
...**...
Cakrawala dan Kusna kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun saat itu mereka tidak sengaja melihat ada beberapa orang yang sedang melakukan pertarungan.
"Apa yang sudah mereka lakukan?. Apakah kau bisa melihatnya adi?."
"Sepertinya mereka sedang memperebutkan sesuatu kakang." Cakrawala dapat melihat bagaimana mereka yang sedang bertarung mati-matian saat itu. "Mereka sedang memperebutkan wanita itu kakang."
"Memperebutkan seorang wanita?."
"Jika dilihat dari penampilannya dia bukanlah seorang wanita biasa. Sepertinya dia adalah seorang putri bangsawan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?. Apakah kita akan membantunya?."
Saat itu mereka sedikit ragu, karena mereka adalah pendekar golongan hitam. Bukan pendekar golongan putih yang akan membantu siapa saja yang dalam kesulitan.
"Bagaimana kalau kita menguji ilmu kanuragan yang kita pelajari kakang?."
"Aku setuju dengan pendapatmu. Rasanya aku ingin menguji bagaimana kesaktiannya aku miliki saat, setelah aku bertemu dengan gandara fusena."
"Baiklah kalau begitu."
Setelah itu mereka melompat dan berdiri di antara pertarungan itu?. Mereka yang saat itu sedang bertarung tentunya sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat?. Bagaimana mungkin ada dua orang pendekar yang menggunakan topeng?. Tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka begitu saja tanpa diundang?.
"Bajing busuk!. Berani sekali kalian ikut campur!."
"Aku hanya penasaran saja. Bagaimana mungkin orang tua rentan seperti kalian masih saja rebutan wanita muda itu?."
"Kurang ajar!. Bagaimana mungkin kau mengetahui jika kami sedang berebut wanita muda itu?."
"Kurang ajar!. Ternyata kalian mengetahui jika kami sedang memperebutkan seorang wanita?."
Kedua pendekar itu tentunya sama sekali tidak menduga jika ada orang luar yang mengetahui apa yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
"Sungguh sangat memalukan sekali. Kalian tidak akan bisa melakukan tumbal kepadanya!."
Deg!.
Keduanya semakin terkejut ketika mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Cakrawala.
"Sepertinya aku akan membunuhmu anak muda. Karena kau telah mengetahui apa yang akan kami lakukan."
"Sepertinya urusan ini kita tunda untuk sementara waktu." Sepertinya ia sedang bersiap untuk menyerang Cakrawala. "Kita bunuh saja dia dulu sebelum kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan."
Setelah berkata seperti itu ia langsung menyerang Cakrawala, sedangkan Kusna tentu saja tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia langsung menghadang pendekar satunya lagi agar tidak mengeroyok adiknya itu. Hingga saat itu terjadinya pertarungan antara mereka. Dengan ilmu kanuragan yang mereka miliki tentu saja mereka dengan sangat percaya diri memainkan jurus-jurus yang telah mereka miliki.
Cakrawala pada saat itu berhadapan dengan seorang pendekar yang memiliki kemampuan dapat mengubah dirinya menjadi sebuah senjata yang sangat tajam. Akan tetapi Cakrawala pada saat itu tidak menyerah begitu saja hanya karena orang itu memiliki kemampuan yang sangat unik. Pada saat itu ia mengeluarkan sebuah senjata yang berupa panah di dalam tubuhnya. Bagaimana mungkin ia memiliki senjata seperti itu padahal sebelum-sebelumnya ia sama sekali tidak menggunakan senjata apapun dalam bertarung?. Ya, kali ini kondisinya sedikit berbeda. Senjata panah yang ada di dalam tubuhnya itu sudah lama ia simpan, senjata panah itu tercipta dari sebuah jurus yang bernama panah raga rasa. Jurus yang ia pelajari dengan kekuatannya sendiri, jurus yang memang murni entah dari panggilan jiwanya atau apa itu namanya.
"Gak boleh saja memiliki kekuatan untuk mengubah tubuhmu menjadi senjata yang kau inginkan." Cakrawala saat itu sedang membidik arah musuhnya. "Tapi apakah kau bisa menahan panah ini?." Setelah berkata seperti itu ia tembakan panah itu ke arah musuhnya.
"Kau tidak usah jumawa dulu. Aku sangat benci dengan orang yang sangat sombong seperti kau." Dengan penuh percaya diri ia hadang panah yang dilepaskan oleh Cakrawala tadi.
Deg!.
"Heh!. Kau pikir aku ini anak kemarin sore?. Maaf saja pendekar tua. Aku telah memiliki pengalaman bertarung yang lebih tinggi dari apa yang kau duga." Cakrawala merasa puas dengan apa yang telah ia lakukan saat itu.
...***...
Gandara Fusena terpaksa melarikan diri dari orang yang memaksanya untuk menjadi muridnya. Ia memang sedang tidak bisa diganggu sama sekali, ia memang ingin fokus melakukannya. Saat itu ia sedang beristirahat di sebuah tempat yang cukup aman. Walaupun berada di hutan?. Rasanya tempat itu masih aman, sehingga dengan perasaan yang sangat tenang ia mulai melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang muslim.
Setelah melaksanakan salat, tak lupa ia berdoa kepada yang maha memiliki alam semesta beserta isinya.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan. Jauhkanlah kami dari orang-orang yang berniat jahat kepada kami. Lindungilah hamba selama di perjalanan ini. Hamba hanya memohon kepada-mu ya Allah, berikanlah keselamatan kepada kami."
Akan tetapi pada saat itu pikiran yang tertuju pada apa yang telah terjadi pada dirinya beberapa hari yang lalu?.
Kembali ke masa itu.
__ADS_1
"Bangsat!. Kau jangan mengarang cerita anak muda!." Pendekar cambuk setan sepertinya sangat marah dan emosi.
"Jika kau memiliki nyali yang cukup besar untuk mengarang cerita?. Kenapa kau tidak maju saja?." Begitu pula jangan pendekar pukulan penghancur karang.
"Tapi apa yang dikatakan oleh anak muda itu benar." Akan tetapi ada seorang pendekar yang baru saja bergabung dengan mereka. "Apa yang dikatakan anak muda itu benar. Orang tua itu telah lama mati!. Dan dia sekarang hanyalah sukma saja."
"Bajing busuk!. Setan alas mana lagi yang ikut campur dalam urusan kami?." Pendekar pedang pelebur maya tampak tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh pendekar asing itu.
"Sebaiknya kau menjauh dari sini jika rasanya tidak ingin membantu kami untuk membinasakan setan busuk itu!." Pendekar pukulan penghancur karang sangat kesal, tentunya ia sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan kedua orang pendekar asing itu.
"Kalau kalian ingin bergabung?. Kami sama sekali tidak keberatan. Tapi kalian jangan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang orang tua itu."
"Tapi apa yang kami katakan itu benar. Apakah kalian tidak dengar apa yang telah dikatakan anak muda itu?. Bahwa orang itu telah lama tewas." Cakrawala masih mengatakan hal yang sama. "Harusnya kalian mengetahui, jika orang itu sama sekali tidak kelelahan sama sekali ketika berhadapan dengan kalian. Apakah kalian tidak menyadari itu dengan pengamatan kalian?." Harus dengan cara apa lagi ia mengatakan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan adalah suatu kebenaran.
"Orang tua itu memang telah tewas, dan seharusnya kalian tidak bertarung dengan orang yang telah mati. Tentu saja kalian yang akan mengalami kerugian."
"Diam kau!."
"Kau dan anak muda itu sepertinya sedang bersekongkol ingin menikmati kematian orang tua busuk itu."
"Jika kau memiliki kemampuan yang lebih?. Kenapa kau tidak maju saja untuk mengalahkannya. Jangan banyak bicara dari kejauhan."
"Ya, jangan asal bicara saja jika kau sama sekali tidak mengetahui bagaimana orang dewasa membunuh anak kecil."
Tampaknya mereka sama sekali tidak senang dengan apa yang telah dikatakan oleh Cakrawala dan pendekar asing itu. Pendekar yang menggunakan topi seorang petani atau topi caping. Sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali, itulah yang menyebabkan mereka sangat benci dengan itu.
"Kalau begitu akan aku tunjukkan kepada kalian semua, bahwa orang yang kalian lawan sebenarnya sudah sangat lama meninggal dunia." Pendekar asing sama sekali tidak diketahui identitasnya itu, mencoba membuktikan kepada mereka bahwa orang tua itu telah lama tewas?.
Kembali ke masa ini.
"Bagaimana mungkin dia mengetahui jika orang tua itu telah tawas?." Dalam hatinya masih menjadi tanda tanya yang sangat besar hatinya yang saat itu masih dipenuhi pernyataan misterius.
...***...
__ADS_1