
...***...
Malam masih menyapa, Tadakara sedang melatih kembali ilmu kanuragan yang ia milik. Walaupun usianya telah memasuki 61 tahun, namun lelaki itu masih sanggup memainkan beberapa jurus yang ia miliki. Sedangkan yang lainnya hanya melihat saja dari pondok. Mereka mengetahui jika Tadakara sedang kesal, karena terlalu lama menunggu Cakrawala yang kini sedang bersama Nini Asmara Tanjung. Namun saat itu Gala sepertinya sedang menguji kesabaran yang dimiliki oleh Tadakara, sehingga ia menghentikan permainan jurusnya.
"Hei!. Takadara!. Gerakanmu sudah mulai melemah!."
"Diam kau gala!. Berani sekali kau memanggil aku seperti itu!."
"Ahaha!. Itu saja kau marah takadara!."
"Bedebah!. Jika kau merasa masih kuat!. Maka hadapi aku!. Jangan banyak mulut kau dengan duduk di samping kakang hadi gama!. Kau pikir aku takut?. Hah?!."
"Ladani dia gala. Kau yang membuat dia marah."
"Baiklah kakang."
Setelah itu Gala melompat tepat dihadapan Tadakara yang tampak dikuasai oleh amarah. Sepertinya akan ada pertarungan antara Tadakara dan Gala?.
"Kau jangan memancing amarahku laga. Kau itu hanyalah lelaki bangkotan yang mulai kusam."
"Kau jangan menghina aku takadara. Aku masih kuat menghadapi kau!."
Ya, memang keduanya memiliki emosional yang sangat tinggi, sehingga pertarungan itu tak dapat dihindarkan lagi. Keduanya telah memulai pertarungan dengan menggunakan jurus andalan masing-masing. Sementara itu Hadi Gama dan yang lainnya memperhatikan itu.
"Kusna. Kau perhatian itu dengan baik-baik. Bisa saja kau contohi jurus mereka, untuk mengembangkan jurusmu."
"Baik ayah. Akan saya perhatikan."
"Tapi aku rasa diumur kita yang sudah tua ini, kita harusnya mulai berhenti kakang."
"Kita akan berhenti setelah kita memastikan jika cakra dan kusna berhasil mengalahkan Adipati sialan itu. Aku masih dendam padanya."
"Kakang benar. Saya tidak akan pernah lupa dengan itu."
Tohpati masih ingat dengan kejadian itu, ia hampir saja tewas terkena pukulannya sendiri, karena Adipati Gandara Fusena yang dengan sempurna mencuri jurusnya?.
"Kusna. Selama kau mengembara mencari Adipati Gandara Fusena, ataupun musuhku yang lainnya, kau perhatikan adikmu itu. Jangan sampai dia berbicara dengan orang asing selain dirimu. Kau mengerti itu kusna?."
"Mengerti ayah. Akan saya lakukan sesuai dengan keinginan ayah."
"Bagus. Itulah yang aku harapkan darimu sebagai anakku yang tertua."
"Baik ayah."
Kusna memang mengetahui, jika ayah dan pamannya yang lainnya memiliki dendam terhadap pendekar lainnya, terutama dendam terhadap Adipati Gandara Fusena yang telah membuat mereka jadi cacat. Namun masih bisa menurun semua ilmu kanuragan mereka pada Cakrawala dan dirinya?. Dendam seperti apa yang mereka rasakan saat itu?. Sehingga mereka menggembleng anak-anak mereka dengan jurus yang sangat berbahaya?. Bagaimana jawabannya?. Simak terus ceritanya.
__ADS_1
...**...
Sementara itu di gubuk Nini Asmara Tanjung.
Cakrawala mengamati beberapa tanaman obat yang mungkin dapat ia gunakan untuk mengobati beberapa sakit?. Namun saat itu ia teringat sesuatu ketika ia pergi bersama pamannya Taraka di sebuah desa yang cukup jauh.
"Ibu."
"Ada apa cakra?. Apakah kau sudah mulai lelah?."
"Tidak ibu. Saya hanya ingat sesuatu."
"Ingat apa?. Apa yang kau ingat?."
"Saat saya sedang berada di sebuah desa, saat itu saya melihat ada seseorang aneh. Tubuhnya kejang-kejang aneh, dan bertingkah aneh."
"Apakah dia orang gila?."
"Awalnya saya juga memikirkan seperti itu ibu. Tapi paman taraka mengatakan pada saya,jika orang itu sedang dirasuki oleh jin. Apa itu artinya ibu?."
"Dia kesurupan. Mungkin saja karena teluh kiriman seseorang, atau bahkan dia yang tidak sanggup belajar ilmu hitam itu, sehingga dia kesurupan."
"Apakah ada obat, atau tanaman yang bisa menyembuhkannya ibu?."
Nini Asmara Tanjungterlihat sedang memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Cakrawala.
"Jika bertanya pada paman taraka, maka jawabannya bunuh saja dia."
"Olala, itu bukan saran yang baik."
"Ahaha!, Paman taraka memang seperti itu kadang. Lalu bagaimana dengan pendapat ibu mengenai itu?. Apakah ibu akan mengobatinya?."
"Meskipun aku adalah seorang tabib, namun sepetinya jika menyangkut hal yang seperti itu, aku tidak bisa mengobatinya. Mungkin aku akan membuat dia pingsan, supaya tidak membahayakan orang-orang sekitar. Tapi sangat disayangkan sekali, aku tidak bisa mengobati itu."
"Sagat disayangkan sekali ibu."
Ya, memang sangat disayangkan sekali, karena Cakrawala tidak dapat menemukan obat itu. Tapi apakah ia akan menyerah begitu saja dengan apa yang telah terjadi?. Simak terus ceritanya.
...***...
Pondok persilatan Bukit Harapan.
Gandara Fusena telah sampai di sana, dan ia di sambut baik oleh Nyai Embun Asih.
"Maaf, jika kedatangan saya mengganggu istirahat nyai."
__ADS_1
"Tidak apa-apa adi. Kedatanganmu akan selalu saya terima dengan baik di sini. Tapi-."
Saat itu matanya melihat ada seorang wanita yang datang bersama Gandara Fusena. Tentunya itu menjadi tanda tanya baginya saat itu.
"Nini ini saya temukan di hutan, ketika saya hendak menuju ke sini nyai. Dia bukan istri saya."
"Oh?. Pantas saja, aku pikir kau menambah istri lagi adi."
"Kepala saya akan putus, jika saya menikah lagi nyai."
Nyai Embun Asih malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Gandara Fusena. Sedangkan wanita yang belum diketahui namanya itu hanya diam saja.
"Lantas?. Apa yang akan kau lakukan pada wanita ini?. Kenapa kau malah membawa dia ke sini?."
"Saya hanya minta bantuan pada nyai untuk menampungnya di sini sementara waktu, hingga ia melahirkan. Namun setelah itu semuanya tergantung padanya mau ke mana setelah itu."
"Maaf, jika pertanyaan saya agak menyinggung perasaanmu cah ayu. Apakah suamimu tidak mengetahui masalah yang kau hadapi?. Atau kau kabur?-."
"Saya tidak kabur nyai, tapi saya telah dinodai oleh lelaki biadab yang telah menjebak saya. Sehingga saya berisi seperti ini."
Alangkah terkejutnya Nyai Embun Asih mendengarkan itu, hatinya sebagai seorang wanita seakan-akan telah dicabik sampai ke akarnya.
"Baiklah. Saya akan menampung kamu. Akan saya bimbing kamu agar menjadi wanita yang lebih kuat."
"Bagaimana pendapat nini?."
"Jika ini akan membantu, saya akan tinggal di sini. Mohon bimbingannya nyai."
"Ya, tentu saja."
"Terima kasih nyai. Semoga nyai bisa memberikan kebaikan padanya."
"Sama-sama adi."
"Saya juga mengucapkan terima kasih pada nyai, karena telah menerima saya di sini."
"Sama-sama cah ayu."
"Kalau begitu saya pamit nyai. Saya harus meneruskan perjalanan."
"Hari telah larut malam, menginap saja di sini sampai pagi. Tidak baik memaksakan diri melakukan perjalanan sampai larut malam."
"Terima kasih, nyai sangat baik sekali."
"Kau lah yang baik adi." Hanya seperti itu saja tanggapannya saat itu.
__ADS_1
...***...