BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
SUASANA HATI


__ADS_3

...***...


Sementara itu pendekar belati berdarah yang saat itu telah berhasil memulihkan tenaga dalamnya karena bantuan dari temannya. Nini seruling pemecah sukma, itulah nama julukan dari pendekar wanita itu.


"Aku sangat kagum dengan pendekar yang telah berhasil mengalahkan mu."


"Kau ini bagaimana nini?!. Bisa-bisanya kau malah kagum pada musuh yang telah mengalahkan aku?!."


"Heh!. Aku hanya kagum saja, karena dia telah berhasil mengatasi pengaruh jurus belati berdarah yang kau miliki." Pendekar wanita itu tampak kesal. "Lalu bagaimana temanmu Pendekar semburan api iblis?. Ke mana dia?!."


"Dia tewas di tangan pendekar itu. Dengan jurus yang tidak aku ketahui sama sekali." Ia masih ingat dengan kejadian yang sangat menyeramkan itu.


"Kalau begitu kau masih beruntung karena kau masih hidup. Memangnya pendekar seperti apa yang kau hadapi?. Sehingga kau terluka parah, dan temanmu sampai tewas?." Ia memberikan gelas bambu yang berisikan ramuan yang dapat menghilangkan pengaruh buruk dari jurus aneh itu.


"Sepertinya dia bukan orang sini. Karena gaya bicaranya yang sangat berbeda dengan orang asli di sini."


"Hanya itu saja yang kay ketahui ?. Kau ini sangat bodoh sekali."


"Diam kau!. Berani sekali kau mengatai aku bodoh!.


"Kau itu memang sangat bodoh!. kalau kau masih saja berbicara seperti itu?. Aku yang akan membunuh mu dengan ramuan racun ini."


Deg!.


Pendekar belati berdarah tentunya sangat takut dengan ancaman itu, karena nini seruling pemecah sukma tidak pernah main-main dalam berkata.


"Kalau begitu kau istirahat saja, agak memakan waktu yang cukup lama untuk kau sembuh. karena kau terkena jurus pembalik aliran tenaga dalam." Ia tampak senang melihat temannya itu menderita. "Jika kau tidak mengalah, dan cepat pergi sana?. Aku pastikan kau akan jadi mayat."


"Apa?!."


"Kau akan tewas jika kau memaksa untuk bertarung dan mengeluarkan tenaga dalammu."


Pendekar belati berdarah sangat terkejut dengan apa, yang telah dikatakan oleh Nini seruling pemecah Sukma.


"Sial! Untung saja saat itu aku tidak memaksakan diri untuk melanjutkan pertarungan itu." Dalam hatinya Saat itu masih ingat dengan rasa sakit yang mendera tubuhnya. "Jika saja aku tidak menuruti kata tubuhku dari pada kata keinginan harga diriku." Dalam hatinya merasa Sangat bersyukur akan itu.


"Heh!. Kau tidak usah pucat seperti itu. Sangat memalukan sekali." Nini Seruling pemecah sukma malah mengejek temannya. "Kau masih beruntung kali ini kawan." Ia tepuk pandak temannya dengan Penuh simpati.

__ADS_1


"Ucapanmu sangat kejam sekali." Hatinya terasa mau hancur mendengarkan itu. "Apakah benar kau ini temanku atau tidak nini?."


"Memangnya siapa yang mengakui kau sebagai temanku?."


"Huh!. Sudahlah nini. Rasanya hatiku semakin sakit mendengarkan ucapanmu itu."


"Hahaha!. Kau ini memang bodoh!. Hahaha!." Pendekar wanita itu tampak sangat puas.


"Huh!. Kenapa aku bisa berteman dengan orang mulut pedas seperti kau ya?. Aku memang sangat bodoh." Keluhnya dengan ratapan prihatin pada diri sendiri.


...***...


Sementara itu Cakrawala dan Kusna sedang mengamati wanita cantik yang telah berhasil mereka selamatkan.


"Apakah kau baik-baik saja?."


"Apakah kau bisa pulang sendiri?."


Kusna mencolek bahu Cakrawala. "Mana mungkin dia bisa pulang sendiri. Kau ini ada-ada saja."


"Tapi tidak mungkin pula kita mengantarnya." Cakrawala tampak kesal.


"Adi?. Sepinya ini adalah sebuah kebetulan yang tidak terduga sama sekali."


"Nanti aku jelaskan."


Cakrawala tampak menghela nafasnya dengan sangat lelah. "Kita ini pendekar hitam kakang. Bukan pendekar baik yang suka menolong orang lain."


"Ayolah adi. Hanya kali ini saja." Kusna terlihat sangat memohon.


"Hufh!. Baiklah. Kali ini saja." Ia hanya bisa menghela nafas panjang.


"Baiklah nimas. Kalau begitu tunjukkan pada kami jalan pulang ke istana pusara angin." Ia hanya mencoba untuk tersenyum ramah.


"Kalau begitu ikuti aku tuan." Wanita cantik itu mempersilahkan mereka untuk ikut dengannya.


Cakrawala dan Kusna langsung berjalan mengikuti wanita cantik itu menuju istana Pusara Angin.

__ADS_1


...***...


Gandara Fusena saat itu mencoba untuk mencari keberadaan pemuda bertopeng hitam itu.


"Aku sangat yakin sekali jika dia adalah putraku. Ternyata orang-orang tua bangkotan seperti mereka telah membesarkan anakku dengan sangat buruk." Hatinya sangat mengutuk itu. "Aku tidak akan mengampuni mereka, akan aku cari mereka sampai dapat." Dalam hatinya benar-benar sangat kesal dengan itu.


Kembali ke masa lalu.


Saat itu halaman kediaman Adipati Gandara Fusena menjadi lebih tegang, karena kelima pendekar golongan hitam telah mengambil anak Sang Adipati.


"Kembalikan anakku!. Kalian jangan pernah memikirkan untuk membunuhnya di hadapan kami!." Dalam hatinya saat itu muncul perasaan dendam atas apa yang telah terjadi di masa lalu?.


"Gandara fusena, raut wajahmu terlihat sangat menyeramkan sekali. Bahkan pohon-pohon yang segar ini mengering ketakutan melihat wajahmu yang seram itu."


Deg!.


Gandara Fusena sangat terkejut ketika melihat ada seorang wanita cantik yang duduk dengan santainya di atas sebuah pohon besar.


"Nimas wulan daryani?."


"Syukurlah kalau kau masih ingat dengan aku." Ia melompat ke bawa, ia tersenyum ramah. "Apa yang membuat pemuda gagah seperti kau terlihat sangat suram seperti itu?. Apakah terjadi sesuatu padamu?."


"Kau jangan menghina aku dengan panggilan pemuda gagah!. Kau sendiri sudah mengetahui jika aku ini sudah tua!." Hampir saja ia tidak dapat menahan amarahnya yang bergejolak itu.


"Salahkan wajahmu yang tampan itu. Kenapa begitu awet muda sekali?. Apakah kau memiliki jurus atau ramuan khusus supaya awet muda?. Katakan padaku bagaimana rahasianya." Ia malah tertawa puas. Karena ia telah berhasil membuat Gandara Fusena kesal.


"Diam kau endang suara!. Aku tidak akan pernah mengatakannya padamu!." Ia benar-benar terbawa amarah. "Kau ini memang sangat suka sekali membuat aku marah!. Apakah kau tidak bisa membuat aku senang?."


"Maaf saja, aku tidak bisa melakukan itu. Karena kau telah memiliki istri." Wulan Daryani dengan malu-malu berkata seperti itu.


"Huh!. Apaan itu?. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku sama sekali tidak kan tertarik dengan hal yang kau pikirkan." Ia sangat kesal.


"Baiklah." Wulan Daryani menghela nafasnya. "Memangnya kau mau ke mana?. Apakah kau memiliki masalah?." Dengan suara yang ramah ia bertanya seperti itu.


"Aku sedang mencari seseorang." Ia terlihat sedih. "Aku harus segera mencarinya, jika tidak ingin terjadi sesuatu yang mengerikan nantinya."


"Kalau begitu aku akan membantumu mencarinya."

__ADS_1


Bagaimana tanggapan Gandara Fusena?. Simak terus ceritanya. Next.


...***...


__ADS_2