
...**...
Karena hatinya yang masih gundah?. Gandara Fusena saat itu memutuskan untuk sholat tahajud, ia tidak bisa diam memikirkan mimpi yang ia lihat tadi?. Dalam sholatnya ia hanya bisa berharap dan berharap.
"Ya Allah, wajah itu rasanya sangat tidak asing bagi hamba. Apakah anak muda yang hamba lihat itu adalah putra hamba?. Apakah dia adalah putra hamba?. Hamba mohon pertemukan kami ya Allah." Kembali air matanya mengalir begitu saja sambil membayangkan wajah anaknya, mungkin?. "Semoga saja dia memang anak yang harus hamba temui. Dia adalah putraku yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT agar aku dapat menemukan keberadaannya. Aamiin ya Allah."
Namun saat itu ia mendengar ada suara ketukan dari arah jendela?. Gandara Fusena mulai waspada terhadap hal yang aneh?. Saat itu ia langsung merapat ke dinding ketika ia melihat ada celurik tipis yang seakan-akan hendak menjebol jendela kamar itu.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Siapa yang malam-malam seperti ini berani masuk ke kamar ini ya Allah?." Gandara Fusena sangat waspada, dan saat itu ia melihat bahwa jendela itu berhasil dijebol oleh orang asing.
Duakh!.
Gandara Fusena memberikan sebuah sepakan yang sangat keras pada orang yang telah berani masuk ke kamar yang ia sewa dengan sangat kurang ajar.
"Egakh!."
Salah satu dari kedua orang yang mencoba masuk itu terlempar agak jauh sambil berteriak keras.
"Kurang ajar!. Ternyata kau masih terjaga!." Dengku sangat terkejut ketika temannya itu terlempar?.
"Kalian lah yang kurang ajar!. Kalian lah yang kurang ajar telah mengganggu istirahat aku!."
Dengku langsung melompat ke dalam kamar itu, dan ia langsung menyerang Gandara Fusena dengan menggunakan senjata yang ia gunakan saat itu. Sehingga saat itu terjadi pertarungan antara Gandara Fusena dengan Dengku. Namun tak berselang lama, Tangku datang untuk membantu temannya. Sangat disayangkan sekali karena ilmu kanuragan yang dimiliki oleh keduanya belum bisa membuat Gandara Fusena menyerah begitu saja. Keduanya mendapatkan beberapa kali pukulan dan tendangan yang membuat keduanya terlempar dari kamar itu melalui jendela tempat mereka masuk tadi.
"Egakh!."
Tangku dan Dengku merintih kesakitan ketika tubuh mereka menyentuh tanah, rasanya keduanya tidak sanggup lagi untuk menghadapi Gandara Fusena.
"Kita pergi dari sini dari sini."
"Ya, kita laporkan pada kakang dursa."
Setelah itu mereka malah meninggalkan tempat itu, sedangkan Gandara Fusena memperhatikan mereka dari jendela dengan sangat geram. "Bagaimana mungkin ada maling?." Ia sangat heran dengan itu.
Namun saat itu ada ketukan pintu kamar itu dengan sangat kuat, tentunya ia segera membuka pintu itu dengan cepat. Ternyata yang menggedor pintu kamar itu adalah pemilik dari rumah sewa penginapan.
__ADS_1
"Maaf tuan. Tadi kami mendengarkan ada keributan yang berasal dari kamar tuan, apakah ada terjadi sesuatu pada tuan?."
"Tadi ada dua orang yang memaksa masuk ke kamar saya. Mereka masuk lewat jendela itu."
"Ya Allah."
Pasangan suami istri pemilik penginapan sangat terkejut melihat keadaan jendela kamar itu jebol, mereka sangat tidak menduganya.
"Apakah rumah ini ada malingnya nyi?."
"Tidak seperti itu tuan, biasanya tempat ini sangat aman."
"Maaf, jika situasi ini membuat tuan tidak nyaman."
"Tidak apa-apa, saya hanya memakluminya saja."
Ya, malam itu Gandara Fusena hanya pasrah saja dengan kondisi itu.
...***...
"Kenapa ibu terlihat bingung seperti itu?."
"Oh?. Cakra?. Apa yang sedang kau lakukan?." Nini Asmara Tanjung langsung mendekati anaknya yang sedang terlihat membawa beberapa kendi yang berisi air?. "Kondisi tubuhmu masih belum kuat untuk melakukan pekerjaan yang berat."
"Tidak apa-apa ibu, saya sudah baikan."
"Kalau begitu duduk lah. Lihat?. Keringatmu banyak sekali."
"Sungguh, aku baik-baik saja ibu."
"Baiklah, kalau begitu duduk saja dulu." Nini Asmara Tanjung menarik tangan anaknya agar duduk di sampingnya. "Apakah kau yang telah memindahkan aku cakra?."
"Maaf ibu, jika saya lancang. Hanya saja saya tidak tega melihat ibu tidur di tempat yang hanya beralasan tikar saja." Cakra terlihat malu-malu. Sedangkan Nini Asmara Tanjung hanya tertawa kecil melihat sikap malu-malu anaknya itu.
"Kau sungguh anak yang sangat baik sekali cakra." Hatinya sangat tersentuh dengan apa yang telah dilakukan anak angkatnya itu. "Jika saja kau adalah anak kandungku?. Aku akan semakin bahagia memiliki anak seperti kau cakra. Tapi sayangnya aku tidak bisa memiliki anak, namun aku sangat ragu jika melihat perangai bapaknya seperti kakang hadi gama. Anakku akan seperti kau atau tidak." Dalam hatinya malah cemas akan hal itu.
__ADS_1
"Tadi kakang kusna keluar pagi-pagi sekali, ketika saya bertanya mau ke mana?. Katanya mau jalan-jalan sebentar."
"Biarkan saja dia jalan-jalan." Balas Nini Asmara Tanjung dengan sangat cueknya. "Aku yakin dia ingin menemui kakang hadi gama." Dalam hatinya sangat mengetahui alasan kenapa Kusna mengatakan jalan-jalan pada Cakrawala.
"Tapi kapan kakang kusna sampai di sini, ibu?."
"Saat kau sedang tertidur, dan ia ingin membawamu pada mereka. Aku larang dia membawamu."
"Ahaha. Ibu ini galak sekali pada kakang kusna."
"Itu karena dia mau membawamu, jadi aku juga harus galak padanya."
Cakrawala hanya bisa tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan ibunya.
...***...
Gandara Fusena telah meninggalkan tempat penginapan itu setelah ia sarapan pagi di sana. Ia hendak melanjutkan perjalanannya untuk menemukan keberadaan anaknya yang mungkin saja masih hidup?. Pikirannya tidak lepas dari wajah seorang anak muda yang ada di dalam mimpinya.
"Apakah kau adalah anakku?. Darya fusena." Dalam hatinya masih ingat dengan nama anak yang sempat ia besarkan beberapa bulan?. Akan tetapi ada saat itu malah diculik oleh orang-orang yang memiliki dendam ayng sangat luar biasa padanya.
"Hei!. Mau ke mana kau!."
"Assalamu'alaikum."
Namun tidak ada jawaban dari mereka yang sedang dikuasai oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
"Tuan-tuan memiliki masalah apa dengan saya?. Sehingga tuan-tuan masuk ke dalam penginapan saya?."
"Itu bukan urusanmu. Karena kau adalah pendatang. Kau datang tidak meminta izin pada kami."
"Desa ini adalah wilayah kekuasaan kami!. Jadi kau harus melapor pada kami sebelum kau memasuki wilayah ini!."
"Oh?. Jadi seperti itu?." Dalam hati Gandara Fusena mulai mengerti di mana letak kesalahan, alasan kenapa mereka menyerang dirinya?. "Saya rasa ada ki Demang, atau lurah yang berkuasa di sini. Kenapa harus kalian yang dengan sikap kasar berkata pada seorang pengembara?."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...*** ...