BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 15


__ADS_3

...***...


Saat itu pertarungan antara Gandara Fusena dengan ketiga pemuda itu tidak bisa dihindari lagi, karena mereka tidka mau mengalah, dan memaksa Gandara Fusena untuk memberikan denda, karena tidak melaporkan kedatangannya?. Apakah hanya karena itu saja?.


Namun sepertinya pertarungan itu tidak seimbang walaupun mereka bertiga melawan satu orang?. Tentunya Gandara Fusena memiliki tingkat ilmu kanuragan yang sangat berbeda dengan mereka. Sehingga beberapa kali gebrakan ketiganya langsung kalah begitu saja?.


"Hentikan!."


Saat itu ada suara yang cukup keras menghentikan apa yang telah mereka lakukan saat itu.


"Tangku!. Dursa!. Dengku!. Apa yang telah kalian ini jangan melakukan hal yang memalukan aku."


"Lurah Sarsaja. Kami melakukan hal yang sepantasnya, dia yang telah berani memasuki wilayah ini dengan sembarangan."


"Astagfirullah hal'azim ya Allah. Fitnah!. Itu fitnah!." Gandara Fusena sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan Dursa.


Ctak!. Ctak!. Ctak!.


Lurah Sarsaja sangat kesal mendengarkan ucapan itu, sehingga ia jitak kepala mereka hingga mereka semakin merintih kesakitan. "Apakah kalian tidak mengenali siapa yang telah bersama kalian saat ini, hah?."


"Memangnya siapa dia lurah?."


"Beliau adalah keluarga dari gusti prabu adiwangsa dirja, beliau lah yang telah bertanggung jawab atas kadipaten serta desa-desa terdekat di sini. Apakah kalian tidak ingat dengan itu?. Hah?"


Dengan penuh amarah yang membuncah ia membentak ketiga orang pemuda itu. 


"Adipati gandara fusena?."


Sepertinya ketiga pemuda itu ingat dengan suatu hal, sehingga mereka buru-buru berlutut dan memberi hormat pada Gandara Fusena.


"Mohon ampuni kami Gusti Adipati gandara fusena. Kami tidak mengetahui jika tuan adalah Adipati gandara fusena."


"Mohon ampuni mereka tuan Adipati. Mohon ampuni mereka yang tidak mengetahui siapa tuan adipati."


"Berdirilah. Kalian tidak usah menyembah pada manusia. Berdirilah."


Gandara Fusena menyuruh semua untuk berdiri, karena baginya tidak pantas manusia menyembah manusia lainnya.


"Untuk saat ini aku sedang melakukan pengembaraan untuk memastikan apa yang sedang terjadi di desa-desa sekitar wilayah kadipaten teratai putih, tapi aku tidak menduga sama sekali, jika kalian telah melakukan hal yang sangat tidak pantas pada pendatang seperti aku."


"Sekali lagi maafkan kami tuan Adipati."


"Kami berjanji akan memperlakukan orang asing yang masuk ke wilayah ini."


"Kami janji tuan adipati. Kami tidak akan mengulangi hal yang sama."


"آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ."

__ADS_1


Gandara Fusena membacakan hadist tersebut. "Ada tiga tanda-tanda orang munafik, diantaranya adalah jika ia berkata sering dusta, apabila ia berjanji sering berkhianat, dan apabila diberi amanah dia ingakri. Jadi kalian jangan menjadi golongan orang munafik, yang akan memberikan karma buruk nantinya pada diri sendiri."


"Sekali lagi maafkan kami tuan adipati."


"Baiklah. Kali ini kalian aku maafkan. Namun jika aku mendengarkan masalah seperti ini, maka kalian akan aku hukum."


"Kami janji tuan adipati."


"Kalau begitu aku akan lanjutkan perjalananku. Sampurasun."


"Rampes."


Setelah itu Gandara Fusena pergi meninggalkan mereka, karena ia hendak melanjutkan pengembaraannya. Apakah akan berhasil menemukan anaknya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di Bukit Kegelapan.


"Kenapa kau sendirian ke sini?. Apakah kau gagal membawa cakra ke sini?."


"Maafkan saya paman tadakara. Sepertinya saya memang tidak bisa melawan ibu."


Mereka semua hanya bisa menghela nafas saja.


Karena mereka sangat memahami apa yang telah dirasakan oleh Kusna, tentunya mereka juga tidak bisa membantah ucapan Nini Asmara Tanjung. Memangnya siapa yang telah berani melawan wanita itu?. Bahkan Hadi Gama yang merupakan suaminya tidak dapat menaklukkan wanita itu.


"Setidaknya lima hari lagi. Kita siapkan saja yang ada. Dan aku juga akan menyiapkan topeng penutup wajahnya itu."


"Menutupi wajahnya?."


"Kenapa kakang repot-repot melakukan itu?."


"Benar kakang. Apa alasan kakang melakukan itu?."


Entah kenapa mereka semua sangat heran dengan apa yang telah dikatakan oleh Hadi Gama.


"Aku sangat yakin. Jika Adipati yang telah kita kalahkan saat itu, dia akan mencari anaknya. Aku yakin dia akan mudah mengenali anaknya, karena cakra memiliki wajah yang sama dengannya. Itulah alasan kenapa aku ingin membuat sebuah topeng yang tidak akan bisa dibuka saat mereka bertemu nantinya."


"Kakang sangat hebat sekali. Dengan begitu balas dendam kita akan lancar."


"Kalau itu aku setuju kakang. Kalau begitu aku akan membantu kakang untuk menambahkan kekuatan gaib pada topeng itu kakang."


"Baiklah. Kalau begitu ikuti aku."


Setelah itu mereka semua mengikuti Hadi Gama yang memiliki rencana yang tidak terduga saat itu.


Sementara itu di dalam gubuk itu.

__ADS_1


"Racun ini terlihat sangat ganas sekali ibu. Saya sangat yakin, jika racun ini mampu membunuh manusia dalam waktu yang sangat singkat."


"Bagus, kau bisa membuat racun akar gaib tingkat pertama."


"Benarkah?."


"Ya, begitulah caranya. Kau memang sangat hebat sekali cakra."


"Apakah kemampuan ini bisa saya gunakan jika saya terdesak nantinya ibu?."


"Jangankan dalam keadaan terdesak? Kau bisa saja menggunakan kemampuanmu itu dalam melumpuhkan lawanmu dengan sangat cepat, jika kau bosan atau sedang malas bertarung."


"Bfh! Hahaha! Ibu ini ada-ada saja."


Nini Asmara Tanjung dan Cakrawala malah tertawa cekikikan, keduanya bisa akur seperti itu. Benar-benar hubungan antara ibu dan anak yang sangat luar biasa.


"Bisa jadi kau bosan saat bertarung, dan kau mau mengakhiri pertarungan dengan sangat cepat."


"Baiklah ibu. Kalau begitu ajari saya tingkat kedua. Atau ajari saya meramu obat penawarnya. Supaya saya tidak bingung nantinya dengan racun yang telah saya buat sendiri."


"Boleh saja. Ibu tidak merasa keberatan sama sekali."


"Akan saya pelajari semua ilmu yang ibu miliki."


"Jangan semuanya."


"Loh?. Kenapa?."


"Jika kau pelajari semuanya, nanti ibu tidak memiliki bahan apa-apa lagi untuk tetap bersamamu cakra."


"Aduh!." Cakra sedikit meringis kecil, ketika kepalanya mendapatkan jitakan dari Nini Asmara Tanjung.


"Jadi kau jangan terburu-buru mempelajari semua ilmu yang aku miliki. Apa kau mengerti cakra?."


"Apapun kondisinya, apapun keadaanya, saya akan tetap bersama ibu. Saya akan tetap bersama ibu."


"Ya, kau benar cakra."


"Kalau begitu ibu jangan menangis, nanti cantiknya hilang."


"Kau jangan mengejek ibumu cakra."


"Hehehe. Sama sekali tidak ibu." Ia berikan kain kecil yang lucu pada ibunya.


"Kau ini kenapa membuat aku menangis cakra?. Apakah karena kau akan pergi meninggalkan aku untuk balas dendam?." Dalam hatinya merasa sangat sedih dengan apa yang rasakan. Itulah alasan kenapa ia berusaha untuk menahan Cakrawala agar tidak cepat pergi meninggalkannya setelah ia sembuh. Ia belum mau berpisah dari Cakrawala, baginya kedekatannya dengan Cakrawala adalah hal yang membahagiakan.


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2