
...***...
Hadi Gama masih memikirkan apa yang telah dikatakan kedua orang agung itu mengenai alasan kenapa mereka menyerang secara diam-diam?.
"Atas dasar apa aku harus percaya pada kalian?. Aku sangat benci dengan ucapan pria agung busuk seperti kalian."
"Kurang ajar!. Ternyata mulutnya kurang ajar juga." Dalam hati Senopati Sagala Kasih merasa sangat kesal dengan apa yang telah ia dengar. "Jika tuan adalah pendekar sejati?. Kenapa tidak tuan buktikan saja?. Saya akan membantu tuan untuk mengalahkannya."
Hadi Gama saat itu tampak sedang berpikir dengan apa yang telah ia dengar, apalagi ketika matanya melihat Adipati Gandara Fusena yang sedang berhadapan dengan Gala dan Tohpati. Sementara itu Tadakara dan Taraka kini sedang mengobati luka dalam yang mereka terima tadi.
"Aku tidak perlu turun tangan, aku hanya perlu melihat gala dan tohpati yang kini berhadapan dengannya." Hadi Gama memilih untuk meneliti, mengamati, apakah Adipati Gandara Fusena memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat mempuni atau tidak.
Sementara itu pertarungan Tohpati dan Gala yang menggunakan banyak ilmu sihir yang mereka pelajari dari orang asing?. Tentunya mereka menggunakan kekuatan itu untuk menghadapi Adipati Gandara Fusena.
Namun saat itu Adipati Gandara Fusena yang sangat taat agama, ia mematahkan sihir itu dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an yang membuat keduanya merintih kesakitan. Di saat yang bersamaan Tadakara dan Taraka yang baru saja selesai mengobati luka mereka langsung menyeret Tohpati dan Gala yang tampak kesakitan setelah mendengarkan bacaan ayat Al-Qur'an.
Tubuh keduanya terlihat melepuh, seperti terbakar. Entah apa yang terjadi pada keduanya namun itu memberikan dampak yang sangat buruk bagi keduanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?." Hadi Gama sangat penasaran, dan ia melompat mendekati mereka semua.
Sedangkan Taraka dan Tadakara mencoba untuk mencoba untuk mengobati luka kedu temannya. Sayangnya belum memberikan dampak apa-apa pada mereka.
"Kurang ajar!. Ternyata kau adalah seorang ahli ilmu sihir." Hadi Gama terlihat sangat marah, melihat kondisi Tohpati dan Gala.
"Astaghfirullah hal'azim kisanak. Aku sama sekali tidak menggunakan ilmu sihir. Tapi kedua teman kisanak lah yang menggunakan sihir pada saya."
"Kau tidak usah banyak berkilah. Jika kau masih memiliki kepandaian, maka bertarung lah secara jantan dengan aku."
__ADS_1
"Jika tuan merasa penasaran?. Akan saya ladani tuan dengan beberapa jurus yang saya miliki."
Adipati Gandara Fusena kini berhadapan dengan Hadi Gama, keduanya tampaknya sedang sangat serius, karena keduanya ingin menuntut balas atas apa yang dilakukan musuh tehadap orang terdekat mereka.
"Lalu bagaimana dengan kita kakang?."
"Kita lihat saja pertarungan ini. Nanti siapa yang menang?. Maka dia yang akan kita bunuh."
"Kenapa seperti itu kakang?."
"Karena dia telah kelelahan setelah bertarung dengan sangat dahsyat. Menggunakan terlalu banyak tenaga dalam, aku sangat yakin mereka tidak akan sanggup untuk bertarung lagi."
"Kakang sangat cerdas sekali."
"Tentu saja aku sangat cerdas." Ia merasa berbangga hati dengan itu.
"Akan ku bunuh kau!." Ada kemarahan yang ia tunjukkan saat itu dari hatinya.
Hadi Gama saat itu sedang bertarung dengan sekuat tenaga untuk membunuh Adipati Gandara Fusena, karena telah melukai kedua adik seperguruannya. Ia sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan sang adipati. Pertarungan keduanya sangat ganas, sama-sama memiliki tingkat ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Apalagi ketika Adipati Gandara Fusena berhasil menirukan salah satu jurus berbahaya milik Hadi Gama.
"Kurang ajar!. Ternyata kau berani mencuri jurus halilintar di dalam kegelapan yang aku miliki."
"Aku memang memiliki kemampuan itu. Dan akan aku kembalikan jurus itu padamu, supaya apa yang kau berikan pada orang lain dapat kau rasakan pula."
Kekuatan itu sama ganasnya, sehingga lingkungan itu terlihat ada sambaran petir yang sangat ganas, sehingga mereka sama sekali tidak bisa mendekatinya.
"Kakang!. Kakang hadi gama!. Jurus yang kakang mainkan bisa membuat tohpati dan gala terbunuh!." Taraka terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Hadi Gama menghentikan gerakan jurusnya, memang itu jurus yang sangat berbahaya karena dapat mengganggu fisik seseorang yang sedang terluka parah.
"Kurang ajar!." Umpatnya dengan penuh amarah yang sangat membuncah. "Kali ini kau boleh menang Adipati gandara fusena. Namun lain kali aku akan datang untuk membunuhmu. Karena kau telah berani mencuri ilmu kanuraganku." Dengan penuh kebencian ia berkata sepert itu. "Bawa mereka."
Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan dendam yang sangat membuncah.
"Bhuekh!." Adipati Gandara Fusena saat itu muntah darah, karena ilmu kanuragan yang ia tiru tadi adalah ilmu kanuragan kegelapan, memiliki hawa panas yang sangat berbahaya. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Perut hamba terasa sangat sakit sekali ya Allah." Itulah yang ia rasakan saat itu.
Akan tetapi pada saat i itu siapa yang menduga jika Senopati Sagala Kasih dan Dharmapati Ayutra Ganda keluar dari persembunyian, dan mereka hendak menyerang Adipati Gandara Fusena yang masih dalam keadaan sakit?. Namun sayangnya serangan itu disadari oleh sang Adipati, sehingga ia berhasil menghindari itu. Dengan keadaan yang lemah, ia mencoba untuk menyandarkan tubuhnya di pohon yang tak jauh dari tempat ia diserang tadi.
"Kalian memang pengecut!. Tidak punya urat malu!. Menyerang seseorang yang dalam keadaan terluka parah."
"Diam kau gandara fusena. Sebenar lagi kau akan mati di sini. Kami yang akan membawa mayat mu ke istana."
"Hidup dan matiku hanya ditentukan Allah SWT . Pengcut seperti kalian tidak berhak untuk mengurus aku."
"Heh!. Dalam keadaan lemah seperti itu kau masih saja ingin melawan kami?. Sebaiknya kau menyerah saja."
"Ya, sebaiknya kau menyerah saja. Nafasmu saja sudah ngos-ngosan, jadi kau tidak usah melawan kami."
"Allohumma laka aslamtu wa bika amantu wa alika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu. Allohumma inni audzu bi izzatika laa ilaha illa anta an tudhillani. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun." Ucapnya sambil memainkan jurus andalannya.
"Tidak ada gunanya kau membacakan mantra-mantra aneh untuk menghibur diri. Sebaiknya kau segera meminta ampun pada kami."
Namun Adipati Gandara Fusena tidak menyerah begitu saja, ia masih sanggup untuk berhadapan dengan dua orang pria agung yang sedang mengincar nyawanya itu. Pada hari itu keimanannya sedang diuji karena telah membunuh dua orang pria agung yang menginginkan kematiannya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1