
...***...
Pada saat itu mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh pendekar topi caping. Mereka semua sama sekali tidak menduga apa yang telah dilakukan pendekar caping itu dapat mengakhiri hidup kakek tua yang sangat sakti mandraguna.
"Hei pendekar asing!. Siapa kau sebenarnya?. Kenapa kau bisa mengalahkan pendekar tua yang sakti itu dengan apa yang kau bacakan itu?!."
"Apakah kau ini seorang penyihir?. Apakah kau membunuhnya dengan mantram sihir yang kau bacakan tadi?."
"Astaghfirullahaladzim kisanak. Kalian semua jangan berprasangka buruk kepadaku. Apa yang aku bacakan tadi itu bukanlah mantram sihir. Akan tetapi apa yang kau bacakan itu adalah ayat-ayat suci Alquran yang telah aku pelajari. Aku ini adalah seorang muslim, sebagai seorang muslim sangat dilarang keras untuk menggunakan sihir. Apalagi sihir itu adalah sihir yang sangat jahat."
Saat itu mereka saling berbisik satu sama lain dengan apa yang telah dijelaskan oleh pendekar bertopi caping itu.
"Aku memang pernah mendengar berita tentang itu. Bahwa negeri ini memiliki ajaran yang lain yang menganut agama ajaran agama Islam. Aku tidak menduga sama sekali akan bertemu dengan orang yang seperti itu."
"Tapi apapun alasan yang kau berikan. Kau harus kami bunuh!. Karena kamilah yang seharusnya membunuh kakek tua itu!."
Seketika suasana menjadi panas, mereka sangat tidak terima dengan alasan yang diucapkan oleh pendekar topi caping. Mereka semua malah menyerang pendekar topi caping, hingga saat itu terjadi pertarungan yang sangat dahsyat antara pendekar. Akan tetapi pada saat itu Cakrawala sedang menenangkan dirinya, sedangkan Kusna mencoba mengamati apa yang terjadi di depannya.
"Siapa orang itu?. Entah kenapa rasanya tidak asing sekali bagiku?." Dalam hatinya sangat heran dengan apa yang ia rasakan pada saat itu. Dan tanpa sadar ia melompat ke salah satu pendekar yang hendak melayangkan cambuknya ke arah pendekar topi caping itu. Hatinya tidak terima sama sekali dengan apa yang telah dilakukan oleh pendekar cambuk setan. Ia terjang pendekar itu dengan sekuat tenaga sehingga tubuh pendekar itu melayang menjauh meninggalkan pendekar topi caping.
"Eagkh!." Pendekar cambuk setan melayang bagaikan kapas, tubuhnya mendarat ke tanah dan tentunya itu sangat sakit sekali baginya.
"Adi!." Khusna sama sekali tidak menduga jika Cakrawala akan melakukan hal yang tidak ia juga sama sekali.
Sementara itu mereka yang tadinya bertarung sempat terdiam, mereka sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh pendekar muda yang menggunakan topeng hitam?.
"Berani sekali kalian bermain keroyokan!." Amarahnya keluar begitu saja. "Orang tua seperti kalian memang tidak tahu diri!." Sorot matanya begitu tajam melihat ke arah mereka semua.
__ADS_1
"Rupanya kau ingin bermain-main anak muda." Pendekar pukulan penghancur karang sangat kesal.
"Aku tahu kau memiliki pukulan penghancur karang. Tapi sikapmu itu membuat aku muak, kau tidak perlu merasa bangga dengan pukulan setengah matang itu. Apa yang bisa kau sombongkan dari pukulan setengah matang itu?." Dengan menggunakan mata batinnya ia dapat melihat bagaimana bentuk pukulan pendekar itu.
Mereka sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh anak muda itu. Mereka tidak percaya jika anak muda itu mengetahui jurus pukulan penghancur karang yang dimiliki oleh pendekar itu?.
"Kalau kau ingin merasakan jurus itu?. Maka dengan senang hati aku akan memperlihatkan kepadamu anak muda." Ia tidak terima sama sekali dengan apa yang telah dikatakan oleh anak muda itu.
"Kalau begitu majulah satu-satu. Jangan main keroyokan seperti seorang pengecut!." Cakrawala seperti menantang mereka.
"Kau jangan jumawa dulu anak muda. Aku akan menghajarmu jika kau masih bermulut besar." Ia sangat kesal karena merasa diremehkan oleh bocah kemarin sore.
"Jika kalian main keroyokan?. Maka akan aku gunakan jurus petir pencabut sukma milik pendekar itu untuk membunuh kalian semua." Cakrawala menunjuk ke arah pendekar topi caping.
Deg!.
"Bagaimana mungkin anak muda itu mengetahui jurus yang aku miliki?." Dalam hati Gandara Fusena sangat tidak percaya dengan yang ia dengar.
"Jadi kau adalah pendekar yang memiliki jurus berbahaya itu?. Bagaimana mungkin kau memiliki jurus berbahaya itu?." Pendekar pukulan penghancur karang masih tidak percaya.
"Benarkah kau adalah pengguna jurus petir pencabut sukma?. Bukankah itu adalah jurus yang sangat berbahaya?." Pendekar pedang pelebur maya tampak waspada.
"Aku memang menggunakan jurus itu." Gandara Fusena terpaksa menjawabnya.
Deg!.
Bagi mereka yang telah mengetahui keganasan jurus itu tentunya mereka sangat terkejut.
__ADS_1
"Aku tidak menduga sama sekali jika kau adalah pendekar golongan hitam yang memiliki jurus yang sangat ganas." Pendekar pukulan penghancur karang mulai mundur beberapa langkah. "Kita tidak akan bisa menang melawan jurus itu. Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Hyah!." Setelah berkata seperti itu ia segera pergi menjauh dari sana dengan melompat menggunakan ilmu meringankan tubuh.
"Ya, sebaiknya kita pergi saja dari sini." Pendekar pedang pelebur maya juga segera pergi dari sana.
Tentu saja mereka tidak berani melawan pengguna jurus petir pencabut sukma. Karena jurus itu adalah jurus yang sangat berbahaya dan sebenarnya jurus itu adalah jurus yang sangat terlarang. Siapa yang berani menghadapi jurus maut itu?. Dari dulu semua pendekar telah mengetahui keganasan jurus yang tidak bisa dilawan dengan jurus apapun.
"Anak muda. Bagaimana kau bisa mengetahui jurus yang aku miliki itu?. Apakah kau memiliki mata penembus batin?." Gandara Fusena saat penasaran dengan itu. "Karena aku juga memiliki mata itu. Namun sayangnya entah kenapa aku tidak melihat apapun darimu. Seakan-akan kau sedang dipagari oleh sesuatu hal yang sangat gelap yang tidak bisa aku tembus dengan mata batinku." Itulah yang ia rasakan pada saat itu.
"Tuan tidak perlu tahu. Aku tidak akan memberitahu kepada tuan apapun." Tiba-tiba saja ada kemarahan yang menyelimuti suasana hatinya.
"Adi!." Kusna menghampiri cakrawala yang sedang dikuasai oleh. Dari tadi ia hanya memperhatikan apa yang terjadi di depannya.
"Sebaiknya kita pergi saja kakak. Tidak ada gunanya kita berhadapan dengannya sekarang." Cakrawala terlihat sangat.
"Tunggu!." Gandara Fusena mencoba menghentikan keduanya agar tidak pergi dari sana.
"Kau memang memiliki ilmu kanuragan yang sangat berbahaya gandara fusena. Tapi untuk saat ini kita tidak bisa bertarung." Cakrawala dapat mengenali orang itu?.
Deg!.
"Bagaimana mungkin anak muda itu mengetahui aku?." Dalam hati Gandara Fusena tentu saja sangat terkejut dengan itu.
"Suatu saat nanti aku akan datang kepadamu untuk balas dendam atas apa yang telah kau lakukan di masa lalu. Jadi untuk sekarang, aku akan mengasah kemampuanku lebih tinggi lagi agar aku dapat mengalahkanmu." Setelah berkata seperti itu ia pergi menjauh dengan melompat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sedangkan Khusna hanya mengikuti Cakrawala dengan penuh tanda tanya.
"Jadi dia adalah gandara fusena?. Musuh berat yang pernah melawan ayah?. Tapi kenapa adi cakra tidak langsung saja berhadapan dengannya?." Setidaknya itulah yang ia pikirkan saat itu.
"Siapa anak muda itu?. Kenapa dia menggunakan topeng penutup hawa Sukma?." Dalam hatinya sungguh sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Bukankah topeng penutup hawa Sukma adalah topeng untuk menyembunyikan identitas seseorang?." Dalam hatinya masih bertanya-tanya dengan fungsi topeng penutup hawa Sukma yang digunakan oleh anak muda itu. "Jika dia memang berkata seperti itu. Apakah benar suatu saat nanti aku akan bertemu dengan dia lagi?." Ia masih ingat dengan apa yang telah dikatakan oleh anak muda itu. "Jika dia memang berkata seperti itu?. Lalu apa yang harus aku lakukan?. Dia mengatakan jika dia ingin balas dendam kepadaku?. Dendam yang seperti apa yang dia miliki kepadaku?. Rasanya ada yang aneh pada anak muda itu." Gandara Fusena sama sekali tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi?. Bagaimana lanjutan kisah itu?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...