BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 24


__ADS_3

...***...


Malam yang sunyi itu telah diisi dengan suara pertarungan yang sangat dahsyat. Ketiga pendekar yang memiliki tenaga dalam yang sangat dahsyat itu telah menggunakan kekuatan mereka, untuk menjatuhkan musuhnya.


Pada saat itu mereka terlihat terengah-engah karena dampak pertarungan itu. Kesalahan tenaga mereka mulai terkuras karena pertarungan yang tak ada habis-habisnya.


"Sial!. Kali ini aku benar-benar telah menggunakan tenaga dalamku dengan jumlah yang sangat banyak. Ternyata kalian bukan anak kemarin sore yang biasa." Nafasnya hampir saja putus ketika ia berkata seperti itu.


"Meskipun kami anak kemarin sore. Namun bukan berarti menghadapimu kami menggunakan kemampuan yang masih mentah."


"Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan kepada ayahku di masa lalu. Kau telah menghina harga diri ayahku. Jadi kau harus menerima apa yang telah kau lakukan pada ayahku." Cakrawala pada saat itu terlihat sangat marah dan kesal.


"Heh!. Aku akui kau memiliki kekuatan tenaga dalam yang cukup kuat. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan siapapun juga membunuh aku dengan sangat mudahnya." Setelah berkata seperti itu ia kembali memainkan jurus cakar harimau kematian miliknya.


"Kakang. Serahkan sisanya padaku." Cakrawala pada saat itu membuka mata batinnya untuk meniru jurus kegelapan yang dimiliki oleh musuhnya.


"Berhati-hatilah adi cakra." Kusna mundur menjauh, karena pada saat itu ia merasakan ada hawa jahat hitam yang menyelimuti tubuh adiknya itu.


Hawa hitam jahat itu tentunya bukan hawa hitam biasa, karena hawa hitam itu dapat menggerogoti tubuh siapa saja yang memiliki ilmu kanuragan yang rendah daripada penggunanya.


"Kurang ajar!. Apa yang sedang dia lakukan?." Pendek kerja keras harimau sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat pada saat itu. "Hawa hitam apa itu?."


Deg!.


Tanda kerjakan harimau semakin terkejut dengan apa yang ia lihat. "Kau berani mencuri jurus cakar harimau kematian milikku?." Hatinya sangat panas ketika ia mengenali jurus apa yang telah dimainkan oleh Cakrawala. Sebagai pendekar jurus cakar harimau kematian yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun?. "Bedebah busuk!. Berani sekali kau memainkan jurus milikku itu!." Hatinya sungguh sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Cakrawala.


Dengan emosi yang sangat membara ia memainkan jurus andalannya itu ia serang Cakrawala dengan membabi-buta. Sedangkan Cakrawala sendiri tentunya dengan jurus yang ia tiru itu balik menyerang. Pertarungan sengit terjadi kembali antara kedua pendekar hitam yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Keduanya menggunakan jurus yang sama, sehingga pada saat itu mereka seperti sedang bertarung di depan cermin. Jurus itu hitam yang berasal dari kekuatan cakar harimau kematian itu sungguh sangat luar biasa. Apalagi jurus itu dimainkan oleh Cakrawala yang memiliki kemampuan yang sangat tidak biasa.


"Celaka!. Tubuhku benar-benar sangat sakit. Kenapa jurus cakar harimau kematian yang dia mainkan berbeda?." Dalam hati pendekar cakar harimau kematian mulai panik.


"Adi cakra memang sangat hebat. Bagaimana bisa dia mempelajari jurus itu dengan sangat singkat?. Bahkan aku sama sekali tidak bisa meniru jurus itu." Dalam hati Kusna sangat heran dengan apa yang ia amati.


"Kegh!. Ternyata jurus ini mengandung racun yang dapat melumpuhkan syaraf seseorang. Pantas saja dia dengan ganasnya memainkan jurus ini." Dalam hati Cakrawala dapat merasakan tubuhnya yang perlahan-lahan mulai kebas.


"Kurang ajar!. Tubuhku terasa semakin sakit." Dalam hati pendekar cakar harimau semakin panik.


Saat itu mereka sama-sama melompat, sambil memainkan jurus cakar harimau kematian yang mereka arahkan ke musuh. Hawa cakar harimau kematian masuk ke dalam tubuh mereka, menghasilkan ledakan kekutan tenaga dalam yang sangat dalam, dan saat itu tubuh keduanya terlempar.


"Adi cakra!." Kusna langsung menyambar tubuh Cakrawala agar tidak membentur pohon. Sedangkan pendekar cakar harimau benar-benar membentur kuat pohon yang ada di belakangnya, sehingga ia mengalami luka yang sangat parah.


Namun di saat yang bersamaan, ketika Cakrawala mendapatkan serangan itu?. Gandara Fusena dan istrinya Besari Candramaya mendapatkan firasat yang sangat buruk. Keduanya terbangun dari tidur dengan keadaan yang sangat gelisah luar biasa.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Keduanya hanya mampu mengucapkan kalimat itu untuk menenangkan hati mereka yang tiba-tiba saja gelisah.


"Ya Allah. Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa ada perasaan sakit yang hamba rasakan?." Besari Candramaya tidak mengerti dengan perasaan gelisah itu.


"Ya Allah. Apakah terjadi sesuatu terhadap keluarga hamba?." Dalam hati Gandara Fusena sedang memikirkan apa yang membuat ia terbangun dalam keadaan yang sangat aneh seperti itu. "Tadi hamba melihat sosok hitam yang seperti habis bertarung, dan ia mengalami luka yang parah setelah menerima seseorang. Apakah itu hanya perasaan cemas saja?." Dalam hatinya semakin bingung dengan penglihatannya tadi. "Aku harap ini hanyalah mimpi saja." Ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Setelah itu ia beranjak dari pondok itu, karena ia akan melaksanakan sholat subuh.


Begitu juga dengan Besari Candramaya, ia bahkan membangunkan anak gadisnya untuk melaksanakan sholat subuh. Dan setelah itu mereka sama-sama berdo'a.


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, ampunilah dosa hamba, dosa anak dan istri hamba, dosa kedua orang tua hamba, dan dosa orang-orang muslim. Hamba mohon kepada-Mu ya Allah, apa yang terjadi sebenarnya?. Apa makna dari mimpi yang hamba lihat itu ya Allah?." Itulah do'a yang telah diucapkan oleh Gandara Fusena.

__ADS_1


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, hamba memohon kepada-Mu ya Rabb. Berikanlah kemudahan kepada kakang gandara fusena untuk menemukan keberadaan anak kami ya Allah. Hamba benar-benar sangat takut, Jika anak hamba dan dibesarkan untuk melakukan kejahatan." Hatinya sangat sedih dengan bayangan yang melintas di dalam pikirannya saat itu. Tangisannya keluar begitu saja kala ia membayangkan bagaimana ganasnya dunia hitam yang pernah ia hadapi pada masa itu. Hatinya semakin sakit, dan ia sama sekali tidak bisa tenang. "Hamba sangat memohon kepada-Mu. Selamatkan anak hamba dari dunia hitam. Hanya kepada-Mu lah hamba memohon ya Allah." Tangisnya pecah, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi. "Ibu." Halwa Candramaya memeluk ibunya dengan perasaan yang sangat cemas. "Ibu kenapa menangis?. Apakah ibu merindukan ayah?!." Ucapan itu begitu polos, namun Mengandung perasaan cemas yang sangat murni.


Besari memeluk anaknya dia belum mampu menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bisa menangis saja kala itu. Hatinya sedang sakit, karena hingga sekarang suaminya belum menemukan keberadaan anaknya. 15 tahun bukanlah waktu yang singkat, dan bahkan dalam rasa sakit yang ia rasakan?. Ia hampir saja lupa caranya menjadi seorang pendekar, pikirannya bukan hanya fokus menjadi seorang ibu dan istri saja. Namun pikirannya selalu membayangkan tentang anaknya


"Apakah putraku masih hidup?. Jangan-jangan mereka membunuh anakku?. Atau mereka membesarkan anakku untuk melakukan kejahatan?." Ketakutan-ketakutan seperti itulah yang tercipta dari pikirannya. Bagaimana ia tidak merasakan bagaimana sakit yang luar biasa di setiap harinya. Namun terkadang demi putri yang ia cintai, ia berusaha bersikap tabah menghadapi itu semua. Meskipun kadang suaminya selama ini kadang melakukan pengembaraan untuk mengetahui kebenaran anaknya. Dan sekarang suaminya kembali melakukan pengembaraan untuk memastikan sekali lagi, apakah anaknya benar-benar masih hidup atau tidak.


***


Pagi harinya.


Gandara Fusena pada saat itu pamitan kepada mereka.


"Aku akan meneruskan perjalananku. Jika kau masih kerasan berada di sini?. Kau bisa belajar banyak tentangnya tentang ilmu pengobatan padanya."


"Berani sekali kau berkata seperti itu!."


"Nini jangan pelit dalam berbagi ilmu pengetahuan tentang pengobatan. Angkatlah dia sebagai muridmu, mungkin suatu saat nanti dia akan membantu orang lain juga."


"Hmph!."


Mereka hanya memahami bagaimana sikap yang telah ditunjukkan oleh Nini Lasmi. Sebenarnya wanita itu adalah orang yang baik, namun yang menunjukkannya dengan cara yang berbeda.


"Kalau begitu aku pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Gandara Fusena benar-benar meninggalkan tempat itu. Tentu saja ia ingin melanjutkan perjalanannya sebagai seorang pengembara yang sedang mencari keberadaan anaknya.


"Cinta itu kadang memang terasa sangat menyakitkan. Datang dan pergi sesuka hati, datang membawa kebahagiaan dan pergi menimbulkan luka."


Seperti itulah yang mereka rasakan pada saat itu, mereka merasakan cinta yang sangat menyakitkan kepada orang yang tidak bisa mereka miliki.


***


Cakrawala baru saja terbangun setelah ia merasakan kembali bagaimana kondisi tubuh yang saat itu. Perlahan-lahan ia mengatur hawa murninya, setelah itu ia melakukan jurus pemurnian tenaga dalamnya. Kusna hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh adiknya itu.


"Sungguh beruntung sekali dia. Meskipun telah menyerap hawa kegelapan dari musuhnya?. Namun kondisinya bisa cepat pulang dengan sempurna. Itu karena dia dibekali dengan ilmu kanuragan sangat baik dari ibu." Saat itu terbersih perasaan ini di hatinya.


Saat itu pula ia teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh ayahnya. "Cakrawala memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh anak lain. Meskipun dia menyerap hawa kegelapan tenaga dalam murni musuhnya, ada kalanya tubuhnya itu memerlukan semua hawa kegelapan itu dengan otomatis. Seakan-akan ada tenaga dalam yang menolak bahwa jahat di dalam tubuhnya. Hanya tergantung kepadanya bagaimana caranya ia mengatasi hawa hitam itu."


Ucapan ayahnya pada saat itu benar-benar membuat ia merasa kagum kepada adiknya itu. Dan benar saja, tidak perlu memakan waktu yang lama Cakrawala terlihat segar kembali.


"Kau sangat luar biasa sekali adi. Kau bisa menyembuhkan dirimu dengan menggunakan ilmu kanuragan yang telah diajarkan oleh ibu?."


"Ini masih belum sembuh dengan sempurna kakang. Setidaknya aku membutuhkan dua hari untuk menyempurnakan kesembuhan tenaga dalam ku kakang."


"Kalau begitu kita cari tempat beristirahat yang aman untuk sementara waktu. Setelah itu kita cari target berikutnya."


"Ya. Terima kasih atas pengertiannya kakang."


"Sama-sama adi."

__ADS_1


Setelah itu mereka benar-benar istirahat dengan santainya. Karena tidak mungkin bagi mereka untuk meneruskan perjalanan jika kondisi tubuh mereka masih.


***


Sementara itu Besari Candramaya sedang memperhatikan anaknya yang saat itu sedang berlatih ilmu kenuragan di halaman rumahnya. Lintasan pikirannya pada saat itu membayangkan jika anak laki-lakinya yang sedang berlatih saat itu bersama adiknya.


"Andai saja kau masih ada di sini bersama kami?. Aku pasti akan menjadi seorang ibu yang sangat bahagia di dunia ini. Karena aku memiliki sepasang anak yang terhebat." Dalam hatinya sedang membayangkan semua itu terjadi. Namun bayangan masa lalu ketika anaknya diculik itulah yang membuat hatinya sangat sakit.


Kembali ke masa lalu.


Saat itu ia sedang menimang-nimang anaknya dengan penuh kasih sayang dengan pelukannya yang hangat.


"Anak ibu memang gagah, sangat tampan sekali." Habis-habisnya ia memuji wajah lucu anaknya itu.


Akan tetapi pada saat itu ia sangat terkejut ketika ada seseorang yang menyambar tubuh anaknya dengan sangat cepat dari dekapannya.


"Hei!. Apa yang telah kau lakukan?." Suasana hatinya sangat gelisah ketika ia melihat ada enam orang pendekar yang menghadangnya pada saat itu.


"Hahaha!. Anak ini akan kami ambil."


Mereka terlihat tertawa puas dengan apa yang telah mereka lakukan. Dan Adipati Gandara Fusena melompat dari dalam rumahnya, karena ia menyadari adanya ancaman bahaya yang akan menimpa keluarganya.


"Bukankah kalian adalah pendekar yang pernah aku kalahkan pada saat itu?."


"Ternyata ingatanmu masih kuat. Bagus sekali jika memang seperti itu."


Adipati Gandara Fusena sangat terkejut dengan apa yang ia lihat pada saat itu. Ia sama sekali tidak menduga, jika mereka semua masih memiliki dendam terhadapnya.


"Kembalikan anakku. Aku tidak akan pernah mengampuni kalian, jika kalian berani melakukan sesuatu terhadap anakku."


Akan tetapi pada saat itu mereka malah tertawa keras mendengarkan ancaman itu.


"Apakah kakang mengenali mereka?." Besari Candramaya sangat cemas dengan kondisi yang seperti itu.


"Nanti aku jelaskan nini. Kita harus berhasil merebut kembali anak kita. Mereka bukanlah pendekar yang memiliki perasaan terhadap siapapun juga."


Adipati Gandara Fusena benar-benar harus waspada dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap anaknya.


"Kau tenang saja adipati. Kami tidak akan membunuh anakmu. Kami akan membesarkan anakmu dengan menggemblemnya dengan ilmu kanuragan hitam yang kami miliki." Hadi Gama menyeringai penuh kemenangan. "Kelak anak inilah yang akan kami gunakan untuk membunuhmu." Ucapnya dengan tertawa yang sangat keras.


"Kurang ajar!. Berani sekali kamu memiliki niat buruk seperti itu terhadap anakku." Besari Candramaya langsung emosi ketika ia mendengarkan ucapan itu. "Kalianlah yang akan aku bunuh saat ini juga." Ia mulai menyerang salah satu dari mereka.


"Nini!." Adipati Gandara Fusena tentunya tidak akan diam begitu saja ketika melihat istrinya bertarung berhadapan dengan pendekar golongan hitam.


Pada saat itu halaman rumah Adipati Gandara Fusena benar-benar dihiasi dengan pertarungan yang sangat menegangkan. Di mana kedua pasangan suami istri itu mengeluarkan berbahaya untuk menghadapi pendekar golongan hitam.


Kembali ke masa ini.


Itulah yang diingat oleh Besari Candramaya tentang anaknya yang dibawa lari oleh pendekar golongan hitam. Apakah bisa ditemukan?.


...***...

__ADS_1


__ADS_2