
...**...
Cakrawala pada saat itu telah bergerak. Kondisi tubuhnya telah baik-baik saja setelah beristirahat beberapa hari. Tentu saja ia harus menjaga kondisi tubuhnya supaya ia bisa melakukan tugas balas dendam itu dengan baik.
"Siapa yang akan menjadi target kita selanjutnya kakang?."
"Pendekar kapak baja hitam."
"Pendekar kapak baja hitam?. Nama itu cukup asing di telingaku. Namun, apakah dia masih hidup?."
"Tentu saja dia masih hidup. kabar yang aku dengar dia selalu membuat keributan di hutan jati agung."
"Jadi kita akan ke sana?."
"Tentu saja kita akan segera ke sana. Kita tidak boleh membuang-buang waktu."
"Jika memang seperti itu kita harus mengambil jalan terdekat untuk sampai ke sana."
Mereka menuju Hutan Jati Agung, karena mereka akan menemui pendekar Kapak baja hitam.
...***...
Gandara Fusena saat itu sedang berjalan menuju hutan Jati Agung. Perjalanan yang sangat jauh, ia merasa sangat lelah, sehingga ia memutuskan untuk istirahat di sana. Namun saat itu ia mendengarkan ada beberapa orang yang sedang bergunjing di sebuah tempat makan.
"Lama-lama hutan jati yang kita tinggali ini menjadi tempat yang sangat menyeramkan. Bahkan setiap hari terjadi pertarungan yang tiada henti-hentinya."
"Ya. Setiap harinya terdengar pertarungan di sana. Aku saja tidak berani masuk ke sana untuk mengintipnya."
"Apakah tdiak ada yang bisa menghentikan mereka?. Tempat ini akan menjadi tempat terkutuk, jika selalu dibanjiri dengan darah."
"Siapa yang bisa menghentikan pendekar ganas itu. Bahkan kabar yang aku dengar, pendekar golongan putih pun tewas di tangannya."
"Sungguh sangat menyeramkan sekali."
"Tentu saja seram."
"Ini pesanannya tuan." Seorang wanita yang membawa pesanan.
"Maaf nini. Memangnya mereka sedang membahasa apa?. "
__ADS_1
"Oh?. Mereka sedang membahas pendekar tua yang telah lama tinggal di hutan jati agung. Pendekar itu kabarnya sangat jahat, kepada siapa saja saja yang masuk ke hutan itu."
"Jadi seperti itu?."
"Apakah tuan juga akan menemuinya untuk mengajak ia bertarung?."
"Tidak, saya tidak melakukan itu. Kenapa?."
"Sebab setiap pendekar yang datang ke sini tentunya bertujuan untuk membunuh pendekar jahat itu tuan."
Gandara Fusena hanya diam saja, karena ia tidak menduga sebelumnya jika di daerah itu terjadi hal-hal yang seperti itu.
Cakrawala dan Kusna baru saja sampai di perbatasan desa itu. Namun mereka belum menuju hutan jati agung, karena mereka ingin mencari tahu kebenaran itu terlebih dahulu.
"Sepertinya desa ini agak ramai kakang."
"Ya. Kau benar adi."
"Bagaimana kalau kita makan dahulu?. Kita isi perut kita dengan makanan."
"Baiklah kakang."
"Oh, maafkan aku tuan." Cakrawala meminta maaf.
Deg!.
Entah kenapa pada saat itu mereka merasakan ada sesuatu yang aneh ketika mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Oh!. Tidak apa-apa. Akulah yang salah." Gandara Fusena sedikit gugup ketika ia bersenggolan dengan seseorang yang menggunakan topeng hitam.
"Sekali lagi maafkan aku." Tentunya ia tidak ingin berurusan dengan orang lain selain target yang ia incar.
"Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu. Aku ingin mencari penginapan untuk melaksanakan salat magrib nantinya. Sampurasun."
"Rampes."
Setelah itu mereka berpisah, tidak ada berdebatan di antara mereka. Karena pada saat itu mereka merasakan hal yang aneh ketika saling bertatapan mata.
"Ada apa adi?. Kenapa kau malah melihat orang itu?."
__ADS_1
"Oh. Tidak kakang. Rasanya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Tapi aku lupa, aku lupa melihat dia di mana."
"Sudahlah. Mungkin itu hanya firasatmu saja. Mari kita masuk ke dalam."
"Baiklah kakang."
Mereka masuk ke dalam, tentunya untuk menikmati makanan yang telah disediakan di rumah makan itu. Sedangkan Gandara Fusena saat itu masih merasakan getaran aneh ketika ia bertatapan mata dengan pemuda bertopeng hitam itu.
"Entah kenapa aku seperti melihat mata itu dua sudah tempat. Tapi kapan aku melihat mata itu?. Rasanya aku sangat dekat sekali dengannya." Dalam hatinya mencoba untuk menghilangkan kegelisahan yang ia rasakan pada saat itu. "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Di mana keberadaan anak hamba?. Hamba memohon kepadamu supaya kami bertemu di suatu tempat dalam keadaan baik-baik saja ya Allah." Dalam hatinya hanya berharap seperti itu.
Sementara itu di hutan Jati Agung.
Pertarungan antara pendekar satu dengan pendekar lainnya sedang terjadi di dalam hutan itu. Pada saat itu mereka semua telah mengerahkan semua tenaga dalam mereka untuk membunuh pendekar Kapak Baja Hitam.
Di dalam hutan itu terlihat beberapa pendekar yang telah bergelimpangan, namun mereka belum juga untuk menyerah.
"Kunyuk busuk!. Bahkan kau tidak terlihat kelelahan sama sekali!. Sebenarnya kau ini siapa?. Kenapa kau sama sekali tidak kehabisan tenaga dalam?. Padahal kau telah berhadapan dengan sepuluh pendekatan yang memiliki kekuatan yang sangat hebat luar biasa."
"Kalian tidak akan mudah bagi itu saja mengalahkan aku. Kemampuan yang aku miliki dan kemampuan yang kalian miliki itu sangat jauh berbeda. Jadi kalian tidak usah merasa hebat jika tidak memiliki kemampuan apapun."
"Bedebah!. Rupanya kau ingin merasakan bagaimana jurus yang aku miliki!." Dengan perasaan yang sangat membuncah ia menyerang.
Kembali hutan jati Agung itu menjadi saksi pertempuran antara pendekar. Entah apa tujuan mereka melakukan itu sebenarnya, namun jika dilihat dari situasinya mereka benar-benar ingin membunuh pendekar Kapak Baja Hitam, karena selama ini dia telah banyak membunuh nyawa pendekar yang tidak bersalah. Apakah hanya karena alasan itu saja mereka memulai pertarungan?. Simak dengan baik bagaimana pertarungan itu terjadi nantinya.
Cakrawala dan Kusna baru saja bergerak, setelah mereka menunggu matahari tenggelam dan malam telah menyapa mereka.
"Apakah kita akan pergi sekarang?."
"Ya. Aku rasa pertarungan malam tidak buruk."
"Jika kakang berkata seperti itu apa boleh buat."
Setelah itu mereka menuju Hutan Jati Agung, karena target mereka. Apakah mereka akan berhasil melakukan itu dengan baik?.
Di sisi lainnya, setelah melaksanakan sholat magrib di sebuah penginapan. Gandara Fusena sangat penasaran dengan apa yang terjadi di Hutan Jati Agung. Rasa penasaran yang sangat luar biasa mendorongnya untuk melihat bagaimana situasi hutan itu sebenarnya.
"Mungkin saja aku dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan pertarungan itu." Setelah berkata seperti itu ia segera meninggalkan penginapannya. Entah kenapa hatinya begitu kuat untuk pergi melihat Hutan Jati Agung, dan ia seperti memiliki daya tarik yang sangat luar biasa ke sana. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1