
...***...
Bukit Kegelapan.
Walaupun telah larut malam, namun Tadakara dan Gala masih saja menunjukkan kemampuan yang mereka miliki. walaupun keringat telah membasahi tubuh mereka. Pukulan dan tendangan dari dasar gerakan silat mereka gunakan untuk saling menyerang satu sama lain, dan bahkan disertai dengan aliran tenaga dalam mereka yang masih sangat hebat, walaupun nada beberapa fisik mereka yang saat ini masih terluka, namun itu tidak membuat keduanya menghentikan pertarungan itu.
"Sebenarnya taraka itu hebat dalam ilmu sukma untuk menyentuh lawan melalui alam sukma. Tapi kenapa saat mencoba pada adipati kurang ajar itu selalu saja gagal?." Dalam hati Hadi Gama masih ingat dengan apa yang telah mereka coba saat itu, bahkan Gala yang memiliki tingkat ilmu sihir pun tidak bisa melakukannya." Baginya itu hal yang sangat membingungkan. "Seberapa tinggi ilmu kanuragan yang dimiliki adipati bedebah itu?. Bahkan ketika kami serang melalui alam sukma pun dia masih saja kuat?." Hatinya masih memikirkan itu. "Jika aku tidak bisa menyentuhnya dengan cara itu, maka akan aku bunuh dia melalui anaknya, akan aku bunuh dia dengan jurus membuka mata batin mencuri jurus kegelapan lawan melalui anaknya sendiri." Hanya itu saja yang ia ingat saat itu.
"Kakang hadi gama?."
Mereka sangat heran kenapa tatapan matanya sangat jauh?. Apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu?. Sehingga ia terlihat melamun sangat jauh?.
"Kami telah selesai berlatih kakang, apakah kakang tidak ingin istirahat?."
"Kalian istirahat saja dahulu, aku masih mau duduk di sini."
"Kalau begitu kami istirahat dulu kakang."
"Saya masuk dulu ayah."
Setelah itu mereka semua masuk ke dalam gubuk itu, meninggalkan Hadi Gama yang sedang memikirkan cara agar dapat mengalahkan Adipati Gandara Fusena yang telah membuat ia kehilangan sebagian dari tenaga dalamnya, serta jurus yang ia kuasai. Apakah dendam masih akan bersarang di dalam tubuhnya yang semakin lama semakin mati rasa?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Sementara itu.
__ADS_1
Gandara Fusena seperti sedang duduk di depan api unggun, hanya sendirian saja?.
"Apa yang harus aku lakukan?. Dengan cara seperti apa lagi aku harus menemukannya?." Dalam hatinya sangat gelisah memikirkan itu, namun tangannya masih mendorong bara yang hampir keluar dengan menggunakan kayu kecil. "Aku hanya berharap, jika anakku masih hidup, dan aku bisa membawanya kembali lagi." Dalam hatinya sangat takut memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa anaknya saat bersama para pendekar yang memiliki watak yang sangat jahat.
"Kenapa tuan terlihat sangat sedih sekali?. Apakah tuan memiliki masalah?."
Deg!.
"Kenapa tuan selalu tampak sedih setiap kita bertemu?."
"Raut wajah itu, sangat mirip sekali dengan aku, dan suara itu sangat mirip sekali dengan nini besari." Dalam hatinya sedang menatap lekat wajah pemuda yang tampak cemas.
"Apakah tuan memiliki masalah yang sangat besar?. Sehingga tuan selalu tampak bersedih?. Apakah tuan tidak mau mengatakan pada saya?. Masalah apa yang tuan hadapi?."
Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkannya, namun belum ada tanggapan sama sekali dari Gandara Fusena. Entah bisikan dari mana, saat itu ia mencoba mendekati anak muda itu. Ia sangat ingin menyentuh anak muda itu, ia hanya ingin memastikan apakah anak muda itu adalah anaknya atau tidak. Akan tetapi, saat ia hendak menyentuh
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Saat ia terbangun, perasaanya sungguh sangat tidka karuan sama sekali. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, air matanya menetes begitu saja untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. "Apakah benar?. Anak muda itu adalah anakku?." Dalam hatinya hanya bisa berharap saja. "Tapi kenapa?. ketika aku hendak menyentuhnya?. Anak muda itu menghilang?." Kembali hatinya merasakan perasaan yang sangat tidak enak sama sekali.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Cakrawala juga terbangun dari tidurnya. Saat itu ia ingat dengan apa yang telah ia alami saat tidur?.
"Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa ketika tuan itu hendak memelukku?. Aku merasakan ada seseorang yang sedang berusaha untuk menarik aku menjauh darinya?." Itulah yang membuat ia bingung. "Tapi siapa paman itu ya?. Kenapa dia memiliki wajah yang sama dengan aku?. Kenapa dia terlihat sangat sedih ketika aku bertemu dengannya melalui alam mimpi?. Siapa dia sebenarnya?." Dalam hati Cakrawala sangat bingung dengan mimpi itu. "Rasanya sangat aneh sekali, kenapa aku seperti sangat ingin dekat dengannya. Dan kenapa aku malah menangis?." Cakrawala merasa sedih, hingga tanpa sadar air matanya telah jatuh, membasahi pipinya. Cakrawala sungguh tidak mengerti dengan apa yang ia alami akhir-akhir ini.
Tiga hari telah berlalu, dan saat itu Hadi Gama dan yang lainnya menunggu Cakrawala keluar dari pondok itu.
"Ibu telah mengajarimu ilmu kanuragan yang dapat kau gunakan untuk menahan hawa jahat yang mungkin akan menggerogoti tubuhmu, jadi jangan sampai lupa kau gunakan itu semua."
__ADS_1
"Tentu saja ibu. Terima kasih untuk semuanya."
"Kalau begitu aku yang akan mengantarmu keluar."
Setelah itu mereka keluar dari dalam gubuk itu, dan mereka tidak terkejut lagi dengan kedatangan Hadi Gama dan yang lainnya.
"Ini sudah-."
"Kau tidak usah mengingatkan aku tadakara. Aku adalah wanita yang tidak mengingkari janji yang telah aku katakan."
"Bagus kalau begitu nini."
"Tapi kau harus ingat tadakara, aku akan membunuh kalian semua, jika terjadi lagi hal yang sama pada cakra."
"Nini tenang saja, kami akan menjamin kesehatannya."
"Bagus kalau begitu."
"Kalau begitu kita pergi."
Ketika mereka hendak meninggalkan tempat itu?. Tangan Cakrawala digenggam sangat kuat oleh Nini Asmara Tanjung, dan bahkan ia peluk Cakrawala dengan sangat eratnya. Tentunya itu membuat mereka semua terkejut, termasuk Cakrawala.
"Aku akan merindukanmu cakra. Kembalilah jika kau merasa rindu padaku." Ia lepaskan pelukannya, dan saat itu ia lepaskan ikat kepala milik Cakrawala. Namun setelah itu ia ambil yang baru dari kantongnya. "Aku buatkan ikat kepala ini untukmu, supaya kau menjadi pendekar yang agak dan tangguh. Jangan sampai kau lepaskan ikat kepala ini, ya?." Dengan penuh kelembutan ia berkata seperti itu. Tentunya sambil menahan air matanya supaya tidak menetes begitu saja.
"Tentu saja ibu. Akan saya pakai terus ikat kepala pemberian dari ibu. Terima kasih ibu." Cakra juga sedang berusaha untuk menahan kesedihan yang ia rasakan.
__ADS_1
Nini Asmara Tanjung menangkup pipi anaknya, ia pandangi wajah gagah anaknya dengan lembut, setelah itu ia peluk kembali. "Hati-hati lah nak, jika terjadi sesuatu padamu?. Maka kembalilah pada ibu." Sungguh terasa sangat berat baginya untuk berpisah.
...***...