
...***...
Adipati Gandara Fusena saat ini telah sampai di rumahnya, dan tentunya kedatangannya disambut oleh anak dan istrinya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Besari Candramaya dan Halwa Candramaya mencium tangan Adipati Gandara Fusena. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah, duduk sambil menceritakan apa hasil dari istana?.
"Bagaimana kakang?. Apakah berhasil?."
"Alhamdulillah berhasil nini."
"Alhamdulillah kakang."
Mereka sangat bersyukur karena Prabu Adiwangsa Dirja setuju dengan apa yang mereka minta.
"Saat kakang pergi mengembara, nini tetaplah berada di rumah bersama putri kita. Jangan pergi ke mana-mana, tunggu kakang kembali."
"Baiklah kakang. Tapi kakang jangan lupa untuk menjaga kesehatan kakang."
Meskipun dengan sangat berat hati, Besari Candramaya merelakan kepergian suaminya untuk melakukan pengembaraan.
"Jadi ayah akan pergi meninggalkan ananda bersama ibu di sini?."
"Ayah pergi untuk mencari keberadaan kakangmu yang telah lama menghilang."
"Tapi apakah ayah akan lama pergi?. Bagaimana kalau ananda kangen sama ayah?."
"Sesekali ayah akan kembali. Do'a kan saja semoga ayah bisa menemukan keberadaan kakangmu, ya?."
"Um. Tentu saja ayah."
"Anak ayah memang sangat baik."
Gandara Fusena telah melepaskan jabatannya sebagai seorang Adipati demi mencari keberadaan anaknya yang telah diculik oleh pendekar golongan hitam yang pernah ia kalahkan di desa lembung ketika itu.
Kembali ke masa itu.
Pertarungan itu masih berlanjut, mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Namun yang cukup mengejutkan bagi mereka adalah Adipati Gandara Fusena menggunakan jurus golongan hitam?. Apa lagi angin sekitar mendadak menjadi tidak beraturan karena dampak dari jurus yang ia mainkan saat itu.
"Bukankah jurus yang kau mainkan itu adalah jurus kibasan sayap garuda kematian?!. Bagaimana mungkin kau memiliki jurus berbahaya itu?."
"Jurus ini aku dapatkan dari istriku yang dulunya adalah seorang pendekar kegelapan. Aku adalah orang yang yang sangat mudah meniru jurus orang lain. Bahkan mencuri jurus bayangan api kegelapan yang kau miliki."
__ADS_1
"Bedebah!. Jangan sombong dulu kau!." Taraka sangat tidak terima ketika ada orang mengetahui jurusnya itu.
"Ternyata dia memiliki mata yang sangat hebat, sehingga ia dapat melihat sampai ke alam sukma. Kita harus berhati-hati."
"Kalau begitu kita hadapi saja langsung dia."
Tadakara dan Taraka sedang memikirkan jurus yang tepat untuk menghadapi Adipati Gandara Fusena.
Sedangkan di lokasi yang sama, hanya beberapa meter saja jarak pemisah mereka?. Adipati Sanda Drajat saat itu sedikit kewalahan menghadapai Gala dan Tohpati yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat berbahaya, sebab keduanya menggunakan ilmu sihir?.
Dengan sekuat tenaga Adipati Sanda Drajat yang masih terluka akibat pertarungan sebelumnya harus waspada. Apa lagi pukulan fisik, tendangan, serta ilmu kanuragan yang mereka miliki mengarah ke dirinya.
Namun di sisi lain?. Tak jauh dari lokasi mereka bertarung?. Saat itu Senopati Sagala Kasih dan Dharmapati Ayutra Ganda sedang memperhatikan pertarungan itu dengan penuh kekaguman.
"Ilmu kanuragan yang mereka miliki sangat luar biasa sekali kakang. Aku baru melihat ilmu kanuragan yang seperti itu."
"Kau benar adi. Terlebih lagi mereka berasal dari pendekar golongan hitam."
"Lantas apa yang akan kita lakukan kakang?. Apakah kita hanya melihat saja?."
"Kita akan membela pendekar golongan hitam, kita bunuh gandara fusena. Setelah itu kita ambil alih kadipaten yang ia pimpin."
"Aku rasa itu adalah ide yang sangat hebat kakang."
Sepertinya kedua orang agung itu sedang memikirkan cara licik untuk membunuh Adipati Gandara Fusena yang sedang bertarung. Karena saat itu ia sedang fokus berhadapan dengan Tadakara dan Taraka yang sangat gencar ingin menjatuhkan Adipati Gandara Fusena.
"Mari adi."
Setelah itu keduanya memainkan jurus andalan mereka saat itu. Mereka alirkan tenaga dalam mereka ke arah Adipati Gandara Fusena. Akan tetapi pada saat itu Allah SWT masih bersama sang adipati, sehingga ia selamat dari serangan itu.
Duar!.
Sayangnya serangan itu mengenai Tadakara dan Taraka yang hendak menyerang Adipati Gandara Fusena. Tubuh mereka terlempar jauh setelah menerima serangan itu.
"Ekgakh!"
Tubuh mereka terguling ke tanah, luka yang mereka terima cukup dalam, karena serangan itu sangat kuat.
"Kunyuk busuk!." Hadi Gama saat itu langsung bereaksi ketika melihat siapa yang telah menyerang itu secara diam-diam. Ia melompat mendekati dua orang yang telah menyerang kedua adik seperguruannya itu.
"Kurang ajar. Berani sekali kalian ikut campur dalam pertarungan kami."
Hadi Gama terlihat sangat marah pada kedua orang agung itu.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Bukankah itu Senopati sagala kasih?. Juga Dharmapati ayutra ganda?." Adipati Gandara Fusena sangat heran melihat itu. "Bagaimana mungkin mereka bisa masuk desa ini?."
__ADS_1
Namun pandangannya teralihkan ketika ia mendengarkan suara teriakan keras dari Adipati Sanda Drajat yang terkena serangan dari Gala dan Tohpati.
"Kakang!." Adipati Gandara Fusena sangat terkejut melihat itu. Ia menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menangkap tubuh Adipati Sanda Drajat agar tidak membentur pohon yang telah siap di belakangnya.
"Kakang!. Bertahan lah kakang."
"Uhuk!."
Adipati Sanda Drajat terbatuk, memuntahkan darah, karena tubuhnya menerima serangan gaib yang sangat dahsyat.
"Tenanglah kakang,, aku akan menyalurkan tenaga dalamku padamu."
"Tidak usah adi. Sebaiknya kau gunakan tenaga dalammu untuk mengalahkan mereka."
"Tapi kakang."
"Dengarkan aku adi."
Rasanya tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk bergerak, karena serangan gaib itu seakan-akan menggerogoti tubuhnya dari dalam.
Sementara itu kedua orang agung itu sedang berhadapan dengan Hadi Gama yang sedang dikuasai oleh kemarahan yang sangat luar biasa. Senopati dan Dharmapati itu tidak sanggup menghadapi pukulan yang mereka terima saat itu.
"Uhuk!."
Keduanya sempat terbatuk setelah menerima pukulan itu.
"Kurang ajar. Ternyata dia sangat kuat sekali kakang."
"Tenanglah adi. Kita ajak dia negosiasi."
"Heh!. Kalian ternyata memiliki nyali kutu yang berani menyerang lawan dari belakang saja. Pengecut!."
"Apa yang harus kita lakukan kakang?. Sepertinya dia bukan lawan yang mudah."
"Kau tenang saja, aku telah memikirkannya."
"Apa yang kalian bisikkan?. Apakah kalian telah kehabisan akal untuk mengalahkan aku?."
"Tidak, bukan seperti itu tuan. Kami tadi sebenarnya hendak menyerang Adipati gandara fusena, tapi saya tidak menduga akan mengenai kedua teman tuan."
"Benar itu tuan, saya tidak berbohong. Musuh kami sebenarnya adalah adipati gandara fusena, karena dia telah mengambil wilayah kekuasaan kami tuan.."
"Aku tidak percaya." Bantahnya. "Jika aku lihat dari pakaian, kalian memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari orang itu. Tapi bagaimana mungkin kau mengatakan wilayah mu diambil oleh orang itu?." Tentu saja ia tidak percaya dengan itu.
"Kalau begitu akan saya tunjukkan setelah kita berhasil mengalahkan orang itu tuan." Balasnya.
__ADS_1
Next.
...***...