
...***...
Mereka semua sangat terkejut, karena orang teman telah menyelematkan Endang Sari adalah seorang muslim?.
"Maaf, saya bukanlah orang jahat. Saya tidak sengaja mendengarkan suara teriakan nini ini, jadi saya menolongnya dari dua orang pemuda yang hendak mengejarnya."
"Benarkah itu putriku?."
"Benar ayah. Tuan inilah yang membantu saya."
"Oh. Kalau begitu maafkan sikap kasar mereka."
"Tidak apa-apa pak kyai. Saya memakluminya saja."
"Kalau begitu mari masuk. Akan saya jamu tuan dengan baik, sebagai ucapan maaf, dan terima kasih saya."
"Terima kasih pak kyai, tapi saya ingin melanjutkan perjalanan saya."
"Putriku. Kau segeralah bergabung dengan santri wanita yang lainnya. Katakan pada ibumu, jika kita ada tamu, serta siapkan jamuan."
"Baik ayah."
Setelah itu Endang Sari meninggalkan tempat itu, tentunya ia ingin menemui ibunya.
"Kalau begitu istirahatlah di sini barang beberapa hari. Jangan terlalu memaksakan diri untuk terus berjalan. Mari kita ajarkan kebaikan, satu atau dua ayat di pesantren ini."
"Baiklah kalau begitu pak kyai."
"Alhamdulillah."
"Lalu bagaimana dengan kami pak kyai?."
"Kalian semua siapkan satu kamar untuk tuan pengembara ini. Sekarang dia adalah tamu kita."
"Baik pak kyai."
"Mari masuk tuan."
"Terima kasih pak kyai."
Setelah itu mereka masuk ke dalam pesantren, tidak ada kegaduhan yang membawa keburukan bagi mereka semua.
...***...
Sementara itu Cakrawala telah berhasil menguasai jurus gagak pematik sukma tingkat pertama, dan ia hendak melanjutkan tingkat ketiga dalam waktu yang bersamaan?. Mereka semua yang memperhatikan itu tidak berkedip sama sekali, mereka tidak menduga jika Cakrawala mampu mempelajari jurus itu dalam waktu yang sangat singkat.
"Anak ini benar-benar gila. Dia mampu menirukan jurus itu dengan sangat sempurna." Dalam hati Taraka.
"Anak Adipati sialan itu ternyata memang sangat hebat. Aku saja butuh waktu yang sangat lama untuk menguasai jurus itu." Dalam hati Hadi Gama. "Tapi dia?". Rasanya ia tidak terima dengan itu. "Anak dan ayah sama saja, pencuri busuk yang dengan mudahnya memainkan jurus orang lain."
"Apakah benar yang aku lihat saat ini?. Aku kalah dengan anak kemarin sore." Dalam hati Tohpati merasa keberatan dengan itu.
"Anak ini benar-benar sangat gila. Dalam waktu yang sangat singkat?. Dia bisa mempelajari ilmu kanuragan itu?. Turunan siapa dia itu?." Dalam hati Gala sangat bingung dengan apa yang ia lihat.
"Adi cakra memang sangat hebat, dia mempelajari jurus itu dalam waktu yang sangat singkat?. Sedangkan aku?. Butuh empat tahun menguasai tingkat pertama dan tingkat ketiga." Dalam hati Kusna merasa iri dengan kemampuan yang dimiliki oleh Cakrawala.
"Tubuhku. Rasanya ada yang aneh dengan tubuhku." Dalam hati Cakrawala sedikit panik ketika ia merasakan ada hawa hitam yang saling berbenturan dengan hawa murninya. "Sepertinya ada yang ingin keluar dari dalam tubuhku. Kegh!."
__ADS_1
Deg!.
Cakrawala menghentikan gerakan itu, tubuhnya terasa sangat kaku karena ada gejolak yang hendak keluar dari dalam tubuhnya?. Mereka yang melihat itu juga sangat terkejut.
"Apa yang terjadi?."
"Kenapa tiba-tiba saja ia menghentikan permainan jurusnya?."
"Adi cakra!. Apa yang terjadi padamu?!."
"Cakra?!. Apakah kau baik-baik saja?!. Jawab aku cakra!."
Namun tidak ada jawaban dari Cakrawala, hingga saat itu ia mencoba memainkan jurus sebuah jurus yang telah diajarkan oleh Nini Asmara Tanjung padanya.
Mereka semua memperhatikan apa yang telah dilakukan oleh Cakrawala saat itu, namun mereka membiarkan anak muda itu melakukannya?.
"Kakang hadi gama. Bukankah itu jurus pemurnian tenaga dalam milik nini asmara tanjung?. Kapan dia mempelajari jurus itu?."
"Benar sekali kakang. Gerakan itu adalah gerakan yang digunakan ketika hawa murni yang ada di dalam tubuh kita berbenturan dengan hawa hitam sebuah jurus kegelapan."
"Aku rasa benar yang dikatakan oleh taraka. Itu adalah jurus milik yang dapat mengembalikan hawa murni agar kembali normal."
"Mungkin, nini asmara tanjung telah mempersiapkan jurus itu khusus untuknya, supaya kondisi tubuhnya tidak mengalami kelumpuhan, karena kita telah memaksanya untuk mempelajari jurus itu kakang."
"Jadi itu adalah jurus pemurnian hawa tenaga dalam?." Dalam hati Kusna sangat terkejut dengan itu.
Mereka semua sangat setuju dengan apa yang tersaji di depan mata saat itu. Mereka tidak menduga sama sekali, jika Nini Asmara Tanjung begitu sangat perhatian pada Cakrawala, sehingga ia mempersiapkan jurus itu untuk memurnikan tenaga dalamnya. Sementara itu Cakrawala telah berhasil memurnikan tenaga dalamnya, ia telah berhasil menenangkan dirinya. Namun tetapi saja, masih ada dampak yang ia terima dari apa yang telah dipaksakan itu.
"Uhukh!." Ia terbatuk dan memuntahkan darah hitam yang sangat kental.
"Cakra." Taraka langsung mendekati Cakrawala, ia sangat khawatir dengan keselamatan anak itu. "Cakra, kau baik-baik saja?."
"Kalau begitu kau istirahat lah. Jangan paksakan diri untuk melanjutkan latihan mu."
"Tapi-."
"Kakang. Cakra telah berhasil menguasai tingkat ketiga. Biarkan dia istirahat."
"Kau ini bicara apa taraka!."
"Kakang. Untuk tahap selanjutnya biarkan dia yang menguasai sendiri. Jika kakang memaksakan dia untuk tetap mempelajari sampai tahap akhir, apakah kakang tidak terlalu memanjakan anak ini?. Aku rasa itu bukanlah sifat kakang yang suka memanjakan anaknya."
"Terserah kau saja taraka."
"Terima kasih kakang." Taraka sangat senang mendengarnya. "Cakra, mari kita jalan-jalan sebentar. Kau pasti lelah setelah latihan, kan?."
"Baiklah paman."
Setelah itu keduanya pergi meninggalkan mereka, dan entah jalan-jalan ke mana yang mereka maksudkan.
"Taraka itu memang selalu memanjakan cakra. Dari bayi, bahkan sampai sekarang."
"Sudahlah. Lagi pula jika tidak ada dia, mungkin cakra tidak akan sampai ke tahap ini. Kita yang terlalu keras padanya. Apakah kau tidak ingat dengan apa yang dikatakan oleh nini asmara tanjung?."
"Heh!." Tadakara sama sekali tidak terima dengan itu.
...***...
__ADS_1
Pondok pesantren.
"Nama saya gandara fusena. Saat ini saya sedang mengembara dalam masa pencarian anak saya yang telah lama menghilang."
"Jadi seperti itu?. Apakah kau yakin?. Jika anakmu masih hidup?."
"Akhir-akhir ini saya bermimpi bertemu dengan anak muda yang sangat mirip dengan saya. Mungkin itu adalah petunjuk kepada saya, jika anak saya masih hidup."
"Semoga saja kau bisa bertemu dengan anakmu suatu hari nanti."
"Aamiin. Semoga saja pak kyai."
"Lalu apakah kau memiliki petunjuk?. Di mana keberadaan anakmu itu?."
"Kalau masalah itu saya belum mengetahui dengan pasti. Karena saya merasakan tempat itu seperti sedang tertutup oleh kabut tebal yang sangat gelap."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."
"Itulah yang membuat saya mengembara tanpa arah. Hanya mengikuti kata hati saya."
"Semoga saja Allah SWT memberikan kemudahan bagimu untuk menemukan keberadaan anakmu."
"Aamiin ya rabbal aalamiin." Dalam hatinya sangat mengidamkan itu.
"Tapi aku sama sekali tidak menduganya."
"Tentang apa kyai?."
"Jika kau telah menikah. Kau pikir kau anak lajang yang memang suka mengembara."
Gandara Fusena sempat tertawa kecil mendengarkan itu, ucapan itu terasa lucu baginya. "Saya tidak termasuk golongan muda lagi pak kyai. Saya telah memiliki satu orang istri, dan ada anak gadis saya yang kini telah menginjak usia tiga belas tahun."
"Hehehe. Aku pikir kau masih lajang. Tadinya aku ingin menikahkan engkau dengan anak perempuan saya yang telah kau tolong itu.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk menolak rezeki, hanya saja saya tidak ingin mengecewakan istri saya yang sangat setia menunggu saya di rumah."
"Apakah kau tidak berniat untuk membawa bunga satu lagi?."
"Jika masalah itu saya tidak berani. Sebab saya telah berjanji kepada istri, diri saya sendiri, dan kepada Allah SWT. Bahwa saya memang memiliki niat untuk mencari anak saya dalam pengembaraan ini."
"Baiklah kalau begitu. Aku mengerti dengan apa yang kau katakan. Tapi sebelum kau pergi melanjutkan perjalanan, izinkan aku memintamu mengajarkan satu dua ilmu yang kau miliki kepada santri yang ada di sini."
"Insyaallah pak kyai. Akan saya penuhi jika pak kyai meminta bantuan itu."
"Terima kasih adi gandara."
"Sama-sama pak kyai."
Itulah pembicaraan Gandara Fusena dengan Kyai Hasan Ali. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu di sebuah tempat yang cukup ramai, saat itu ada seorang pendekar yang sedang memperhatikan orang-orang sekitarnya. Saat itu mereka berada di pantai, mereka menunggu para nelayan yang kembali dari laut. Namun anak muda itu sedang mengingat sesuatu yang terjadi padanya saat itu.
"Kurang ajar. Aku masih belum lupa bagaimana pendekar kecil itu meniru jurus yang aku miliki?." Dalam hatinya masih ingat dengan kejadian tiga bulan yang lalu, di mana ia bertemu dengan seseorang yang mampu meniru semua jurus yang ia miliki?. "Hatiku sangat sakit mengingat penghinaan yang telah ia berikan padaku. Namun saat itu aku sama sekali tidak bisa melawannya."
Hatinya saat itu sedang dipenuhi dengan dendam yang sangat membara, ketiak hatinya yang dipenuhi oleh sifat dendam yang telah membakar nalurinya. "Akan aku cari pendekar kecil itu. Akan aku habisi dia dengan jurus terbaru ku. Aku yakin dia tdiak akan mampu lagi mencuri jurusku. Akan aku pastikan dia akan tewas karena telah memaksakan diri untuk mencuri jurus yang aku mainkan nantinya." Saat itu ia tersenyum lebar sambil membayangkan, jika pendekar kecil yang telah berhasil mencuri jurusnya akan terbakar hangus menjadi abu, karena tidak mampu meniru gerakannya?. "Kau akan mampus pendekar kecil. Kau akan mati terbakar setelah mencuri jurusku itu. Ahahaha!." Entah kenapa saat itu ia ingin tertawa saat itu juga, sehingga ia menarik perhatian banyak orang di sana. "Kau akan mati terbakar, dan kau akan menjadi abu!. Ahahaha!." Ucapnya dengan suara yang sangat keras. Ia tidak peduli bagaimana dengan tanggapan mereka ketika melihatnya yang bertingkah seperti orang gila?. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu, karena ia ingin melakukan persiapan. Mungkin suatu hari nanti ia akan bertamu kembali dengan pendekar yang telah membuat ia menderita dengan kekalahan yang dialaminya saat itu?.
__ADS_1
...***...