BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 11


__ADS_3

...**...


Tohpati memperagakan beberapa kali gerakan dasar dari ilmu serap jiwa yang ia miliki pada Cakrawala. Namun siapa yang menduga jika Cakrawala berhasil menirukan gerakan itu setelah melihat beberapa kali?.


"Ahahaha!."


Mereka semua malah tertawa puas melihat itu, melihat apa yang telah mereka lihat dari Cakrawala yang sangat hebat dalam meniru gerakan itu?.


"Meskipun hatiku saat itu masih sakit karena bapaknya yang telah kurang ajar mencuri jurus yang telah aku pelajari dengan sangat susah payah?. Namun kali ini aku akan membiarkan anaknya yang mencuri semua jurus yang kita miliki, supaya dia nantinya yang akan membunuh bapaknya sendiri."


"Kakang benar. Aku belum terima ketika dia mencuri jurusku, jurus harimau mencabik mangsa yang hanya bisa digunakan di alam sukma, tapi dia menggunakan jurus itu hanya sekali lihat saja?. Siapa yang tidak sakit hati kakang."


"Memangnya kau pikir kau saja yang sakit hati taraka?. Aku juga sakit hati ketika dia meniru jurus milikku, jurus terjangan banteng dalam badai. Hatiku sangat sekali jika mengingat itu."


"Bahkan dia juga memiliki mantram sihir yang sangat menyakitkan, jangan lupakan itu."


"Ya, termasuk itu. Aku sangat dendam padanya. Apa lagi dia telah membuat beberapa bagian tubuh kita cacat akibat pedang naga apalah itu yang dia gunakan saat itu."


Sepertinya mereka memiliki dendam yang sangat besar terhadap Adipati Gandara Fusena yang telah berhasil mengalahkan mereka. Namun saat itu mereka fokus untuk menggembleng Cakrawala, anak yang mereka culik dari Adipati Gandara Fusena, mereka yang memberi nama itu.


"Jika dia memang memiliki mata yang sangat bagus, jadi kita tidak terlalu sulit untuk menggemblengnya kakang."


"Kalau begitu mari kita coba."


Setelah itu mereka benar-benar memperagakan satu persatu jurus andalan mereka di hadapan Cakrawala, supaya anak muda itu mempelajarinya dengan mudah. Ya, memang awalnya satu dua jurus memang telah berhasil ia serap dengan sangat baik. Akan tetapi pada saat itu ada yang mulai aneh dengan tubuh Cakrawala, ia merasakan ada sesuatu yang mendesak dari perutnya saat itu.


"Tunggu sebentar ayah." Ia menghentikan gerakannya, setelah itu ia berjongkok dan memuntahkan sesuatu dari perutnya berupa cairan merah yang sangat kental. "Bhuekh!." Sungguh, ia tidak dapat menahan perasaan itu, apa lagi tubuhnya merasa sangat lemah.


"Cakra!." Taraka tanpa sadar langsung menahan tubuh Cakrawala yang hampir saja tumbang saat itu.

__ADS_1


"Paman taraka." Suaranya terdengar sangat lemah, perlahan-lahan matanya terasa sangat berat.


"Hei!. Cakra!." Taraka mencoba untuk membuat kesadaran Cakrawala tetap terjaga dengan menepuk pipinya. Akan tetapi rasanya itu percuma saja karena ia tidak sadarkan diri.


"Apa yang telah terjadi padanya?."


"Sepertinya dia terlalu banyak menyerap jurus yang kita ajari padanya kakang."


"Kalau begitu bawa saja pada nini asmara tanjung."


"Tidak bisa seperti itu tohpati!. Aku belum sempat untuk mengajari jurus yang aku miliki!."


"Sudahlah, kalian jangan sampai bertengkar. Aku yang akan membawanya ke tempat nini asmara tanjung." Taraka langsung bergerak, ia melompat dengan sangat cepat untuk menuju gubuk tempat kediaman Nini Asmara Tanjung yang merupakan wanita ahli obat.


"Apakah itu tidak apa-apa kakang?."


"Untuk saat ini kita tidak boleh membiarkan anak itu dalam keadaan terluka. Maka kita yang akan mengalami kerugian nantinya."


"Dendam yang kita rasakan harus sampai pada bapaknya yang telah membuat kita menjadi cacat seperti ini."


Ya, mereka tidak akan pernah lupa bagaimana ganasnya serangan dari jurus pedang yang dimainkan oleh Adipati Gandara Fusena. Tapi setidaknya hari ini mereka mendapatkan hadiah besar yang akan mereka gunakan ketika anak itu telah tumbuh besar?. Dan saat ini tujuan mereka adalah menggembleng anak itu dengan ilmu kanuragan kegelapan untuk membunuh bapaknya.


Sementara itu Taraka yang dalam keadaan panik telah sampai di gubuk itu, namun ia tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di sana. Tapi entah kenapa suasana hatinya sangat gelisah dengan keadaan Cakrawala yang semakin pucat pasi.


"Nini!. Nini asmara tanjung?!."


Namun saat itu ada seorang wanita yang keluar dari dalam gubuk itu, namun ia terlihat sangat marah?. "Apa yang kau lakukan di sini taraka?!. Kenapa kau berteriak-."


Deg!.

__ADS_1


Saat itu ia sangat dikejutkan dengan apa yang ia lihat saat itu, Taraka menggendong anaknya yang sedang pingsan?. Hatinya bergetar sakit melihat itu. "Cepat bawa dia ke dalam!."


"Baik nini."


"Oh!. Dewata yang agung. Kenapa anakku pingsan?."


Suasana hatinya sangat gelisah memikirkan apa yang telah ia rasakan saat itu, sedangkan Taraka hanya diam saja sambil membaringkan tubuh Cakrawala di dipan tempat tidur yang ada di dalam gubuk kecil itu. Tanpa banyak bicara ia langsung memeriksa bagaimana keadaan anaknya, alangkah terkejutnya ia ketika ia merasakan ada racun aneh yang ada di dalam tubuh anaknya itu?.


"Apakah kalian telah berusaha untuk mengajarinya jurus alam sukma?."


Deg!.


"Bagaimana mungkin nini bisa mengetahui itu?."


"Aku ini adalah ahli dalam membuat racun, tentunya aku mengetahui dengan sangat pasti, bahwa ini adalah bentuk racun yang diserap dari mempelajari jurus kegelapan yang kalian miliki."


"Lantas?. Apa yang akan nini lakukan?."


"Butuh waktu berapa hari bagiku untuk mencari ramuan obat itu, namun untuk sementara waktu aku bisa menghentikan aliran racun itu dari tubuhnya."


"Kalau masih lama itu aku rasa kakang hadi gama akan menyeretnya untuk segera belajar ilmu kanuragan kembali nini."


"Katakan pada kakang hadi gama. Jika dia berani melakukan itu?. Maka aku yang akan menyeretnya masuk ke neraka dengan racun ular kobra gunung merah. Katakan juga pada yang lainnya jika mereka tidak terima dengan apa yang telah aku putuskan."


"Baik nini."


Taraka hanya nurut saja atas apa yang telah dikatakan oleh Nini Asmara Tanjung, karena ia sangat kenal bagaimana sikap wanita awet muda itu marah?. Maka siap-siap saja kau akan menjadi bahan uji coba racun yang ia racik sendiri. Namun suasana hati Nini Asmara saat itu sedang sangat sedih melihat keadaan anaknya yang terluka parah setelah belajar ilmu kanuragan tingkat tinggi?.


"Padahal kau masih sangat muda nak?. Tapi kenapa mereka telah memaksa dirimu untuk melakukan hal seharusnya belum dilakukan anak kecil seperti mu." Hatinya saat itu merasakan kesedihan yang sangat dalam tentang perasaan cemas yang ia rasakan saati itu sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu, dan seorang istri yang dapat menenangkan anaknya dalam keadaan apapun.

__ADS_1


Kembali ke masa ini, masa kini.


...***...


__ADS_2