
...***...
Saat itu Taraka sedang bersama Cakrawala yang telah berhasil menenangkan hawa jahat yang ada di dalam tubuhnya.
"Apakah kau baik-baik saja cakra?."
"Aku baik-baik saja paman."
"Syukurlah kalau begitu. Kau jangan terlalu memaksakan diri jika kau sudah tidak sanggup untuk lagi untuk melakukan itu." Ia usap kepala Cakrawala dengan penuh kelembutan.
"Terima kasih paman, karena paman selalu perhatian pada saya."
"Itu karena aku sangat khawatir padamu. Aku sangat cemas dengan keselamatanmu cakra. Tapi setidaknya untuk saat ini aku sangat senang, karena kau berhasil mempelajari jurus pemurnian tenaga dalam. Alu sangat takut jika terjadi sesuatu padamu jika kau kembali sakit seperti sebelumnya."
"Untuk saat ini aku baik-baik saja paman. Ibu telah mengajari aku banyak hal."
"Bagus kalau begitu."
Setelah itu mereka kembali menyusuri hutan yang sangat sepi itu. Karena hanya mereka yang berani masuk ke dalam hutan angker itu.
...***...
Di sisi lainnya.
Gandara Fusena telah melanjutkan perjalanannya, ia terus melangkah. Hingga saat itu ia mendengar suara rintihan suara seseorang yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Astagfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hatinya sedikit takut. Matanya mencoba untuk mencari asal suara itu, ia mencarinya dengan sangat teliti, dan siapa yang menduga saat itu ia melihat ada seorang pendekar yang terlihat sedang terluka sangat parah. "Astagfirullah hal'azim ya Allah." Gandara Fusena langsung menutupi tubuh wanita itu dengan kain yang ia bawa. "Kasihan sekali." Dalam hatinya merasa sangat bersimpati dengan apa yang telah terjadi pada wanita itu. "Lukanya sangat parah sekali. AKu sangat yakin jika ia mendapatkan pukulan yang sangat mematikan, hingga bahu kirinya terluka parah seperti ini." Dalam hatinya mencoba mengingat ramuan apa yang cocok yang ia gunakan untuk membantu wanita itu, supaya mengurangi rasa sakit itu.
...***...
Sementara itu Hadi Gama, Tohpati, Tadakara, dan Kusna yang saat itu sedang menunggu kedatangan Cakrawala dan Taraka?. Saat itu mereka sedang berdiskusi mengenai apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Aku rasa inilah waktu yang tepat untuk kita melepaskan cakrawala untuk membalas semua dendam yang kita rasakan setelah kita mengalami kekalahan dari adipati sial itu."
__ADS_1
"Apakah kakang sangat yakin?. Karena cakra belum menguasai tahap kahir dari jurus gagak pematik tali sukma kakang."
"Jika aku lihat dari kemampuannya dia bisa mengembangkan jurus itu. Selain itu jika dia terdesak, aku sangat yakin jika dapat meniru jurus musuhnya dalam waktu yang sangat singkat."
"Tapi apakah kakang tidak cemas?. Jika suatu hari nanti dia bertemu dengan ayahnya?. Dan dia akan kembali menjadi orang yang baik?."
"Dengan menggunakan topeng hitam penutup hawa sukma. Aku rasa itu akan aman, jadi tidakĀ perlu cemas walaupun dia akan bertemu dengan ayahnya."
Mereka tampak memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Hadi Gama yang telah sangat yakin dengan keputusannya untuk melepaskan kepergian untuk keluar.
"Sama halnya dengan seekor gagak, tidak mungkin dia akan terus berada di sana hanya untuk meminta makan pada induknya. Aku rasa ini lah saat yang tepat ia berburu sendirian." Matanya melihat sangat jauh ke depan, seakan-akan ada luka yang ia rasakan dari apa yang telah ia terima selama ini.
"Jika memang kakang berkata seperti itu aku akan setuju saja."
"Benar itu kakang. Lagi pula tidak baik pula jika kita tahan dia selama itu. Sedangkan usia kita sudah tidak muda lagi untuk bermain-main lagi kakang."
"Kalau kau sudah mengetahui itu?. Maka jangan banyak protes lagi. Mari kita saudara Selesaikan masalah ini dengan secepat mungkin. Dendam yang ada di dalam diriku telah membara sangat lama. Dan aku ingin segera melampiaskannya."
Tentunya mereka semua sangat memahami apa yang telah dirasakan oleh Hadi Gama, Karena pada saat itu mereka merasakan hal yang sama.
"Baik ayah."
Sementara itu Cakrawala dan Taraka yang masih menyusuri hutan itu, namun saat itu mereka tidak sengaja melihat ada yang aneh dengan hutan itu.
" Apakah Paman dapat melihatnya?. Tadi itu ada bayangan putih cuma lewati kita."
" Apakah kau merasa takut?."
"Tidak paman, hanya terkejut saja dengan jalannya yang seperti itu."
Ya, dengan mata yang sangat spesial yang seperti itu mereka kadang melihat hal yang aneh-aneh, walaupun mata Cakrawala lebih spesial untuk meniru jurus siapa saja yang ingin ia tiru.
...***...
__ADS_1
Di hutan lainnya?.
Saat itu ia mencoba membuka matanya dengan pelan, akan tetapi sangat disayangkan sekali, karena ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan bebas, karena ia merasakan sakit yang mendera tubuhnya saat itu.
"Kegh!." Ia memaksa dirinya untuk bergerak, dan saat itu menyadari sesuatu, jika ada yang menutupi tubuhnya dengan kain selimut?. "Apakah ada seseorang yang berbaik hati telah membantu aku?." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya saat itu.
"Alhamdulillah jika nini telah sadar." Ada suara laki-laki yang menyapa dirinya?.
"Siapa kau?." Ia terlihat sangat ketakutan dengan apa yang telah ia lihat saat itu.
"Nini tenang saja. Saya tidak melakukan hal yang aneh pada nini selama ini tidka sadarkan diri." Ia berikan air pada wadah bambu pada wanita itu.
"Aku harap memang seperti itu. Akan aku bunuh kau, jika kau berani melakukan hal yang aneh padaku tuan." Ia mengambil air itu, tenggorokannya terasa sangat kering.
"Astagfirullah hal'azim nini. Jangan menuduh saya seperti itu." Ia terlihat sedang menghela nafasnya saat itu. "Jika saya berniat ingin membunuh nini?. Saya tidak akan repot-repot untuk memberi nini minum obat. Lebih baik saya biarkan saja nini dimakan binatang buas di hutan ini."
"Fuih!. Pantas saja air yang kau berikan sangat pahit!. Ternyata itu adalah ramuan obat!."
"Jangan marah-marah dulu. Kondisi nini belum pulih. Nanti tenaga dalam nini bisa terkuras habis jika nini marah-marah."
"Heh!. Kau jangan berkata-, kegh!."
"Saya memang bukanlah ahli obat, tapi saya pernah belajar sedikit dari teman saya. Jika nini memang ingin sembuh?. Nanti saya bawa nini ke sana. Supaya tenaga dalam nini yang diakibatkan pukulan panah api itu bisa cepat sembuh."
"Tuan mengetahui lukaku ini diakibatkan oleh jurus itu?."
"Ya, sebab bahu kiri nini mengalami luka bakar yang sangat berbeda dengan luka pada umunya yang terus-terusan menguras tenaga dalam nini."
"Ya, aku memang dapat merasakan itu."
Pendekar wanita itu sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Gandara Fusena.
Next.
__ADS_1
...***...