BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 12


__ADS_3

...***...


Gandara Fusena sedang melaksanakan sholat istikharah, semoga Allah SWT memberikannya petunjuk, atas apa yang telah menimpa penduduk desa itu?. Ini sangat aneh baginya, bagaimana mungkin penduduk desa itu hilang tanpa sebab?.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ia mengucapkan kalimat itu setelah salam kanan dan ke kiri. "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, kasih yang tiada banding dari apapun di dunia ini. Ya Allah berikan lah hamba petunjuk atas apa yang telah terjadi di desa ini?. Kenapa penduduk desa ini tidak ada di rumah mereka ya Allah?. Hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan. Hanya Engkau lah yang mengetahui apa yang telah terjadi di desa ini, berikan lah hamba petunjuk-Mu ya Rabb. Aamiin, aamiin ya Rabbal a'almiin."


Namun saat itu ada seorang kakek tua yang menyapa dirinya dari arah belakang. "Mari ikuti aku."


"Tapi bagaimana dengan anak ini aki?."


"Dia akan aman di sini. Kau akan melihat apa yang telah terjadi di desa ini."


"Baiklah aki."


Gandara Fusena mengikuti kakek itu keluar dari rumah itu, tapi rasanya ada yang aneh. 


"Apakah aku selama itu sholat?. Sehingga malam telah tiba?." Dalam hatinya merasa sangar aneh, ketika ia keluar hari telah gelap?.


"Lihat itu, mereka berada di sana."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


Matanya sangat terkejut melihat apa yang ada di depannya, pemandangan yang sangat tidak manusiawi. Mereka yang memberi makan iblis dengan menumbalkan orang-orang yang mereka cintai?.


"Apa yang telah mereka lakukan sebenarnya aki?. Apakah desa ini dulunya telah melakukan semacam ritual yang angat menyesatkan?."


"Seperti yang kau lihat, maka seperti itulah yang terjadi pada mereka."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apakah mereka tidak bisa diajak kembali ke jalan yang telah diajarkan Rasulullah Saw, aki?."


"Percuma saja."

__ADS_1


"Percuma saja?. Tapi kenapa?."


"Bukankah kau telah mengetahui bagaimana menasihati orang yang telah ditutup hatinya oleh sang pencipta?."


"A'uzubillahiminassyaitonirrajim bissmillahirrahmanirrahim, Innallazina kafaru, sawa un 'alaihim a anzartahum am lam tunzir-hum la yuminun. Artinya, sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman."


"Ya, lebih kurang seperti itulah mereka saat ini. Mereka tidak akan bisa mendengarkan apa yang telah engkau katakan pada mereka."


"Tapi, kalau tidak kita coba kita tidak akan tahu aki."


"Aku katakan padamu satu hal anak muda, sebenarnya mereka semua itu telah mati. Jadi kau hanya perlu membebaskan mereka semua dengan keteguhan iman yang ada di dalam dirimu."


"Mereka semua sudah mati?."


"Ya. Termasuk anak kecil yang kau tolong itu, sebenarnya dia telah lama mati. Hanya saja ingatannya yang terjebak di sana, jadi ia selalu di sana sampai seseorang membawanya dari sana."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


Itu, dan yang paling menyeramkan adalah ketika sosok hitam mengerikan hendak masuk ke dalam rumah itu, akan tetapi Gandara Fusena yang dalam bentuk sukma langsung menghalaunya.


"Kurang ajar kau!. Berani sekali kau masuk ke wilayah ini!. Kau berani mengacau tumbalku!."


"Kau tidak berhak atas mereka semua, karena bukan kau yang menciptakan mereka. Allah SWT tuhan yang telah menciptakan jin dan manusia, hanya kepada Allah SWT kita patut berserah diri. Bukan pada jin ataupun pada manusia."


"Kau tidak usah banyak bicara. Dunia ya dunia, akhirat lain lagi. Untuk saat ini akulah yang berkuasa atas mereka yang lemah imannya!."


"Aku telah mengatakan padamu, wahai jin yang terkutuk!. Jika kau tidak berhak atas mereka!."


Gandara Fusena sangat marah mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh jin itu, dan ia keluarkan tasbih untuk berdzikir. Memohon kepada Allah SWT agar memusnahkan jin yang tidak mau diberi peringatan. Gandara Fusena membacakan surah Al-fatihah, ayat kursi,  surah Al-Ikhlas, al-falaq, dan an-nas. Tentunya jin itu merasa sangat kesakitan ketika mendengarkan ayat itu dibacakan. Akan tetapi jin itu masih saja mau melawan?. Dan bahkan ia menyerang Gandara Fusena.


"Hentikan!. Kau tidak berhak membunuh aku!. Mereka lah yang telah datang padaku dengan suka rela, tapi kenapa aku yang harus dimusnahkan?!."

__ADS_1


Gandara Fusena terus membacakan ayat itu, ia tidak akan menggubriskan apa yang telah dikatakan oleh sosok menyeramkan itu. Cukup memakan waktu yang lama untuk mengusir jin itu, karena ia melakukan perlawanan. Hingga akhirnya ia menyerah, karena ia tidak tahan dengan ayat-ayat yang telah dibacakan oleh Gandara Fusena padanya.


"Alhamdulillah hirobbil alamin ya Allah." Ia sangat senang dengan apa yang telah ia lakukan, setelah itu ia kembali ke dalam raganya. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Jadi desa ini jadi desa tanpa penghuni?." Gandara Fusena melihat isi rumah itu, dan ia tidak melihat keberadaan anak itu lagi. "Apakah benar yang dikatakan kakek tadi?. Lalu apa yang akan aku lakukan setelah ini?."


"Tinggalkan saja desa ini, karena desa ini tidak baik jika kau tinggali."


"Aki?."


"Desa ini telah menjadi desa mati, dan mereka telah dikubur dengan dosa yang telah mereka lakukan selama ini. Aku akan mengantarmu keluar dari desa ini."


"Baiklah, jika memang seperti itu aki."


Gandara Fusena saat itu hanya mengikuti saja apa yang telah dikatakan oleh kakek itu, tentunya ia memahami desa itu, kan?. Apakah yang akan dilakukan Gandara Fusena setelah itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


Bukit Kegelapan.


Tadakara sangat tidak tenang sama sekali,  rasanya ia sangat bosan menunggu. "Mau sampai kapan kita akan menunggu seperti ini kakang?. Apa yang diinginkan nini asmara tanjung dengan menahan cakrawala di sampingnya?."


"Diam lah tadakara, kau pikir siapa yang telah membuat nini asmara marah?."


Tadakara hanya diam saja, memang ia akui jika dirinya lah yang telah membuat Nini Asmara Tanjung marah, namun ia tidak menduga akan jadi seperti ini.


"Bagaimana jika saya masuk ke sana?. Semoga saya bisa membujuk ibu."


"Apakah saya salah dalam berbicara paman?."


Kusna sangat gugup ditatap seperti itu oleh mereka yang memiliki raut wajah yang sangat tidak bersahabat sama sekali.


Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2