BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 22


__ADS_3

...***...


Di bukit perapian sunyi.


Di sanalah Gandara Fusena membawa gadis itu menuju ke tempat temannya. Meskipun ada perasaan curiga di dalam hati gadis itu akan tetapi ia tetap mencoba untuk percaya, hingga saat itu ia melihat seorang wanita yang sedang berkacak pinggang melihat ke arah mereka.


"Kali ini siapa lagi kau bawa?. Apakah menurutmu tempat ini adalah obat gratis?." Sepertinya wanita itu terlihat sangat galak.


"Ayolah lasmi. Apakah kau tidak melihat ada seseorang yang terluka di sini?. Nanti akan aku bayar pengobatannya."


Tampaknya wanita itu menghela nafasnya sejenak, yang memperhatikan penampilan Gandara Fusena.


"Kau datang ke sini sebagai seorang pendekar atau sebagai seorang Adipati yang memberikan perhatian kepada siapa saja?."


"Adipati?."


"Untuk saat ini aku datang sebagai seorang pengembara. Jadi aku mohon kepadamu agar segera menyembuhkannya. Karena wanita ini tidak sanggup lagi menahan sakit akibat pukulan panah api. Apakah kau tidak kasihan kepadanya?."


Kembali wanita itu menghela nafasnya, rasanya percuma saja ia menolak apa yang telah dikatakan oleh Gandara Fusena padanya.


"Kalau begitu aku yang akan mengobatinya. Dan kau istirahatlah di pendopo depan. Rasanya aku tidak mau diganggu olehmu saat mengobatinya."


"Baiklah. Kalau begitu mohon bantuannya."


Gandara Fusena hanya pasrah saja ketika Lasmi membantu wanita itu untuk berjalan menuju pondoknya.


"Masih saja galak seperti dulu. Apakah penyakit galaknya itu tidak bisa dihilangkan." Dalam hati Gandara Fusena sangat heran dengan kelakuan wanita ahli obat itu.


...***...


Sementara itu Cakrawala dan Kusna pada saat itu telah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan mereka semua.


"Aku telah menuliskan nama siapa saja yang harus kalian hadapi. Tapi kalian jangan sampai menghindari pertarungan bagi siapa saja yang ingin mencoba menjajal ilmu kanuragan kalian."


"Baiklah ayah. Akan selalu kami ingat apa yang ayah katakan kepada kami."


"Bagus. Itulah aku harapkan dari kalian." Ia tatap kedua anaknya yang kini sedang menggunakan topeng. "Jangan sesekali kalian berani kembali jika aku tidak memanggil kalian. Jika kalian telah berhasil melakukan itu maka kembalilah sambil mencoret nama mereka dengan darah orang yang telah kalian bunuh." Hadi Gama benar-benar telah menggembleng kedua anak muda itu dengan ilmu hitam untuk membunuh siapa saja yang telah membuat mereka sakit hati di masa lalu. Kini mereka menjadi alat untuk balas dendam terhadap pendekar golongan hitam, ataupun golongan putih yang telah membuat mereka merasa terhina di masa lalu. Balas dendam pendekar hitam telah dimulai sejak mereka meninggalkan bukit itu untuk menuju dunia luar.


"Kalau begitu kami pergi dulu ayah, paman. Sampurasun."


"Rampes."


Kedua anak muda yang telah digembleng dengan ilmu hitam itu telah meninggalkan mereka.  Kedua anak muda yang selama ini dibesarkan oleh perasaan yang benci terhadap orang-orang yang memiliki kemampuan melebihi mereka semua.


...***...


Di bukit kegelapan.


Saat itu ia melihat ada seekor burung gagak hitam yang menghampirinya, dan burung gagak hitam itu memberikan sesuatu kepadanya.


"Pesan ini dari anakku cakra." Ia buka gulungan kecil yang berisikan pesan dari Cakrawala.


"Ibu, mungkin saya akan pergi dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Saya belum bisa memastikan apakah saya bisa kembali atau tidak. Maaf jika saya tidak bisa membuatmu tersenyum lebih lama, tapi setidaknya saya berjanji akan kembali dengan selamat. Jika semua dendam ini telah tersampaikan kepada orang-orang yang diinginkan oleh ayah, saya akan kembali kepada ibu. Saya sangat ingin membahagiakan ibu, doakanlah anakmu ini kembali dengan selamat. Salam penuh cinta dari cakra."

__ADS_1


Tanpa sadar wanita setengah baya itu meneteskan air matanya ketika ia membaca rangkaian kata yang telah ditulis oleh anaknya. Tentunya hatinya sangat iba, hatinya sangat berat untuk berpisah dengan anaknya. "Aku akan selalu mendoakan keselamatanmu anakku. Aku akan selalu merindukan dirimu, tentunya aku sangat menginginkan dirimu kembali dalam keadaan yang aman. Semoga saja sang hyang Widhi selalu memberikan keselamatan kepadamu anakku." Nini Asmara Tanjung sebenarnya tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya itu. Namun rasanya percuma saja ia membantah, karena suaminya itu memiliki dendam yang sangat luar biasa terhadap para pendekar yang dulunya telah menghina mereka semua. "Aku yakin kau akan kembali dengan keadaan selamat." Hanya itu saja harapannya pada saat itu.


Bagi Nini Asmara Tanjung, Cakrawala bukan hanya sebagai anaknya saja, baginya Cakrawala adalah teman yang selalu membuatnya merasakan kenyamanan. Sebagai seorang wanita yang mendambakan seorang anak, tentunya ia sangat bahagia dengan kehadiran cakrawala yang selama ini menghiasi hidupnya. Perpisahan yang seperti itu tentunya membuat hatinya sangat sedih luar biasa. Bagi seorang wanita yang mencintai anaknya, tentunya ia sangat keberatan untuk berpisah hanya karena anaknya membalaskan dendam masa lalu suaminya.


...***...


Setelah agak merasa jauh.


Cakrawala dan Kusna saat itu sedang melihat nama-nama yang telah ditulis oleh Hadi Gama kepada mereka. Namun mereka masih tetap melanjutkan perjalanan mereka untuk membalaskan dendam pendekar hitam.


"Lumayan banyak sekali nama-nama ini kakang. Sebenarnya pendekar seperti apa ayah dan paman di masa lalu?. Sehingga memiliki musuh sebanyak ini?."


"Aku juga tidak mengerti adi. Tapi jika dilihat dari nama-nama ini, mereka semua adalah golongan pendekar hitam yang sangat ditakuti oleh semua orang." Kusna memperhatikan dengan baik nama-nama yang tertera di sana.


"Tapi menurutku ada satu nama yang menurutku dia adalah orang yang baik kakang."


"Nama mana yang menurutmu baik adi?. Menurutku nama-nama ini semua sangat aneh."


"Nama ini kakang. Adipati gandara fusena." Ia tunjukkan nama itu. "Entah kenapa menurutku, nama ini adalah nama orang dari golongan putih. Dan memiliki pangkat yang lumayan tinggi di suatu sistem kerajaan."


"Ya. Kau benar adi. Aku rasa yang kau katakan itu sangat benar. Adipati adalah suatu tatanan bagian dari pemerintahan yang dibawahi langsung oleh kerajaan. Aku rasa seperti itulah yang terjadi adi."


"Hm. Lalu apa yang akan kita lakukan kakang?. Bukankah ini tidak jauh dari sini kakang?. Bagaimana kalau kita ke sini dulu?. Sekalian kita mencari tempat berteduh malam ini."


"Jika memang seperti itu baiklah. Akan aku turuti apa yang kau inginkan."


"Terima kasih kakang. Kau adalah saudaraku yang sangat baik."


"Kakang benar juga."


Saat itu kedua kakak beradik yang sebenarnya berbeda orang tua?. Hanya tertawa saja, untuk menghilangkan kebosanan yang mereka rasakan saat itu. Hubungan mereka terlihat sangat dekat, bahkan lebih dekat dari saudara kandung lainnya.


...***...


Lasmi, si ahli obat. Saat itu ia sedang mengobati seorang wanita yang telah dibawa oleh Gandara Fusena ke tempatnya. Akan tetapi pada saat itu ia sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat.


"Demi Dewata yang agung. Di mana kau mendapatkan luka akibat pukulan panah api ini?. Pukulan ini hampir saja menghancurkan tulang-tulangmu."


"Saat itu aku sedang bertarung dengan seorang pendekar yang sangat sombong sekali. Aku tidak menduga jika dia memiliki jurus pukulan panah api." Saat itu ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi kepada dirinya. "Saat itu aku melihat tangannya seperti panah yang berapi-api. Aku tidak menduga akan mendapatkan pukulan yang sangat dahsyat itu." Hatinya terasa sangat sakit mengingat apa yang telah ia alami, ketika ia bertarung dengan seseorang yang memiliki ilmu kanuragan di atasnya.


"Kalau begitu tahan lah sakit ini. Akan aku keluarkan semua hawa jahat yang telah masuk ke dalam tubuhmu."


Setelah ia berkata seperti itu ia totok beberapa titik aliran tenaga dalam wanita itu dengan menyalurkan hawa murninya. Wanita itu tampak kesakitan dengan apa yang ia rasakan saat itu. Sesekali ia merintih ketika ia merasakan ada bagian tubuhnya yang berdenyut, dan bahkan tubuhnya saat itu terguncang ketika merasakan hawa murni dari orang yang telah menolongnya seperti mengusir sesuatu agar keluar dari tubuhnya.


"Bhufh!." Saat itu yang memuntahkan darah hitam yang sangat kental, darah yang berasal dari hawa kegelapan.


Namun bukan hanya sampai di situ saja, Lasmi kembali menatap beberapa titik aliran tenaga dalam wanita itu. Setelah itu ia mengambil minuman yang telah ia ramu sebelumnya.


"Minum sampai habis, supaya obat ini bisa menghentikan pendarahan penyumbatan pembuluh darah mu itu."


Wanita itu langsung meminum semua minuman obat itu walaupun terasa sangat pahit di lidahnya.


"Kalau begitu berbaringlah. Untuk saat ini kau harus beristirahat setidaknya setengah hari. Supaya obat itu bekerja lebih baik, dan aku akan menyiapkan makanan untukmu supaya aku lebih bertenaga."

__ADS_1


"Terima kasih banyak atas bantuanmu nini. Mungkin aku akan mati jika tidak segera kau tolong."


"Berterima kasihlah kepada orang yang telah membawamu ke sini. Karena sesungguhnya dia adalah orang yang baik, dia akan menolong siapa saja yang ia temui di jalan."


Wanita itu mengingat siapa yang telah membawanya ke tempat Lasmi. "Tampaknya Nini mengenai baik pemuda itu."


"Bfuuuh." Lasmi tidak dapat menahan tawanya saat itu, sehingga membuat wanita itu merasa kebingungan.


"Kenapa nini tertawa?. Apakah ada yang salah dengan ucapanku?."


"Ucapanmu sangat tidak salah. Namun yang salah adalah matamu dalam melihat ke arahnya."


"Mataku yang salah dalam melihat ke arahnya?."


Tentu saja wanita itu sangat heran dengan apa yang telah dikatakan oleh Lasmi kepadanya.


"Dia bukan lagi anak muda. Akan tetapi umurnya hampir setengah abad. Dia sama tuanya dengan aku. Jadi kau jangan memanggilnya dengan sebutan pemuda." Lasmi tampak masih tertawa.


"Apa?. Rasanya itu tidak mungkin. Jika dilihat dari wajahnya dia masih sangat muda. Tidak mungkin usianya telah mencapai setengah abad."


"Jika kau tidak percaya maka kau bisa bertanya kepadanya secara langsung jika kau telah sembuh."


"Tunggu. Nini mau ke mana?."


"Aku mau mengambil makanan untukmu. Jadi kalau diamlah di sini untuk beberapa saat."


Setelah itu ia pergi meninggalkan gubuknya untuk sejenak, karena ia ingin mengambil makanan yang akan ia hidangkan kepada wanita yang sedang terluka parah itu.


"Sial!. Apakah orang yang telah menolongku itu memiliki wajah yang awet muda?. Sehingga aku tidak bisa menyadari jika sebenarnya dia hampir saja disebut sebagai kakek-kakek?." Wanita itu malah merinding sendiri mengingat bagaimana ia ditolong oleh seorang laki-laki yang ternyata bisa disebut sebagai seorang kakek?. "Tapi setidaknya aku sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan orang yang baik. Aku akan mengucapkan terima kasihku dengan benar kepadanya nanti jika aku telah sembuh." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya. Tentunya ia harus mengucapkan rasa terima kasih kepada orang yang telah menolongnya itu. "Jika saja aku tidak ditolong oleh orang itu, entah bagaimana nasibku sekarang." Dalam hatinya sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi pada dirinya.


Sementara itu Gandara Fusena saat itu hanya duduk di pendopo kecil itu. Dua hari setelah ia pergi meninggalkan pesantren. Namun bukan itu yang menjadi beban pikirannya saat itu.


"Dua hari ini aku tidak lagi bermimpi bertemu dengannya. Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Hamba mohon pertemukan kami kembali walaupun di dalam alam mimpi. Rasanya hamba sangat gelisah jika hamba belum memastikan apakah dia adalah putra hamba atau tidak." Dalam hati Gandara Fusena sangat khawatir dengan itu. "Rasanya ada sesuatu yang hitam telah menutupi keberadaannya. Hamba merasakan ada kekuatan gelap yang sedang mencoba untuk menghalangi hamba untuk bertemu dengannya." Itulah yang ia rasakan selama dua hari ini. "Seakan-akan ada pembatas hubungan batin antara hamba dengan putra hamba. Sebenarnya apa yang telah terjadi ya Allah?. Hanya kepadamu lah hamba memohon pertolongan." Keresahan yang ia rasakan saat itu membuat ia merasa tidak nyaman sama sekali. Kegundahan hati yang sangat luar biasa yang ia rasakan kala itu.


...***...


Sementara itu Cakrawala dan Kusna hampir saja memasuki sebuah kampung. Saat itu malam hampir saja menyapa mereka semua. Namun bukan berarti membuat mereka semua menghentikan aktivitas yang mereka jalani hari itu.


"Menurut apa yang telah dituliskan oleh ayah di dalam ukiran daun lontar ini, salah satu orang yang telah menghina ayah dan paman adalah penjahat besar yang ada di desa ini. Bagaimana menurut kakang?. Apakah kita akan langsung menemui orangnya?. Atau kita mencari tahu terlebih dahulu bagaimana sosok orang yang telah membuat ayah dan paman merasa sakit hati."


"Aku rasa kita perlu menyamar dulu adi. Bergaul dengan orang-orang yang berada di sekitarnya itu memang harus kita lakukan. Supaya kita mengetahui apakah orang itu benar-benar orang yang telah menyakiti ayah dan paman di masa lalu."


"Baiklah kalau memang seperti itu kakang. Aku rasa kita harus menyelidiki kebenaran itu terlebih dahulu. Supaya nantinya kita tidak salah sasaran kakang."


"Ya, kau sangat benar sekali. Kalau begitu mari kita lihat ke arah mana dia sebenarnya."


"Baik kakang."


Setelah itu mereka menuju sebuah tempat makanan untuk memeriksa apakah semuanya akan mereka lakukan nantinya akan berjalan dengan lancar. Balas dendam pendekar hitam ini harus dituntaskan kepada orangnya. Jangan sampai mereka melakukan kesalahan yang sangat fatal nantinya.


Next halaman.


...***...

__ADS_1


__ADS_2