BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 19


__ADS_3

Selama dua hari ini Gandara Fusena masih melangkahkan kakinya, walaupun kadang ia berhenti di tempat penginapan penduduk?. Rasanya ia telah sangat lama berjalan, namun ia belum juga menemukan keberadaan anaknya. Saat itu pikirannya kembali berkecamuk mengenai anak muda yang ada di dalam mimpinya itu?. Namun saat itu ia dikejutkan oleh suara seseorang yang meminta tolong.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ia segera mencari asal sumber suara, dan saat itu ia melihat ada seorang wanita yang menggunakan kerudung dikejar oleh dua orang laki-laki. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


Setelah itu ia melompat tepat dihadapan kedua orang laki-laki itu, supaya mereka tidak lagi mengejar wanita itu?.


"Hei!. Apa yang sedang kau lakukan?. Kenapa kau menghalangi kami?."


Namun tidak ada jawaban dari Gandara Fusena, karena saat itu ia sedang melihat ke arah seorang wanita yang terjerembab di tanah?. Dalam keadaan ketakutan yang sangat luar biasa?. Nafasnya ngos-ngosan, dan ia menangis karena dikejar oleh dua orang pemuda kurang ajar?.


"Hei!. Apakah kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan padamu, hah?."


"Apakah tuan-tuan berdua tuli?. Dan tidak bisa melihat?. Bahwa wanita itu terlihat sangat ketakutan atas apa yang telah kalian lakukan padanya?. Kesalahan apa yang telah ia lakukan pada kalian?. Sehingga kalian mengejarnya?."


"Bedebah!. Berani sekali kau ikut campur dengan urusan kami?. Apakah kau ingin mati?."


"Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Atau kau merasa tertarik ingin bergabung dengan kami untuk memetik madu darinya?. Ahaha!."


Kedua pemuda itu malah tertawa puas dengan apa yang akan mereka lakukan pada wanita itu?. Tanpa banyak penjelasan yang lebih banyak lagi, sepertinya Gandara Fusena telah memahami pa yang akan dilakukan oleh kedua pemuda itu.


Duakh!. Duakh!.


Tendangan yang sangat bertenaga telah mendarat di dada kedua pemuda itu, sehingga keduanya terjungkal. Tentu saja membuat keduanya sangat terkejut, dan mereka segera bangkit.


"Kurang ajar!. Berani sekali kau menyerang kami!."


"Kita habisi saja dia."


"Maju saja jika kalian berani."


"Bedebah!."


Kedua pemuda itu langsung menyerang Gandara Fusena, karena tidak terima dengan perlakuan kasar itu. Pertarungan antar  antara Gandara Fusena dengan kedua pemuda itu terjadi begitu saja. Mereka melampiaskan rasa tidak suka yang membuncah di dalam dada masing-masing. Sedangkan wanita itu mencoba mencari tempat yang paling aman, ia tidak mau menjadi korban dari mereka. Gandara Fusena saat itu hanya menggunakan jurus-jurus dasar saja untuk menghajar mereka, karena ilmu kanuragan yang dimiliki kedua pemuda itu tidak seberapa. Hingga akhirnya keduanya dapat dikalahkan dengan sangat mudah olehnya


"Awas saja kau!. Jika bertemu lagi?. Akan aku habisi kau!."


"Kau tunggu saja pembalasan dari kami!."


Keduanya tampak kesakitan, dan menyimpan dendam pada Gandara Fusena sebelum pergi dari tempat itu.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Masih saja berbuat yang tidak baik." Saat itu matanya mencoba mencari keberadaan wanita yang telah ia selamatkan tadi. Ia mendekati wanita itu dengan hati-hati, sebab wanita itu terlihat sangat takut.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaskumussalam."


"Tenanglah nini, saya bukanlah orang jahat."


Namun saat itu belum ada tanggapan sama sekali dari wanita itu, karena ia masih harus waspada?.


"Tapi dia telah mengucapkan salam padaku?." Dalam hatinya masih bimbang dengan keadaannya yang seperti itu.


...***...


Bukit Penopang Selatan.


Tempat itu adalah tempat lain dari Bukit Kegelapan yang selama ini menjadi tempat persembunyian para penjahat besar yang melarikan diri. Di sanalah mereka latihan kali ini?.


"Cakra, sebelum kau latihan jurus gagak pematik tali raga, kau gunakan dulu topeng ini."


"Topeng hitam penutup hawa sukma?."


Deg!.


Mereka semua sangat tidak menduga, jika Cakrawala dapat mengetahui topeng itu?.


"Jika kau telah mengetahui topeng ini, artinya tidak ada yang salah dengan fisikmu cakra."


"Tapi bagaimana mungkin adi cakra mengetahui dengan sangat mudah?. Adi cakra memang sanagt hebat." Dalam hati Kusna sangat terkesan.


"Kalau begitu kenakan topeng ini. Aku tidak mau ada yang mengenali wajahmu, ketika nanti kau berangkat membalaskan dendam kami."


"Baiklah ayah, akan saya pakai topeng ini."


Cakrawala mengambil topeng itu dari tangan Hadi Gama, dan ia kenakan topeng itu. Tidak ada yang berubah setelah ia kenakan topeng itu.


"Bagus. Kalau begitu langsung saja kita latihan, jangan sampai kita membuang waktu hanya untuk berbicara hal yang tidak berguna sama sekali."


"Baiklah ayah."


"Kusna. Kau yang melatih adikmu."


"Baik ayah."

__ADS_1


Kusna hanya menurut saja, ia juga ingin  mengetahui sehebat apa adiknya itu dalam meniru ilmu kanuragan seseorang.


"Ikuti apa yang aku lakukan adi."


"Ya."


Saat itu Kusna mulai melakukan gerakan jurus dari gagak pematik sukma. Jurus itu digunakan seseorang untuk membunuh musuh dalam jumlah yang sangat banyak. Tentunya melalui alam sukma alam gaib, ketika tubuh tidak lagi dapat digerakkan, namun dengan jurus itu?. Musuh yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat alam sukma tentunya akan mudah dapat dikalahkan.


"Lantas?. Apa yang akan kita lakukan kakang?."


"Lihat saja apa yang akan mereka lakukan. Aku ingin melihat, sejauh mana cakra mampu menguasai jurus itu."


"Ya, kakang benar. Aku ingin melihat sejauh mana anak itu berkembang setelah sembuh dari luka dalam yang ia terima dari mempelajari jurus yang kita ajarkan padanya."


Tentunya mereka sangat mengharapkan hasil yang sangat baik dari latihan yang telah dilakukan oleh Cakrawala kali ini. Apakah akan berhasil?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di sebuah pondok pesantren.


Mereka semua sedang menunggu kedatangan Endang Sari yang katanya dari desa terdekat untuk mengisi pengajian para wanita. Akan tetapi sampai sekarang masih belum kembali?.


"Pak kyai?. Apakah perlu saya susul?. Saya takut terjadi sesutau padanya."


"Benar itu pak kyai. Kami takut ada penjahat yang menghadangnya."


"Bersabarlah, semoga saja anakku endang sari segera kembali."


Namun saat itu orang yang sedang mereka tunggu datang bersama seorang laki-laki?. Tentu saja mereka sangat terkejut, dan segera menghadang laki-laki asing itu.


"Ayah!." Wanita muda itu langsung memeluk ayahnya dengan penuh ketakutan, ia menangis sedih.


"Hei!. Tuan!. Apa yang telah tuan lakukan padanya?!."


"Kenapa nini endang sari menangis?!."


"Katakan dengan jujur, apa yang telah tuan lakukan padanya?."


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Dengan senyuman ramah ia mengucapkan salam, tentunya mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar saat itu?. "Mungkin salam saya kurang jelas. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaskumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab mereka dengan perasaan yang sangat malu. Apalagi mereka telah berpikiran buruk pada orang yang baik?.

__ADS_1


...***...


__ADS_2