yang seperti ini." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.


"Terima kasih ibu. Cakra sangat menyayangi ibu." Cakrawala memeluk ibunya dengan penuh rasa cintanya sebagai seorang anak.


"Ibu juga sangat menyayangimu cakra." Ia balas pelukan anaknya dengan penuh rasa haru. Hatinya seakan-akan tergores oleh pisau yang sangat tajam setiap Taraka membawa anaknya itu kembali ke gubuk itu dalam keadaan terluka parah.


Kembali ke masa itu.


Ketika Cakrawala menginjak usia 7 tahun, saat itu Hadi Gama memaksakan Cakrawala untuk mempelajari ilmu serap jiwa yang dimiliki oleh Tohpati.


"Kau lihat ini cakra. Lihat apa yang telah aku lakukan. Gunakan matamu untuk menangkap semua gerakan ini." Tohpati saat itu memberikan arahan pada Cakrawala agar mengikuti gerakannya itu.


Saat itu ia digembleng dengan kekuatan-kekuatan yang mengandung hawa kegelapan yang sangat dahsyat. Di umurnya yang masih kecil?. Ia telah diajarkan untuk memainkan jurus yang sangat ganas, bahkan beberapa kali ia jatuh sakit karena terlalu dipaksakan. Apakah karena ambisi mereka jadi gelap mata terhadap keselamatan Cakrawala yang sangat muda kala itu?. Apakah mereka hanya fokus pada dendam saja?. Sehingga mereka tidak memiliki hati nurani sedikitpun padanya?.


...***...


...**...

__ADS_1


__ADS_2