
...***...
Pada saat itu mereka masih melakukan pertarungan walaupun di tengah malam. Pertarungan itu seakan-akan tidak ada hentinya, tenaga mereka seperti tenaga kuda yang selalu digunakan untuk berperang. Kebetulan Cakrawala dan Kusna saat itu telah sampai di mana mereka masih melakukan pertarungan itu. Pada saat itu mereka sama sekali belum bergabung karena mereka mengamati apa yang sedang terjadi di hadapan mereka saat itu. Tentu saja mereka tidak bisa bergabung begitu saja, karena pertarungan itu benar-benar sangat pertarungan yang tidak manusiawi sama sekali.
"Ternyata mereka semua masih bertarung walaupun ini sudah malam. Hanya diterangi bulan saja, tapi pertarungan mereka sangat kuat sekali. Meskipun tanpa pencahayaan yang terang mereka masih bisa melihat keberadaan musuh mereka." Kusna sedikit merasa kagum dengan mereka semua.
Cakrawala pada saat itu mengamati bagaimana orang tua yang bertarung menghadapi banyak musuh itu. Apalagi matanya saat itu menangkap banyak mayat yang bergelimpangan di sana.
Deg!.
Cakrawala sangat terkejut ketika matanya melihat ada sesuatu yang aneh dengan kakek tua itu. Matanya menangkap sosok tua yang sama sekali sangat berbeda dengan manusia lainnya. Tiba-tiba saja ia melangkahkan kakinya untuk keluar, dan dengan suara yang sangat keras ia berteriak.
"Hei!. Kalian semua hentikan!."
Suara keras dari Cakrawala cukup menghentikan mereka untuk bertarung. Mereka semua melihat ke arahnya karena penasaran siapa yang telah berani menghentikan pertarungan mereka.
"Apa yang kau katakan adi?." Kusna sedikit khawatir dengan apa yang telah dilakukan oleh adiknya itu.
"Apa yang kau katakan anak muda?." Seorang pendekar dengan raut wajah yang sangat gahar terlihat sangat marah. "Kenapa kau malah menghentikan pertarungan kami?." Tampaknya ia sama sekali tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Cakrawala. "Kemampuan seperti apa yang kau miliki?. Sehingga kau berani menghentikan kami anak muda?." Bahkan dia mempertanyakan kemampuan apa yang dimiliki oleh Cakrawala sehingga ia berani menghentikan pertarungan itu.
"Aku memang tidak memiliki kemampuan apapun untuk menghentikan pertarungan kalian yang seperti orang kesurupan." Cakrawala sedikit merendahkan diri. Karena apa yang ia amati memang seperti itulah kenyataannya. Mereka bertarung seperti orang kesurupan untuk mengalahkan orang tua itu. "Namun yang harus kalian ketahui adalah, orang yang kalian hadapi itu sudah lama mati." Cakrawala menunjuk ke arah orang tua yang tampak segar bugar walaupun telah bertarung dengan puluhan pendekar. "Dan sekarang ia hanyalah sukma yang sedang gentayangan. Itulah kenapa alasan dia terlihat baik-baik saja walaupun kalian telah bertarung darah dengannya."
__ADS_1
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Cakrawala. Bagaimana mungkin anak muda itu bisa mengatakan hal yang mengejutkan seperti itu?. Ucapan yang sangat mustahil dikatakan oleh orang normal.
"Bangsat!. Kau jangan mengarang cerita anak muda!." Pendekar cambuk setan sepertinya sangat marah dan emosi.
"Jika kau memiliki nyali yang cukup besar untuk mengarang cerita?. Kenapa kau tidak maju saja?." Begitu pula jangan pendekar pukulan penghancur karang.
"Tapi apa yang dikatakan oleh anak muda itu benar." Akan tetapi ada seorang pendekar yang baru saja bergabung dengan mereka. "Apa yang dikatakan anak muda itu benar. Orang tua itu telah lama mati!. Dan dia sekarang hanyalah sukma saja."
"Bajing busuk!. Setan alas mana lagi yang ikut campur dalam urusan kami?." Pendekar pedang pelebur maya tampak tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh pendekar asing itu.
"Sebaiknya kau menjauh dari sini jika rasanya tidak ingin membantu kami untuk membinasakan setan busuk itu!." Pendekar pukulan penghancur karang sangat kesal, tentunya ia sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan kedua orang pendekar asing itu.
"Tapi apa yang kami katakan itu benar. Apakah kalian tidak dengar apa yang telah dikatakan anak muda itu?. Bahwa orang itu telah lama tewas." Cakrawala masih mengatakan hal yang sama. "Harusnya kalian mengetahui, jika orang itu sama sekali tidak kelelahan sama sekali ketika berhadapan dengan kalian. Apakah kalian tidak menyadari itu dengan pengamatan kalian?." Harus dengan cara apa lagi ia mengatakan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan adalah suatu kebenaran.
"Orang tua itu memang telah tewas, dan seharusnya kalian tidak bertarung dengan orang yang telah mati. Tentu saja kalian yang akan mengalami kerugian."
"Diam kau!."
"Kau dan anak muda itu sepertinya sedang bersekongkol ingin menikmati kematian orang tua busuk itu."
__ADS_1
"Jika kau memiliki kemampuan yang lebih?. Kenapa kau tidak maju saja untuk mengalahkannya. Jangan banyak bicara dari kejauhan."
"Ya, jangan asal bicara saja jika kau sama sekali tidak mengetahui bagaimana orang dewasa membunuh anak kecil."
Tampaknya mereka sama sekali tidak senang dengan apa yang telah dikatakan oleh Cakrawala dan pendekar asing itu. Pendekar yang menggunakan topi seorang petani atau topi caping. Sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali, itulah yang menyebabkan mereka sangat benci dengan itu.
"Kalau begitu akan aku tunjukkan kepada kalian semua, bahwa orang yang kalian lawan sebenarnya sudah sangat lama meninggal dunia." Pendekar asing sama sekali tidak diketahui identitasnya itu, mencoba membuktikan kepada mereka bahwa orang tua itu telah lama tewas?.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan kepadanya?. Ujung-ujungnya juga kok kan bertarung dengannya, bangsat!."
Akan tetapi pada saat itu pendekar asing merasa tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh pendekar cambuk setan.
Pendekar asing itu menghela nafasnya sejenak, setelah itu ia kumandangkan adzan dengan suara yang sangat merdu. Akan tetapi apa yang terjadi pada saat itu?. Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah terjadi pada orang tua itu. Orang tua itu tiba-tiba saja berteriak dengan sangat kerasnya seperti orang yang sedang kesakitan.
Deg!.
Pada saat itu mereka semua melihat bagaimana perubahan yang terjadi kepada orang tua itu. Orang tua itu berubah menjadi wujud yang buruk rupa.
"Hentikan!." Orang tua itu berteriak kesakitan sambil berguling-guling di tanah. Ia sungguh tidak tahan dengan suara adzan itu bahkan dengan beberapa ayat yang telah dibacakan oleh pendekar bertopi caping. "Aku bilang hentikan!." Orang tua yang buruk rupa itu mencoba menyerang pendekar topi caping, akan tetapi orang tua itu sama sekali tidak bisa menyentuhnya. Tubuhnya semakin terasa panas ketika ia mendengarkan bacaan ayat Alquran. Tak lama berselang tubuh orang tua itu menghilang entah ke mana. Tentu saja mereka sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh pendekar bertopi caping.
Next?.
__ADS_1
...***...