
...***...
Malam telah menyapa, saat itu Cakrawala dan Kusna sedang menyamar menjadi penduduk biasa yang ikutan masuk ke acara yang telah diadakan oleh kepala desa yang merasa berkuasa di daerah itu. Itu adalah perayaan penyambutan kelahiran anaknya dari istrinya yang sangat muda.
"Terima kasih telah datang."
Lalu apa hubungan mereka dengan acara itu?. Bagi seorang lurah yang memiliki nama yang cukup terkenal?. Tentu saja kadang itu membuatnya merasa terancam, apalagi dengan kondisinya yang terkenal karena memiliki banyak istri. Jadi terkadang pengawalan sangat dibutuhkan, pada saat itu ia menyewa pendekar-pendekar yang memiliki kemampuan yang sangat hebat. Dari salah satu pendekar yang ada di sana, tentu saja ada incaran yang ditargetkan oleh Cakrawala dan Kusna.
Cakrawala menepuk pelan paha Kusna, ketika ia melihat ada pendekar setengah baya yang menjadi incaran mereka saat itu.
"Nikmati saja acara ini dulu adi. Anggap saja sekalian kita sedang makan malam." Bisiknya.
"Baiklah. Jika memang seperti itu kakang."
Pada saat itu mereka benar-benar mencoba untuk berbaur dengan warga desa yang saat itu menikmati acara yang disuguhkan oleh lurah yang menyambut kelahiran anak bungsunya?.
...***...
Di Bukit Perapian Sunyi.
Wanita itu sedang memperhatikan apa yang telah dikerjakan oleh Gandara Fusena. Baginya itu terlihat sangat aneh karena Gandara Fusena melakukan gerakan yang sama sebanyak 4 kali?.
"Apakah dia sedang sembahyang?. Tapi cara yang ia kerjakan sangat berbeda sekali dengan apa yang telah aku lihat selama ini." Dalam hatinya sedang memikirkan dan membandingkan apa yang telah ia lihat selama perjalanannya sebagai seorang pendekar wanita?.
Namun setelah rasanya selesai, ia segera menegurnya, karena ia sudah tidak sabar lagi ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada orang yang telah membantunya itu.
"Sampurasun."
"Rampes."
Wanita itu duduk di tangga, karena ada perasaan sungkan yang ia rasakan jika ia duduk berhadapan dengan Gandara Fusena.
"Sebenarnya gerakan apa yang kau lakukan itu?. Sepengetahuanku gerakan sembahyang yang dilakukan pada umumnya bukan seperti itu."
"Agama yang aku anut adalah agama Islam. Mungkin yang kau lihat kebanyakan di luar sana mungkin agama Hindu atau Budha. Sehingga caranya sangat berbeda dari apa yang kau lihat sekarang kepadaku."
"Jadi andika adalah penganut agama Islam?."
"Ya, seperti itulah."
Deg!.
Wanita itu benar-benar terpesona akan senyumannya ditunjukkan oleh Gandara Fusena. Rasanya jantungnya sungguh tidak kuat melihat senyuman yang sangat menawan itu.
"Oh tidak!. Kau jangan sampai tertipu oleh penampilannya itu. Ingat yang dikatakan nini lasmi, jika sebenarnya dia sudah tua." Dalam hatinya mencoba menekan perasaan aneh itu.
"Ada apa?. Apakah kau ingin menyampaikan sesuatu kepadaku?."
"Aku, ah, saya. Saya hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada tuan yang telah membantu saya."
"Apakah kau baik-baik saja?. Aku harap nini lasmi tidak bersikap kasar kepadamu."
"Tidak. Nini lasmi sangat baik kepada saya. Luka yang saya alami telah sembuh dengan sempurna berkat bantuannya. Dan saya juga berterima kasih kepada tuan yang telah membantu saya untuk diobati di sini." Rasa gugupnya iya rasakan pada saat itu sedang menjalar ke dalam hatinya. "Sial!. Kenapa aku marah tergoda kepada penampilan kakek-kakek tua ini?. Seperti yang dikatakan oleh nini lasmi tadi. Yang salah itu adalah mataku yang melihat ke arahnya." Wanita itu semakin menundukkan wajahnya karena ia gugup dengan apa yang telah ia rasakan saat itu.
Namun pada saat itu siapa yang menduga jika Nini Lasmi menghampirinya dengan membawakan beberapa makanan untuk ia hidangkan ke Gandara Fusena.
"Dari tadi aku perhatikan kau masih saja duduk di sini. Apakah kau meragukan kemampuan aku untuk menyembuhkan anak muda ini?."
__ADS_1
"Hahaha!. Kau ini masih saja galak nini." Gandara Fusena hanya tertawa saja.
"Wajahmu terlihat sangat pucat sekali. Apakah istrimu tidak memberikan makan kepadamu?."
"Saat ini aku sedang melakukan pengembaraan."
"Oh?. Kalau begitu makanlah." Ia melihat ke arah wanita muda yang masih duduk di tangga pondok itu. "Dalam keadaan pucat seperti itu saja kau telah membuat bocah ini tersipu malu. Apalagi jika kau dalam keadaan segar bugar. Aku yakin dia akan segera menerkamu, menjadikanmu suaminya."
Deg!.
Tentu saja wanita muda itu sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Nini Lasmi. Pipinya terlihat semakin merah merona, seakan-akan apa yang telah dikatakan oleh wanita setengah baya itu sangat benar.
"Kau jangan menggodanya nini. Lagi pula aku ini sudah tua. Mana pantas aku bersanding dengan anak muda seperti dia."
"Hu!. Kau boleh saja berkata seperti itu. Tapi apakah kau bisa melihat dari gerak-geriknya jika dia telah tertarik kepadamu?. Itulah kenapa aku benci kepadamu. Karena kau sangat mudah dicintai oleh orang lain."
Gandara Fusena hanya bisa menghela nafasnya ketika ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nini Lasmi.
"Anak muda. Aku ini adalah lelaki tua, janganlah tertarik kepadaku. Masih banyak anak muda di luar sana yang akan menjadi pendamping hidupmu."
Tidak ada jawaban dari pendekar wanita muda itu karena ia benar-benar sangat malu. Ternyata Gandara Fusena mengakui jika dirinya adalah lelaki tua?.
"Hufh!." Nini Lasmi juga menghela nafasnya dengan pelan. "Lalu apa yang akan kau lakukan dengan berkeluyuran seperti itu?. Aku harap kau tidak menambah istri lagi."
Gandara Fusena mengambil makan yang telah disediakan Nini Lasmi, dan untuk beberapa saat ia tidak menjawab pertanyaan itu. Karena ia benar-benar menikmati masakan yang dihidangkan oleh wanita itu.
"Saat ini aku melakukan pengembara untuk mencari anakku." Setelah itu ia lanjut makan lagi.
"Bukankah anakmu telah lama menghilang?. Apakah kau yakin dia masih hidup?."
Tidak ada jawaban dari Gandara Fusena, pada saat itu ia sangat cemas karena dua hari ini ia tidak bermimpi lagi bertemu dengan anak muda itu.
...***...
Pendekar cakar harimau saat itu sedang berjalan menuju sebuah pondok kecil yang berada di tengah hutan. Akan tetapi pada saat itu ia menghentikan langkahnya karena ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya?.
"Hei!. Keluarlah kalian!. Aku tahu dari tadi kalian selalu memperhatikan ke arahku."
untuk sesaat tidak ada respon atau tanggapan dari orang yang ia teriaki itu. Hanya suara jangkrik atau suara katak yang mungkin bergema di sana, suara malam sebagai nada musik pertanda itu adalah alam yang terbuka.
"Kalian tidak usah bersembunyi lagi!. Aku tahu kalian sejak di acara tadi kalian sering memperhatikan ke arahku."
Tak selang beberapa lama setelah itu ada dua orang pendekar yang menggunakan topeng melompat ke arahnya.
"Akhirnya kalian keluar juga kunyuk busuk. Untuk apa kalian mendatangi aku?."
"Tentu saja aku mendatangimu untuk menghabisi nyawamu."
"Heh!. Semudah itukah kau ingin menghabisi nyawaku?. Anak kemarin sore seperti kau memangnya memiliki kepandaian apa?. Sehingga keberani mendatangi aku?."
"Aku tidak perlu memiliki kepandaian apapun untuk mendatangimu. Bagiku jurus cakar harimau kematian milikmu itu adalah jurus yang sangat mudah aku tiru."
Deg!.
Pendekar cakar harimau dan Kusna tentunya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Cakrawala.
"Semudah itukah dia melihat jurus yang ada di dalam diri seseorang?." Dalam hati Kusna sangat terkejut dan bahkan ia hampir melotot melihat ke arah adiknya itu.
__ADS_1
"Bajing busuk!. Setan alas!. Bagaimana mungkin kau bisa mengetahui jurus yang aku miliki?!. Apakah kau sedang ingin menguji kemampuan yang aku miliki?!." Pendekar cakar harimau mengambil ancang-ancang.
Tentu saja ia sangat marah pada karena anak muda yang bertopeng hitam serba pakaian hitam itu telah mengetahui jurus kematian yang ia miliki?.
"Kami tidak perlu berbasa-basi lagi. Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan kepada ayahku hadi gama, dan saudara-saudaranya di masa lalu." Cakrawala pada saat itu juga mengambil ancang-ancang untuk waspada jika lelaki tua itu hendak menyerangnya.
"Jadi kau anaknya pendekar cacat yang tidak berguna itu?. Bagus sekali jika kau ingin mengantarkan nyawamu kepadaku."
"Kakang. Dia telah berani menghina ayah kita. Akan aku bunuh dia."
"Kau benar adi. Kita tidak akan pernah mengampuni orang yang telah berani menghina ayah kita."
"Kalau begitu majulah."
Setelah berkata seperti itu mereka benar-benar bertarung dengan sangat sengitnya. Tiga orang pendekar yang memiliki kemampuan yang sangat hebat telah mengadu ilmu keluarganya mereka miliki.
"Meskipun usiaku sudah tua dan tubuhku hampir tua rentan seperti ini?. Kalian tidak akan bisa meremehkan kemampuan yang aku miliki." Ucapnya sambil menangkis beberapa pukulan dan tendangan yang datang ke arah tubuhnya yang mulai rentan itu. Akan tetapi semangat bertarungnya pada malam itu tidak runtuh sedikitpun walaupun dua anak muda yang menyerangnya.
"Kau tidak usah menghibur diri orang tua. Katakan saja kepada tubuhmu yang sudah tua rentan itu bahwa kau tidak sanggup lagi untuk bertarung." Cakrawala menghadiahi beberapa tendangan dan pukulan ke arah orang tua itu.
"Mulutmu benar-benar kurang ajar anak muda." Pendekar cakar harimau tentu saja merasa tersinggung dengan apa yang telah dikatakan oleh Cakrawala. Sehingga ia mengalirkan hawa murninya ke tangannya, membuat pukulan tenaga dalamnya bertambah di telapak tangannya.
Pada saat itu Cakrawala dibuat mundur dengan pukulan Palu batu yang cukup kuat. Akan tetapi pada saat itu Kusna tidak tinggal diam saja. Ia hampir saja menghajar kepala pendekar cakar harimau dengan sebuah tendangan, namun sayangnya pendekar cakar harimau menyadari serangan itu sehingga ia menundukkan kepalanya. Ketika ia berjongkok ia hampir saja memukul kaki Kusna yang sebelahnya masih melayang di udara.
"Hyah!." Kusna menyadari pukulan kuat itu yang hampir saja mengenai lututnya, jika saja dia tidak segera melompat dan mundur dengan melompat salto.
"Heh!. Itu baru saja pukulanku. Belum cakar harimau kematian yang aku berikan kepada kalian." Dari raut wajahnya ia terlihat sangat bangga dengan apa yang telah ia lakukan pada saat. "Ternyata kalian memang hanya besar mulut saja. Anak muda zaman sekarang memang kurang ajar!. Hanya bisa berbicara tanpa membuktikan bahwa ilmu kanuragan yang mereka miliki hanyalah seujung kuku saja."
Tidak ada tanggapan dari kedua anak muda itu selain hanya menatap bosan kepada orang tua yang membanggakan dirinya. Tidak mau berlama-lama mendengarkan kesombongan yang dikatakan oleh pendekar cakar harimau, keduanya maju bersamaan. Keduanya menyerang dengan pukulan bertubi-tubi dan bahkan tendangan yang bertenaga pula.
"Kurang ajar!. Bagaimana mungkin mereka memiliki pukulan dan tendangan yang bertenaga seperti ini?." Dalam hatinya sedikit panik dengan kekuatan yang dimiliki oleh kedua anak muda itu. Tubuhnya terasa sedikit sakit menerima pukulan bertenaga itu, walaupun ia telah membentengi tubuhnya dengan kekuatan tenaga dalamnya.
Karena tidak terima hanya menerima serangan dari dua orang pendekar muda itu?. Pendekar cakar harimau mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghalau mereka agar menjauhinya untuk sesaat. Dan benar saja, Cakrawala dan Kusna melompat menjauh beberapa meter dari pendekar cakar harimau.
"Ternyata dia telah menggunakan hawa cakar harimaunya kakang." Cakrawala dapat merasakan bagaimana hawa cakar harimau yang hampir saja merobek kulitnya itu.
"Sepertinya dia mulai serius adi. Kalau begitu kita juga akan serius menghadapi orang tua itu." Kusna juga dapat merasakan bagaimana hawa cakar harimau yang sifatnya merusak.
"Heh!. Sepertinya kalian ingin merasakan bagaimana jurus cakar harimau yang aku miliki." Kepercayaan diri yang ia miliki pada saat itu tak kembali lagi. "Dengan senang hati aku akan menunjukkan kepada kalian bagaimana ganasnya jurusnya kalau harimau yang aku miliki."
Pada malam hari yang sunyi itu, terdengar gebrakan pukulan dan ada hawa auman harimau yang tercipta dari jurus cakar harimau kematian yang dilakukan oleh pendekar cakar harimau itu. Tapi apakah dengan jurus itu ia mampu mengalahkan Cakrawala dan Kusna?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadinya.
...***...
Bukit Kegelapan.
Saat itu Nini Asmara Tanjung menatap tajam ke arah suaminya itu. Sejak ia pulang, wanita itu tidak pernah melihatnya dengan senyuman ataupun memperlakukannya dengan baik.
"Kita telah lama hidup bersama. Dan kau bahkan juga mengetahui tujuanku membesarkan anak itu untuk apa?. Jadi kau tidak usah memperlakukan aku seperti itu." Dengan memberanikan dirinya ia menatap tajam ke arah istrinya itu.
"Aku hanya sakit hati saja. Kakang telah menjauhkan aku dari anakku."
"Dia bukan anakmu, atau juga anakku. Aku telah membesarkan anak harimau yang akan aku gunakan untuk membunuh ayahnya."
"Itu karena kakang sakit hati saja kepada orang tuanya. Padahal aku sangat menyayangi anak baik hati itu." Ia ungkapkan apa yang ia rasakan pada saat itu. "Kakang tahu sendiri, bagiku dia adalah anakku. Aku tidak ingin berpisah darinya."
"Sudahlah nini. Ini sudah malam, aku sedang malas baru debat denganmu." Setelah itu ia pergi meninggalkan istrinya yang masih tampak kesal kepadanya. "Aku tidak peduli apapun yang kau rasakan terhadap cakrawala. Bagiku dia hanyalah alat untuk balas dendamku kepada orang tuanya." Hanya seperti itu yang tertanam dalam pikirannya sejak ia menculik anak itu.
__ADS_1
"Aku harap suatu saat nanti dia akan kembali dengan selamat." Hanya itulah doa yang selalu ia ucapkan di dalam hatinya. Karena ia begitu mencintai Cakrawala dengan segenap hati dan perasaannya sebagai seorang ibu.
...*** ...