BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 33


__ADS_3

...***...


Cakrawala dan Kusna saat itu sedang berhadapan dengan dua orang Pendekar yang berniat buruk pada seorang gadis cantik. Cakrawala yang saat itu berhadapan dengan seorang pendekar yang memiliki kemampuan aneh. Pendekar itu dapat menyemburkan api yang sangat panas dari mulutnya. Tentunya Cakrawala melompat ke sana ke sini untuk menghindari serangan itu. Akan berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Saat itu Cakrawala menggunakan jurus bunga pemetik jiwa, jurus yang dimiliki oleh Hadi Gama. Jurus itu, jurus yang dapat memanipulasi pikiran manusia dengan angan-angan yang sangat indah.


Pendekar itu merasa seperti berada di padang bunga yang sangat indah, merasa bermandikan bunga yang sangat harum. Bahkan saat itu ya melihat kembang bunga yang sangat cantik.


"Kurang ajar!. Kenapa kembangnya secantik kau nimas?." Tubuhnya ingin berontak mengatakan itu salah. Sangat salah, akan tetapi hawa nafsunya telah mengalahkan dirinya untuk menepiskan segala kecantikan yang dimiliki oleh kembang cantik itu. Tidak perlu mengeluarkan Kata-kata yang manis, bujuk rayuan manja. Kembang cantik itu hanya perlu tersenyum manis saja, hanya senyuman manis dan manja saja telah berhasil meluluhkan hati pendekar itu. Hingga dengan sangat mudahnya jatuh ke pelukan kembang cantik tanpa perlawanan yang berarti. Ia benar-benar telah kalah dengan hawa nafsu yang ia miliki.


"Oh?. kau sangat manis sekali. Bagaimana kalau kita segera memadu kasih?. Aku sangat suka pada wanita yang sangat manis seperti kau." Rasanya la sangat terlena dengan keindahan senyuman yang telah ditampilkan oleh kembang cantik.


Cekh!.


Deg!.


"Kegh!." Ia meringis sakit, ketika ia merasakan bagaimana tajamnya sebuah belati tajam yang menghujam dada kirinya. Saking terlenanya?. Ia tidak menyadari jika musuh dengan sangat mudahnya menghujam dadanya?.


"Kau?. Kau?." Ia tidak menduga sama sekali, jika pendekar bertopeng itu telah berhasil menikam dadanya dengan sangat mudahnya. Kini ia tidak bisa bergerak sama sekali, ia tidak bisa berontak dengan apa yang telah dilakukan pendekar bertopeng hitam itu.


"Itulah karma yang kau dapatkan atas perbuatan cabul yang kau lakukan selama ini." Entah kenapa ia merasakan kemarahan yang tidak biasa. Seakan-akan pada saat itu banyak nyawa yang berbisik padanya untuk segera membunuh pendekar semburan api iblis. "Lelaki biadab seperti kau pantas merasakan hujaman belati penuh dengan kebencian dariku." Cakrawala dapat melihat itu semua dari sorot mata pendekar itu. Bagaimana banyak wanita yang telah menjadi korban dari apa yang telah ia lakukan. Tanpa perasaan setelah berhasil memetik madu dari wanita itu, dengan tidak manusiawi ia membunuh mereka tanpa belas kasihan. "Sungguh. Kau adalah laki-laki biadab yang pernah aku temui." Hatinya hanya dipenuhi dengan kebencian yang sangat dalam.


"Uhuk!." Setelah terbatuk kuat, pendekar itu terkapar tak berdaya, karena jantungnya yang ditikam oleh Cakrawala.


Cekh!.

__ADS_1


Cakrawala mencabut kembali belati itu, ia tatap lelaki itu dengan tatapan hina. "Jangan hanya bisa menyengsarakan orang lain, hanya demi kepentingan nafsumu yang bejad itu." Cakrawala sangat kesal. "Suatu saat nanti kau akan menerima karma atas apa yang telah kau lakukan pada mereka." Cakrawala sangat benci. "Kau ini sungguh sangat hina. Manusia rendahan seperti kau tidak pantas untuk hidup. Bahkan binatang tidak melecehkan hewan lain sebelum membunuh." Ada hawa kebencian yang sangat dalam yang tu tunjukan Saat itu. Hatinya sangat panas melihat apa yang telah dilakukan oleh pendekar itu.


"Kurang ajar!. Kau telah berani membunuhnya?." Pendekar belati berdarah sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan cakrawala pada temannya. Tadinya ia sedang berhadapan dengan kusna. Namun ia sangat terkejut melihat temannya ditikam dalam keadaan seperti itu oleh musuh.


"Kau juga akan aku bunuh. Karena kau sama bejadnya dengan dia."


"Adi cakra." Dalam hati Kusna tidak menduga akan melihat kemarahan Cakrawala yang seperti itu.


"Jumawa kau bocah!. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!."


"Kalau begitu majulah. Tidak usah kau banyak berbicara."


Pendekar belati berdarah langsung melompat kearah Cakrawala yang menunggunya dengan sangat tenang tanpa adanya perasaan takut sedikitpun. Sedangkan pendekar belati berdarah?. Ia sangat tidak terima dengan apa yang telah dikatakan Cakrawala padanya. Tanpa banyak basa basi ataupun saling tegur sapa?. Pendekar belati berdarah langsung menyerang Cakrawala dengan sangat cepat, hingga pertarungan itu orang yang kesurupan.


Keduanya saling menyerang dengan kemampuan ilmu kadigdayaan yang mereka milik. Pukulan, tendangan, hantaman mereka gunakan untuk menyerang musuh. Bahkan mereka menggunakan senjata andalan mereka untuk menjatuhkan musuh. Mereka tidak akan tunduk begitu saja, ataupun menurunkan mental mereka hanya karena musuh mereka memiliki kemampuan diatas mereka.


"Aku mendengarkan apa yang kau katakan kakang."


"Diam kau cakra!." Kusna sangat kesal dengan ucapan Cakra, namun sebenarnya ia sangat takut dengan ucapan Cakrawala. "Cepat lah kau bertarung!. Aku muak menunggu kau bertarung seperti itu!."


"Kau yang diam. Jangan ganggu konsentrasi ku berhadapan dengannya."


Cakrawala saat itu sedang berhadapan dengan musuh yang memiliki kemampuan yang lumayan. Akan tetapi tetap Saja, Cakrawala lebih unggul dibandingkan musuhnya. Cakrawala dapat mengalahkan musuhnya dengan sangat mudah?. Apakah tidak ada perlawanan dari musuhnya?.

__ADS_1


"Kurang ajar!. Aku akan datang padamu suatu hari nanti. Setelah berkata seperti itu ia melompat pergi meninggalkan Cakrawala dalam keadaan terluka parah.


"Kenapa kau malah membiarkan dia pergi begitu saja?." Kusna mendekati Cakrawala yang tampak kesal.


"Apakah kakang tidak dengar apa yang dia katakan tadi?."


"Lantas?."


"Dia pasti akan kembali lagi. Aku hanya membiarkan dia mengambil nafas untuk berpikir. Apakah dia masih ingin berhadapan denganku atau tidak."


"Kau terlihat sangat percaya diri sekali. Sombong sekali kau adi cakra."


"Sudahlah kakang, tidak ada gunanya kita berdebat. lebih baik kakang tolong wanita itu. Aku sama sekali tidak mengerti masalah wanita. "


"Baiklah kalau begitu." Kusna hanya menghela nafasnya. "Tidak ada gunanya aku berdebat denganmu." Entah kenapa ia merasa sangat kesal. "Kau ini biasanya dekat sekali dengan ibu, tapi kenapa kan malah tidak bisa berurusan dengannya?."


Namun tidak ada tanggapan dari Cakrawala, karena baginya akan sangat canggung berhadapan dengan wanita yang sama sekali tidak ia ketahui. "Ibu dan wanita lain itu berbeda, jadi jangan cepat dekat dengan wanita yang tidak kau ketahui sama sekali." Dalam hati Cakrawala berpikir seperti itu.


...***...


Gandara fusena saat itu berhenti di sebuah tepian sungai, ia menatap aliran sungai yang mengalir dengan sangat tenang. Akan tetapi pada saat itu pikirannya melayang, masih ingat dengan Cakrawala yang memiliki kemiripan dengan istrinya ketika bertarung.


"Jangan-jangan pemuda itu adalah anakku." Dalam hatinya mencoba untuk meyakinkan itu. "Ayahanda pernah berkata kepadaku, hanya orang-orang yang memiliki darah fusena lah yang memiliki kemampuan untuk mencuri jurus lawan dengan sekali lihat." Gandara Fusena sangat yakin itu. "Bahkan anak gadisku tidak perlu waktu yang lama untuk menguasai ilmu kanuragan yang aku ajarkan padanya." Gandara Fusena sangat ingat dengan apa yang telah ia ajarkan pada anaknya Halwa Candramaya kala itu. "Aku sangat yakin anak muda itu adalah putraku. Tapi si hadi gama sengaja menyuruhnya untuk menggunakan topeng penutup hawa sukma, supaya aku tidak mengenali anak muda itu sebagai anakku." Gandara Fusena sangat, sangat yakin dengan apa yang ia pikirkan saat itu. "Kalau begitu aku harus mencarinya. Aku takut dia akan membuat masalah dengan membalaskan dendam kepada golongan hitam karena perintah hadi gama." Pada saat itu Ada ketakutan yang sangat luar biasa yang terbesit di dalam hatinya. Gandara Fusena buru-buru meninggalkan tempat itu, hatinya sama sekali tidak bisa tenang kareha pikiran buruk yang menari-hari di kepalanya tentang Cakrawala.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2