BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 6


__ADS_3

...***...


"Jika kakang yang berkata seperti itu, saya benar-benar harus lebih berhati-hati."


"Apakah kau merasa takut?."


"Rasa takut itu memang ada kakang. Tapi sebagai seorang manusia yang memiliki tuhan, maka lebih pantas takut kepada Allah SWT. Meskipun sebagai manusia yang lemah ada juga perasaan takut pada manusia yang mungkin memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari kita kakang."


"Aku suka jawaban darimu adi." Ia duduk di pendopo dengan tenang. "Itulah yang aku rasa membuat orang segan dengan denganmu."


"Kakang ini bisa saja."


Setelah itu mereka berbincang-bincang mengenai rencana mereka untuk menyerang kelompok pendekar golongan hitam yang telah memberikan teror pada penduduk desa lembung.


...***...


... ...


Sementara itu kelompok pendekar golongan hitam sedang bersiap-siap ingin keluar dari goa itu?. Akan tetapi mereka merasakannya.


"Sepertinya kita kedatangan tamu."


"Benarkah itu kakang?. Tamu seperti apa yang akan kita hadapi?."


"Kita lihat saja. Tidak usah banyak bertanya tohpati. Langsung saja lihat!."


"Kau ini sangat tidak sabaran sekali tadakara."


Setelah itu mereka semua keluar dari goa itu hanya untuk memastikan siapa yang telah datang?.


"Ternyata kau?. Adipati keok."


"Aku kira siapa?. Ternyata adipati yang sok berani yang menghadapi kita semalam kakang."


"Kalau gitu kita hajar saja dia."


"Tapi dia bawa teman kali ini."

__ADS_1


Ucapan Taraka membuat mereka tertawa, kecuali Hadi Gama yang memang selalu menatap tajam ke musuhnya.


"Astagfirullah hal'azim ya Allah. Apakah mereka yang telah berbuat kerusuhan di desa ini kakang?."


"Benar adi. Memang mereka." Ia memang mengakui itu. "Kau harus berhati-hati adi, karena mereka memiliki tenaga dalam yang sangat merusak. Jika kau tidak berhati-hati kau akan celaka adi."


"Baiklah kakang. Saya akan berhati-hati lagi."


"Sebaiknya kalian jangan saling adu nasib di sini. Jika kalian memang ingin menangkap kami?. Maka lakukanlah dengan cepat, karena kami tidak ingin bermain-main dengan bocah seperti kalian." Tadakara memang suka memancing amarah musuhnya.


Saat itu Tadakara, Taraka, Gala, dan Tohpati langsung melompat menyerang. Tadakara dan Taraka menyerang Adipati Gandara Fusena, sedangkan Gala dan Tohpati menyerang Adipati Sanda Drajat. Lalu bagaimana dengan Hadi Gama?. Ia hanya memperhatikan apa pertarungan itu. Ia sedang malas untuk bergerak, sehingga ia membiarkan mereka yang bergerak.


Tadakara menggunakan pukulan hawa kegelapan untuk mengalahkan Adipati Gandara Fusena, sehingga saat itu ia terpaksa mundur untuk menghindarinya. Sedangkan Tadakara tertawa puas melihat musuhnya yang melemah?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Adipati Gandara Fusena dapat merasakan betapa bahayanya jurus itu.


"Heh!. Ternyata kau tidak ada apa-apanya. Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum kau menjadi mayat!. Ahaha!."


Tadakara dan Taraka tertawa puas, mereka merasa di atas angin. Bagi mereka Adipati Gandara Fusena bukanlah lawan yang patut mereka perhitungkan?. Namun Adipati Gandara Fusena hanya tersenyum kecil saja.


"Tuan pendekar memang hebat. Tapi asalkan tuan pendekar ketahui, ada sebuah ujar-ujar lama yang mengatakan." Ucapnya sambil memainkan sebuah jurus yang sangat aneh. "Di atas langit, masih ada langit yang tak bisa kita ukur."


"Bukankah itu jurus kibasan sayap garuda kematian?." Dalam hati Hadi Gama sedikit mengenali jurus aneh itu.


"Apakah golongan putih bisa mempelajari jurus itu?."


...**...


15 tahun kemudian.


Saat itu Nini Asmara Tanjung sedang menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan Cakrawala. Perlahan-lahan anak muda itu dapat merasakan kembali bagaimana tubuhnya. Nini Asmara Tanjung mengatur tenaga dalamnya, supaya tidak kacau setelah ia salurkan ada anaknya itu.


"Untuk saat ini tubuhmu masih lemah." Ia usap pelan puncak kepala anaknya. "Tapi ibu akan mengajarimu bagaimana caranya mengendalikan tenaga dalammu agar lekas sembuh dengan baik." Setelah itu ia bimbing anaknya menuju halaman depan pondok.


"Terima kasih ibu."


Kasih sayang yang ditunjukkan Nini Asmara Tanjung telah lama sejak anak muda itu datang. Ia besarkan dengan kasih sayangnya sebagai seorang ibu, walaupun ia tidak bisa mengandung. Namun dengan adanya anak muda yang ia beri nama Cakrawala?. Ia harap ia dapat memberikan kasih sayang kepada Cakrawala sebagai seorang ibu yang mencintai anaknya.

__ADS_1


Begitu mereka sampai di halaman, Nini Asmara Tanjung langsung menunjukkan beberapa gerakan yang dapat mengatur pergerakan tenaga dalam lebih lancar, menyesuaikan dengan kondisi tubuh.


"Jika kau mengalami luka dalam yang cukup parah, maka kau bisa menggunakan gerakan ini untuk menghindari terbukanya luka itu, dan tubuhmu akan aman. Perhatikan baik-baik apa yang aku ajarkan padamu."


"Baik ibu."


Cakrawala memperhatikan dengan sangat baik, apa saja yang telah diajarkan oleh Nini Asmara Tanjung padanya. Dengan matanya yang sangat hebat itu ia tangkap semua jurus-jurus itu dengan baik.


Sementara itu Hadi Gama dan yang lainnya hanya bisa memperhatikan itu dari jarak yang cukup aman.


"Bukankah itu jurus pemulihan tenaga dalam kakang?."


"Jika kau sudah tahu, kau jangan banyak bertanya tadakara."


Deg!.


Tadakara sangat terkejut dengan tatapan mematikan dari Hadi Gama.


"Tinggal satu jurus lagi yang belum aku ajarkan padanya, namun kau telah merusak segalanya."


"Kalau begitu aku akan memanggil kusna. Jika dia telah siap berburu, maka dia akan menjadi teman yang bagus untuk balas dendam kakang."


Hadi Gama tampak berpikir dengan apa yang telah diucapkan oleh Taraka.


"Bukankah kusna telah menguasai jurus raga patih?. Aku rasa cara  yang tepat supaya cakra mempelajari jurus itu adalah dengan mengembara bersama kusna sambil menebar maut pada semua musuh kita kakang."


"Baiklah adi taraka. Kali ini idemu akan aku turuti. Tubuhku juga rasanya sangat tidak kuat berjalan jauh. Jadi kau yang jemput dia."


"Baiklah kakang, akan saya jemput sekarang." Taraka langsung melompat meninggalkan merea semua untuk menjemput Kusna, anak yang mereka culik dari pendekar golongan putih, juga mereka gembleng dengan kanuragan golongan pendekar hitam.


"Dia itu pandai sekali mengambil hati kakang hadi gama. Dasar penjilat sejati." Dalam hati Tadakara sangat kesal. 


"Kau sangat hebat sekali cakra. Ya, lakukan dengan cara seperti itu." Nini Asmara Tanjung sangat terkesan melihat itu.


Cakrawala dengan kepandaian yang ia miliki mampu mempelajari apa yang ia tunjukkan tadi dalam waktu yang sangat singkat.


"Kalau begitu akan aku ajari kau ilmu pengetahuan tentang obat, dan juga cara membuat racun. Aku yakin kau akan dengan mudah mempelajarinya." Dalam hati Nini Asmara Tanjung telah memiliki niat, jika suatu hari nanti Cakrawala pergi dari gubuk itu, ia tidak perlu cemas dengan keselamatan anaknya yang memiliki pengetahuan yang sangat banyak untuk melindungi dirinya dari segala kemungkinan terburuk. 

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2