BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 26


__ADS_3

...***...


Pada saat itu Hadi Gama sedang bersama adik seperguruannya. Mereka sedang mengenang apa yang telah terjadi pada mereka sebelumnya. Mereka yang saat itu masih ingat dengan pertarungan mereka pada saat itu.


"Andai saja Adipati kurang ajar itu tidak ikut campur. Aku yakin kita tidak akan bernasib seperti ini."


"Ya. Kakang benar. Bahkan birawa sampai trauma berat setelah pertarungan itu."


"Tapi pertemuan pertama kita, dia telah menunjukkan kemampuannya dalam meniru ilmu kanuragan yang kita miliki kakang."


"Ya. Aku masih dendam masalah itu."


Kembali pada hari di mana pertemuan mereka ketika berhadapan dengan Adipati Gandara Fusena.


Pada saat itu mereka merasakan ada orang yang mendekati tempat itu. Sebagai pendekar yang dapat merasakan ilmu kanuragan seseorang, tentu saja mereka dapat merasakan itu dengan sangat baik.


"Sepertinya kita kedatangan tamu."


"Benarkah itu kakang?. Tamu seperti apa yang akan kita hadapi?."


"Kita lihat saja. Tidak usah banyak bertanya tohpati. Langsung saja lihat!."


"Kau ini sangat tidak sabaran sekali tadakara."


Setelah itu mereka semua keluar dari goa itu hanya untuk memastikan siapa yang telah datang?.


"Ternyata kau?. Adipati keok."


"Aku kira siapa?. Ternyata adipati yang sok berani yang menghadapi kita semalam kakang."


"Kalau gitu kita hajar saja dia."


"Tapi dia bawa teman kali ini."


Ucapan Taraka membuat mereka tertawa, kecuali Hadi Gama yang memang selalu menatap tajam ke musuhnya.


"Astagfirullah hal'azim ya Allah. Apakah mereka yang telah berbuat kerusuhan di desa ini kakang?."


"Benar adi. Memang mereka." Ia memang mengakui itu. "Kau harus berhati-hati adi, karena mereka memiliki tenaga dalam yang sangat merusak. Jika kau tidak berhati-hati kau akan celaka adi."


"Baiklah kakang. Saya akan berhati-hati lagi."


"Sebaiknya kalian jangan saling adu nasib di sini. Jika kalian memang ingin menangkap kami?. Maka lakukanlah dengan cepat, karena kami tidak ingin bermain-main dengan bocah seperti kalian." Tadakara memang suka memancing amarah musuhnya.


Saat itu Tadakara, Taraka, Gala, dan Tohpati langsung melompat menyerang. Tadakara dan Taraka menyerang Adipati Gandara Fusena, sedangkan Gala dan Tohpati menyerang Adipati Sanda Drajat. Lalu bagaimana dengan Hadi Gama?. Ia hanya memperhatikan apa pertarungan itu. Ia sedang malas untuk bergerak, sehingga ia membiarkan mereka yang bergerak.


Tadakara menggunakan pukulan hawa kegelapan untuk mengalahkan Adipati Gandara Fusena, sehingga saat itu ia terpaksa mundur untuk menghindarinya. Sedangkan Tadakara tertawa puas melihat musuhnya yang melemah?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Adipati Gandara Fusena dapat merasakan betapa bahayanya jurus itu.


"Heh!. Ternyata kau tidak ada apa-apanya. Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum kau menjadi mayat!. Ahaha!."


Tadakara dan Taraka tertawa puas, mereka merasa di atas angin. Bagi mereka Adipati Gandara Fusena bukanlah lawan yang patut mereka perhitungkan?. Namun Adipati Gandara Fusena hanya tersenyum kecil saja.

__ADS_1


"Tuan pendekar memang hebat. Tapi asalkan tuan pendekar ketahui, ada sebuah ujar-ujar lama yang mengatakan." Ucapnya sambil memainkan sebuah jurus yang sangat aneh. "Di atas langit, masih ada langit yang tak bisa kita ukur."


"Jurus apa itu?." Tadakara dan Taraka sangat heran melihat itu.


"Bukankah itu jurus kibasan sayap garuda kematian?." Dalam hati Hadi Gama sedikit mengenali jurus itu.


"Apakah golongan putih bisa mempelajari jurus itu?."


"Bukankah jurus yang kau mainkan itu adalah jurus kibasan sayap garuda kematian?!. Bagaimana mungkin kau memiliki jurus berbahaya itu?."


"Jurus ini aku dapatkan dari istriku yang dulunya adalah seorang pendekar kegelapan. Aku adalah orang yang yang sangat mudah meniru jurus orang lain. Bahkan mencuri jurus bayangan api kegelapan yang kau miliki."


"Bedebah!. Jangan sombong dulu kau!." Taraka sangat tidak terima ketika ada orang mengetahui jurusnya itu.


"Ternyata dia memiliki mata yang sangat hebat, sehingga ia dapat melihat sampai ke alam sukma. Kita harus berhati-hati."


"Kalau begitu kita hadapi saja langsung dia."


Tadakara dan Taraka sedang memikirkan jurus yang tepat untuk menghadapi Adipati Gandara Fusena.


Sepertinya kedua orang agung itu sedang memikirkan cara licik untuk membunuh Adipati Gandara Fusena yang sedang bertarung. Karena saat itu ia sedang fokus berhadapan dengan Tadakara dan Taraka yang sangat gencar ingin menjatuhkan Adipati Gandara Fusena.


"Baiklah kakang. Kita lakukan sekarang."


"Mari adi."


Setelah itu keduanya memainkan jurus andalan mereka saat itu. Mereka alirkan tenaga dalam mereka ke arah Adipati Gandara Fusena. Akan tetapi pada saat itu Allah SWT masih bersama sang adipati, sehingga ia selamat dari serangan itu.


Sayangnya serangan itu mengenai Tadakara dan Taraka yang hendak menyerang Adipati Gandara Fusena. Tubuh mereka terlempar jauh setelah menerima serangan itu.


"Ekgakh!"


Tubuh mereka terguling ke tanah, luka yang mereka terima cukup dalam, karena serangan itu sangat kuat.


"Kunyuk busuk!." Hadi Gama saat itu langsung bereaksi ketika melihat siapa yang telah menyerang itu secara diam-diam. Ia melompat mendekati dua orang yang telah menyerang kedua adik seperguruannya itu.


"Kurang ajar. Berani sekali kalian ikut campur dalam pertarungan kami."


Hadi Gama terlihat sangat marah pada kedua orang agung itu.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Bukankah itu Senopati sagala kasih?. Juga Dharmapati ayutra ganda?." Adipati Gandara Fusena sangat heran melihat itu. "Bagaimana mungkin mereka bisa masuk desa ini?."


Namun pandangannya teralihkan ketika ia mendengarkan suara teriakan keras dari Adipati Sanda Drajat yang terkena serangan dari Gala dan Tohpati.


"Kakang!." Adipati Gandara Fusena sangat terkejut melihat itu. Ia menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menangkap tubuh Adipati Sanda Drajat agar tidak membentur pohon yang telah siap di belakangnya.


"Kakang!. Bertahan lah kakang."


"Uhuk!."


Adipati Sanda Drajat terbatuk, memuntahkan darah, karena tubuhnya menerima serangan gaib yang sangat dahsyat.


"Tenanglah kakang,, aku akan menyalurkan tenaga dalamku padamu."

__ADS_1


"Tidak usah adi. Sebaiknya kau gunakan tenaga dalammu untuk mengalahkan mereka."


"Tapi kakang."


"Dengarkan aku adi."


Rasanya tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk bergerak, karena serangan gaib itu seakan-akan menggerogoti tubuhnya dari dalam.


Sementara itu kedua orang agung itu sedang berhadapan dengan Hadi Gama yang sedang dikuasai oleh kemarahan yang sangat luar biasa. Senopati dan Dharmapati itu tidak sanggup menghadapi pukulan yang mereka terima saat itu.


"Uhuk!."


Keduanya sempat terbatuk setelah menerima pukulan itu.


"Kurang ajar. Ternyata dia sangat kuat sekali kakang."


"Tenanglah adi. Kita ajak dia negosiasi."


"Heh!. Kalian ternyata memiliki nyali kutu yang berani menyerang lawan dari belakang saja. Pengecut!."


"Apa yang harus kita lakukan kakang?. Sepertinya dia bukan lawan yang mudah."


"Kau tenang saja, aku telah memikirkannya."


"Apa yang kalian bisikkan?. Apakah kalian telah kehabisan akal untuk mengalahkan aku?."


"Tidak, bukan seperti itu tuan. Kami tadi sebenarnya hendak menyerang Adipati gandara fusena, tapi saya tidak menduga akan mengenai kedua teman tuan."


"Benar itu tuan, saya tidak berbohong. Musuh kami sebenarnya adalah adipati gandara fusena, karena dia telah mengambil wilayah kekuasaan kami tuan.."


"Aku tidak percaya." Bantahnya. "Jika aku lihat dari pakaian, kalian memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari orang itu. Tapi bagaimana mungkin kau mengatakan wilayah mu diambil oleh orang itu?." Tentu saja ia tidak percaya dengan itu.


Kembali ke masa ini.


"Bukankah pada saat itu ada dua orang pria agung yang ikut campur dalam pertarungan kita saat itu kakang?."


"Ya. Dua orang pria agung kurang ajar itu rasanya ingin aku bunuh."


"Tapi bukankah dia telah dibunuh Adipati itu?."


"Bisa jadi seperti itu. Karena mereka musuh Adipati itu."


"Sudahlah. Yang pasti aku sangat yakin jika cakra saat ini sedang mengerjakan apa yang kita perintah kepadanya."


"Ya, semoga saja cakra benar-benar bisa membunuh Adipati busuk itu."


"Aku yakin cakra bisa membunuhnya."


Mereka semua berharap itu. Karena dendam masa lalu dengan Adipati Gandara Fusena rasanya tidak bisa mereka lupakan begitu saja. Mereka semua mengalami cacat akibat bertarung dengan Adipati Gandara Fusena.


Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2