BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 30


__ADS_3

...***...


Di sebuah tempat.


Cakrawala dan Kusna berhenti setelah mereka berada di tempat yang aman.


"Adi cakra." Kusna menyentuh pundak adiknya. "Tadi kau mengatakan jika lelaki itu adalah gandara fusena?. Kenapa kita tidak bertarung dengannya saat itu juga?." Kusna merasa heran dengan apa yang telah dilakukan oleh adiknya.


"Apakah kakang tidak pernah mendengar jurus petir pencabut sukma?. Apakah selama kakang mengembara kakang tidak pernah mendengarkan jurus itu?." Cakrawala malah balik bertanya.


Kusna tempat berpikir sejenak, ia sedang mengingat apa yang telah dikatakan oleh adiknya itu. "Aku memang pernah mendengar kabar jurus terlarang itu. Bahkan aku berniat untuk mempelajari jurus itu. Tapi sayangnya aku sama sekali tidak mengetahui siapa pemilik jurus itu. Jadi aku urungkan niatku untuk mempelajari jurus itu." Setidaknya itulah yang ia ingat ketika mengembara.


"Jika kakang telah mengetahui bagaimana jurus itu, seharusnya kakang tidak menggunakan kekuatan kakang untuk bertarung dengannya saat itu." Cakrawala mencoba untuk mengingat apa yang telah dikatakan oleh ayahnya. "Sebab paman taraka juga pernah mengatakan kepadaku jika jurus mematikan itulah yang hampir saja membunuh mereka." Ia ingat dengan ucapan paman Taraka. "Karena mereka masih memiliki tenaga dalam yang cukup untuk menyelamatkan diri dari jurus itu, maka tubuh mereka mengalami kecacatan yang seperti itu. Apalagi dia menggunakan pedang yang sangat ganas untuk memperkuat ajian petir pencabut sukma itu." Cakrawala sedikit menjelaskan apa yang ia ingat.


"Memangnya seganas itu jurus itu?." Kusna masih penasaran dengan apa yang dijelaskan oleh adiknya.


"Jurus itu mengandung hawa petir yang sangat ganas. Ditambah lagi pedang yang sangat berbahaya yang dia miliki." Jawabnya sambil mengingat bagaimana bentuk lekukan pedang yang ada di dalam tubuh Gandara Fusena. "Aku tidak menduga akan melihat seseorang yang memiliki pedang yang sangat sakti mandraguna seperti itu di dalam tubuh seseorang." Cakrawala bahkan merinding melihat apa yang ada di dalam tubuh Gandara Fusena. "Aku tidak menduga sama sekali jika musuh yang dihadapi oleh ayah dan paman memiliki jurus pedang yang sangat berbahaya." Ia tatap langit malam yang hanya diterangi rembulan. "Kita harus memperdalam ilmu kanuragan yang kita miliki. Terutama tenaga dalam yang kita miliki harus setara dengan yang ia miliki saat ini. Dia itu bukan pendekar sembarangan, dia memiliki mata batin yang dapat juga mencuri jurus lawan kakang." Cakrawala memberikan peringatan.


Deg!.

__ADS_1


"Apa?. Dia juga dapat mencuri jurus lawan seperti yang kau lakukan?." Kusna sangat terkejut.


"Ya. Dia dapat mencuri jurus lawan, bahkan dalam sekali lihat dia bisa memainkan jurus apapun itu. Karena itulah kakang harus berhati-hati jika bertemu kembali dengannya nanti." Cakrawala sama sekali tidak menduga, jika ada orang yang memiliki mata yang sama dengannya.


"Kalau begitu keputusan yang tepat kita menghindarinya saat ini. Aku juga akan mengalirkan tenaga dalamku pada topeng ini." Kusna sedikit merinding. "Aku rasa itulah alasan kenapa ayah dan paman membuatkan topeng hitam penutup hawa sukma padamu. Supaya gandara fusena tidak dapat meniru jurus yang kau miliki adi." Kini ia mengerti tujuan Hadi Gama.


"Ya. Setelah bertemu dengannya aku mengerti kakang. Aku rasa itulah yang dikhawatirkan oleh ayah. Ayah sangat takut, jika gandara fusena akan meniru jurusan aku pelajari selama ini." Setidaknya itulah yang ia pikirkan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan setelah ini?." Kusna kembali bertanya.


"Untuk sementara waktu kita cari pendekar lain saja. Balas dendam pendekar hitam masih akan berlanjut walaupun kita tidak bisa mengalahkan gandara fusena untuk saat ini." Jawabnya.


Setelah itu mereka pergi dari sana, tentu saja mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari target selanjutnya. Balas dendam pendekar hitam masih berlanjut, seperti yang telah dikatakan oleh Cakrawala. Walaupun mereka belum bisa mengalahkan Gandara Fusena?. Balas denda pendekar hitam akan tetap berlanjut. Hingga pada akhirnya mereka akan bertemu dengan Gandara Fusena yang mungkin adalah musuh terakhir mereka. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...


Gandara Fusena kembali ke penginapan. Suasana hatinya saat itu masih bergemuruh dengan anehnya. Ia masih memikirkan apa yang telah dikatakan oleh anak muda bertopeng hitam itu.


"Meskipun mata itu hanya terlihat sekilas saja. Tapi entah kenapa aku merasakan sorot mata itu sama seperti milik dinda besari candramaya." Dalam hatinya masih mengingat bagaimana tatapan mata anak muda itu kepadanya. "Suasana hatinya yang tiba-tiba saja berubah, gaya bicaranya yang seperti itu?. Seakan-akan Dia mengingatkan aku bagaimana dinda besari candramaya yang masih belum bisa mengendalikan dirinya." Entah mengapa anak muda bertopeng hitam itu malah mengingatkan perangai istrinya di masa lalu. Perangai istrinya yang sangat ganas di masa lalu, hampir sama persis dengan apa yang dilakukan oleh anak muda bertoping hitam itu.

__ADS_1


Kembali ke masa lalu.


Saat itu Adipati Gandara Fusena baru saja berkunjung ke sebuah kadipaten yang cukup makmur. Ia baru saja sampai di sebuah tempat yang hampir memasuki kadipaten itu. Akan tetapi pada saat itu ia melihat sebuah kerumunan yang tidak biasa. Karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi di kerumunan itu?. Ia mencoba untuk bertanya kepada beberapa orang di sana.


"Maaf kisanak?. Sebenarnya apa yang terjadi di depan?." Pertanyaan itulah yang ia lontarkan. Karena kerumunan itu sangat padat sehingga ia tidak bisa maju ke depan?.


"Katanya ini adalah arena pertandingan antara pendekar jahat yang ingin menguasai desa ini tuan." Jawab lelaki muda itu.


"Pertandingan antara pendekar jahat yang ingin menguasai desa ini?." Adipati Gandara Fusena malah mengulang kalimat itu.


"Apakah tuan adalah seorang pengembara?." Ia memperhatikan bagaimana penampilan Adipati Gandara Fusena yang terlihat sangat sederhana sekali.


"Ya. Saya hanyalah seorang pengembara." Jawabnya dengan senyuman yang ramah.


"Oh?. Pantas saja tuan tidak mengetahui apa yang telah terjadi." Setelah berkata seperti itu iya kembali memperhatikan bagaimana di depannya. Sedangkan Adipati Gandara Fusena sangat penasaran dengan apa yang terjadi di depan, sehingga ia menggunakan jurus ilmu meringankan tubuh untuk melompat ke atas pohon yang tinggi. Pohon yang tak jauh dari arena pertarungan itu?. Sehingga ia dapat melihat apa yang terjadi dari puluhan kerumunan lingkaran itu.


"Ho?. Jadi seperti itu?. Sepertinya ini tontonan yang sangat menarik." Dalam hatinya sama sekali tidak menduga itu, ketika matanya menangkap dua orang pendekar wanita yang sedang saling baku hantam. Kedua pendekar wanita yang saling menyerang satu sama lain.


Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2